Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "riza arshad"

JazzAhead! 2011 Overseas Night

Tags: , , , , , , , ,


Salah satu iklan JazzAhead2011 didepan Centrum station

Salah satu iklan JazzAhead2011 didepan Centrum station

Cuaca Bremen, Jerman cukup bersahabat ketika menjejakkan kaki di Congress Center Bremen (CCB), gedung dengan empat lantai yang menjadi pusat penyelenggaraan acara JazzAhead! mulai tanggal 28 April hingga 1 Mei 2011.

Salah satu mata acara yang penting diawal acara ini adalah Overseas Night, dimana empat negara yaitu Kanada, Australia, Brazil dan Indonesia mendapat kesempatan menyertakan kelompok Jazz terbaiknya untuk memberikan ‘showcase’ kepada para penonton yang sebagian besar merupakan pelaku industri musik jazz yang terdiri dari musisi, media, perusahaan rekaman, festivals, radio, studio, promoters, production dan lain-lain.

Meski hujan mengguyur deras diluar gedung Kulturzentrum Schalachthof atau Pusat Kesenian Schalachthof yang merupakan gedung pusat kebudayaan terbesar di Bremen – pukul setengah delapan malam waktu setempat – Peter Schulze (Artistic Consultant) dan Sybille Kornitschky (Project Management) dari MesseBremen yang menjadi penyelenggara acara JazzAhead! resmi membuka acara dengan sedikit menjelaskan bagaimana band-band yang tampil dalam Overseas Night terpilih diantara banyak aplikasi yang masuk.Cuaca Bremen, Jerman cukup bersahabat ketika menjejakkan kaki di Congress Center Bremen (CCB), gedung dengan empat lantai yang menjadi pusat penyelenggaraan acara JazzAhead! mulai tanggal 28 April hingga 1 Mei 2011.

Peter Schulze dan Sybille Kornitschky

Peter Schulze dan Sybille Kornitschky

Pada kesempatan pertama hadir kelompok Trichotomy yang merupakan kombinasi piano, drums dan acoustic bass. Sekilas memang tampak seperti format standar yang lazim dalam Jazz. Namun trio anak muda asal Sydney yang tampil secara khusus dan terbang kurang lebih 30 jam untuk sebuah pertunjukan 45 menit ini, menempatkan Jazz pada level baru versi mereka. Perhatian khusus diberikan pada sang bassis Pat Marchisella - yang oleh beberapa organiser Jazz Festival yang sempat berkomentar soal ke-kalem-annya dengan instrumen bernada rendah tersebut. Bersama Sean Foran (piano) dan John Parker (percussion/drums) kelompok ini sukses membuka Overseas Night.

Trichotomy di JazzAhead2011 : Sean Foran, Pat Marchisella dan John Parker

Trichotomy di JazzAhead2011 : Sean Foran, Pat Marchisella dan John Parker

Sesi Kedua diberikan pada Hamilton de Holanda, artis Brasil pertama yang mendapat kesempatan tampil di Overseas Night. Pria dengan julukan Jimi Hendrix of Bandolim ini memang langsung mendapat perhatian dari para audiens yang duduk mengeliling panggung yang susunan kursinya mirip dek kapal. Meski memainkan musik yang melewati batas genre Holanda tetap mengetengahkan sound Brasilian yang distink dan ia menambahkan dua string pada bandolim yang lazimnya terdiri dari 8-string.

Hamilton de Holanda JazzAhead! 2011

Hamilton de Holanda JazzAhead! 2011

Sesi berikutnya diberikan pada pianis asal Kuba yang kini menetap di Montreal yang mewakili bagian utara dari Amerika yaitu Kanada. Rafael Zaldivar Trio yang terdiri dari Rafael Zaldivar (piano), Nicolas Bedard (double bass) dan Kevin Warren (drums). Menyaksikan penampilannya membuat nafas serasa tertahan. Intensitas ditunjukan pria berkacamata dengan posisinya yang membungkuk sambil tangannya mengetuk pada tuts-piano. Kelompok ini berhasil menciptakan encore dan memainkan sebuah lagu tambahan.

Rafael Zaldivar - JazzAhead! 2011

Rafael Zaldivar - JazzAhead! 2011

Hari beranjak malam. Hujan diluar sudah berhenti. Saatnya simakDialog dari Indonesia menutup sesi Overseas Night. Erlan Suwardana dan Cucu Kurnia segera mengambil posisi dengan kendangnya di sisi kiri dan kanan panggung. Aditya Pratama (elektrik bass) berdiri didekat Riza Arshad (rhodes), dan Nikita Dompas (elektrik gitar) disebelah kanan yang menggantikan Tohpati (plus Endang Ramdan – kendang) yang berhalangan – karena saat mengurus visa, ia harus terbang dan tampil di Virada Cultural Brasil.

Lewat nomor-nomor yang menjadi ‘signature’ simakDialog membawakan  beberapa lagu seperti Kemarau, Unfaded Hopes dan Disapih, yang merupakan track pilihan yang juga termaktub dalam kompilasi JazzAhead! 2011. Reaksi sebagian penonton yang masih bertahan meski jarum jam sudah mendekati waktu istirahat ‘normal’ adalah takjub. Karena tanpa menggunakan drums seperti laiknya 2 performer sebelumnya, namun bunyi perkusif itu direpresentasikan oleh penggunaan dua kendang yang kadang ditabuh berbarengan kadang saling merespon satu-sama-lain membuat penampilan simakDialog menjadi sesuatu yang berbeda atau mengutip komentar salah satu penonton, “diluar kelaziman”.

simakdialog - JazzAhead! 2011

simakdialog - JazzAhead! 2011

Cucu yang menyertakan sejumlah alat perkusi khas Indonesia lainnya mampu mencuri perhatian lewat permainan ‘metal toys’. Sejumlah penonton termasuk diantaranya TSF Jazz, sebuah radio jazz dari Perancis juga tertarik dengan simakDialog dan mampir ke Booth WartaJazz untuk mendapatkan CD Kompilasi Jazz Indonesia volume 1.

Penampilan simakDialog merupakan proses panjang. WartaJazz bertemu dengan Peter Schulze dalam Live! conference di Singapura sekitar Juni 2010. Sebagai salah satu official booking agent WartaJazz berkomunikasi secara  intensif lalu mengajukan aplikasi, dan atas pilihan tiga juri yakni Caroline Chia (Kanada) dari EastWest Entertainment Group, Wim Wabbes (Belgia) dari Arts Center Vooruit dan Peter Schulze (Jerman) dari JazzAhead!, simakDialog akhirnya terpilih tampil di Overseas Night.

***

Rasanya tak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa publik Eropa bahkan dunia secara relatif tak terlalu mengenal Jazz dari Indonesia. Dalam buku program yang disusun panitia, mereka bahkan menulis seperti ini, “Jazz from Indonesia, you might ask – the answer is yes, and not just since yesterday. Simakdialog was formed in 1993 by pianist Riza Arshad…”.

Penampilan simakDialog dalam JazzAhead! 2011 setidak-tidaknya ingin menyampaikan sejumlah pesan pada kita di Indonesia dan publik Jazz dunia khususnya Eropa. Pertama bahwa kekayaan tradisi Indonesia dapat menjadi sebuah kekuatan baik secara instrumentasi maupun secara spirit dalam penciptaan karya musik dalam hal ini Jazz.

Kedua, pasar jazz dunia khususnya Eropa secara relatif belum mengenal musik Jazz berbalut tradisi ke-Indonesiaan, meski kelompok lain seperti Krakatau atau Kua Etnika sudah kerap melakukan tour, walau jika kita menyebut kuantitasnya, tentu masih jauh dibandingkan promotor Jazz di Indonesia mengundang artis-artis Jazz Mancanegara.

Ketiga pada hakikatnya diperlukan peran negara untuk mendukung para musisi yang melakukan diplomasi kebudayaan. Beruntung pada saat-saat terakhir simakDialog mendapatkan bantuan dari Goethe Institut yang menyediakan tiket pulang-pergi dan akomodasi. Sebuah pertanyaan besar memang, kenapa kelompok ini justru tak mendapat dukungan dari negeri sendiri.

Lepas dari berbagai macam hal diatas, Overseas Night di Jazzahead! merupakan sebuah terobosan yang dilakukan sehingga berbagai talenta Jazz dibelahan bumi yang berbeda bisa ter-discover, yang harapan berikutnya adalah memberikan jalan, membuka berbagai pintu kesempatan yang masih terkunci.

***

Di JazzAhead! 2011 ini hanya dua negara dari Asia yang membuka booth yaitu Korea yang diwakili oleh Korean Management of Arts (plus Jarasum Jazz Festival yang ikut bergabung didalamnya) dan WartaJazz yang mewakili Indonesia, dengan program Jazz Indonesia Festival yang tujuannya mempromosikan berbagai kegiatan Jazz dan atau acara berskala Festival, plus membagikan Kompilasi CD Jazz Indonesia vol 1 yang memuat tiga belas karya terbaik musisi Jazz Indonesia (simak tulisan lain soal kompilasi tersebut).

Antusiasme publik bisa terbaca dari empat ratus CD Jazz Indonesia yang dibawa, ludes diminta oleh mereka yang mampir ke Booth WartaJazz, di hari Jumat pagi yang merupakan hari kedua penyelenggaraan JazzAhead!.

Oleh karenanya tak berlebihan kalau WartaJazz memutuskan akan kembali berpartisipasi dalam JazzAhead! 2012 mendatang dan kembali berharap ada kelompok Jazz dari Indonesia lainnya yang memiliki kesempatan tampil di Overseas Night.

Semoga!

simakDialog: Percakapan Itu Terus Bergulir dan Patut Untuk Disimak

Tags: , , , , , ,


Konser simakDialog di AXIS Java Jazz Festival 2011.

simakDialog

simakDialog

Kelompok musik bernama simakDialog bukanlah grup yang baru tercetus kemarin sore.  Sudah 17 tahun berdiri sejak awal 90-an, waktu itu musiknya belum terdengar seperti saat ini. Masih berkutat seputar fusion dengan line-up Riza Arshad (kibor), Tohpati (gitar), Indro Hardjodikoro (bas), dan Arie Ayunir (drum), setidaknya hingga album kedua Baur (1999).

Perubahan direksi musikal terwujud waktu simakDialog meluncurkan album ketiga, Trance/Mission(2002) sembari merubah formasi pemain dengan menempatkan Adhitya Pratama (bas), Endang Ramdan (kendang sunda), Erlan Suwardana (kendang sunda, sundanese toys), dan Cucu Kurnia (metal toys). Dua personil aslinya tetap bertahan, yaitu Riza dan Tohpati. Kuat bernuansa tradisional sekaligus kontemporer, band ini terus melaju dalam koridor jazz lokal dan internasional serta mendapat respon positif di berbagai panggung jazz mancanegara.

Sabtu malam lalu (5/3), mereka tampil di depan publiknya sendiri, dalam rangkaian AXIS Java Jazz Festival 2011 di Kemayoran, Jakarta untuk kesekian kalinya. Pertunjukan dimulai lewat komposisi “Karuhun” terambil dari album Demi Masa (2009). Sebelum melanjutkan “dialog” melalui nomor-nomor jagoan semisal “Kemarau,” “Patahan,” “Throwing Words,” dan “Disapih,” Riza Arshad sang pendiri menolak untuk grupnya disebut sebagai band musik etnik, hanya karena menyertakan instrumen tradisional. Ia menambahkan, “
 misalkan kendang ini, fungsinya bukanlah untukmenggantikan drum, tetapi kendang punya karakter sound tersendiri sehingga sebuah komposisi menjadi utuh,” jelasnya. Lewat simakDialog, percakapan itu terus bergulir dan sangatlah patut untuk disimak.

Delegasi Jazz Indonesia bersama simakDialog siap ke Jazzahead! 2011 di Bremen, Jerman

Tags: , , ,


Musik Jazz di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukan beberapa perkembangan yang menggembirakan. Beberapa indikatornya antara lain jumlah pertunjukan berskala festival yang tidak hanya berfokus pada beberapa kota besar di pulau Jawa namun sudah menyeberang ke Sumatra, Sulawesi bahkan jika tak ada aral akhir tahun ini Kalimantan juga akan menyusul.

Hal lain yang menyenangkan adalah tumbuhnya komunitas jazz diberbagai kota yang diikuti dengan jumlah band jazz (anak-muda) yang juga meningkat. Terlebih lagi karena teknologi telekomunikasi memungkinkan mereka berkomunikasi tanpa terkendala jarak dan waktu misalnya menggunakan social network.

WartaJazz – selain merupakan portal Jazz – melakukan riset dan menjalan proyek bertajuk ”Jazz Indonesia” dengan fokus menggali dan mengumpulkan sejumlah potensi dibidang musik Jazz yang diharapkan bisa menjadi sumbangsih pada aspek ekonomi dan sumbangan kebudayaan dari Indonesia bagi perkembangan musik yang kaya Improvisasi ini.

***

Acara JazzAhead! diselenggarakan di Congress Center Bremen (CCB) kota Bremen, Jerman tanggal 28 April hingga 1 Mei 2011, merupakan acara tahunan yang bertujuan sebagai wadah jaringan dan kerjasama pelaku industri musik jazz yang terdiri dari musisi, media, perusahaan rekaman, festivals, radio, studio, promoters, production dan lain-lain.

JazzAhead! merupakan satu-satunya JazzMeeting (JazzMart/Pasar Jazz) terbesar didunia setelah IAJE (International Association for Jazz Education) bubar dan dihadiri kurang lebih 3000 orang (data: 2010).

WartaJazz lewat ”Jazz Indonesia” berinisiatif untuk berperan serta dalam JazzAhead! dan menyusun sejumlah rencana kerja. Stand Jazz Indonesia diharapkan menjadi gerbang pembuka peluang bagi kelompok-kelompok Jazz/WorldMusic kreatif dari Indonesia memasuki pasar (Jazz) dunia dengan menyebarkan album Kompilasi Jazz dari Indonesia 2011.

Tak hanya itu, melihat hubungan sejarah Jazz Indonesia-Jerman salah satunya dari perjalanan Indonesian All Stars (Jack Lesmana, Bubi Chen dkk) tahun 1968 yang merekam Djanger Bali di Berlin, Jerman kita dapat membuka banyak peluang seperti kolaborasi musisi Indonesia dan Eropa, jaringan pendidikan maupun partnership.

Kelompok simakDialog terpilih sebagai salah satu dari 4 negara – dan satu-satunya yang mewakili benua Asia dalam acara Overseas Night 28 April 2011 – menjadi duta dari Indonesia memiliki prospek besar untuk memasuki pasar Eropa yang selalu menginginkan warna baru.

Riza Arshad, founder dan leader simakDialog mengungkapkan, “Sebagai satu-satunya grup Asia yang terpilih untuk tampil di pentas terhormat yang baik ini, akan menandai munculnya dan diakuinya keberadaan musik Indonesia yang berkarakter yang menjadi bagian penting di peta musik dunia bagi generasi musik jazz dan dunia mendatang”, saat media gathering yang digelar hari Selasa, 1 April 2011 di Studio LikeEarth Menteng, Jakarta.

Sementara itu Agus Setiawan Basuni yang bertindak selaku project officer dalam misi ke JazzAhead! menyatakan, “simakDialog terpilih oleh panel juri internasional. Banyak negara lain mengajukan permohonan serupa, dan kita patut berbangga simakDialog terpilih mewakili Asia”.

Kunjungan simakDialog ke Jazzahead Bremen, menandai terbukanya kembali dan bangkitnya gairah keingintahuan baru masyarakat jazz Jerman dan Eropa. Musik simakDialog mencerminkan perkembangan jazz di kawasan Nusantara (Asia tenggara) dan mulai diakui memberikan masukan yang baik pada berbagai warna yang terjadi pada perkembangan musik jazz dunia.

Sejak simakDialog bergabung dengan Moonjune di Amerika, telah mendapatkan sedikitnya 200 review positif dari seluruh dunia yang membuat kelompok ini tidak hanya dilirik sebagai grup yang layak tampil secara musikal namun juga dari prestasi yang dipetik dari 2 album karyanya via Moonjune Records untuk album ‘Patahan’ dan ‘Demi Masa’.

“Musik simakDialog untuk Dunia”

***

Dalam kegiatan JazzAhead! team ”Jazz Indonesia” dan simakDialog terdiri dari Agus Setiawan Basuni (Project Officer), Ajie Wartono (ass Project Officer), Roullandi N. Siregar (ass Project Officer/ Road Manager), Riza Arshad (Band Leader), Tohpati Ario Hutomo (Band member), Aditya Pratama (Band member), Endang Ramdan (Band member), Cucu Kurnia (Band member), Erlan Suwardana (Band member), Danny Ardiono (Sound Engineer) dan Dwiki Dharmawan (Advisor).

Keikutsertaan ”Jazz Indonesia” ke Bremen, Jerman akan didukung oleh Kementrian Pendidikan Nasional melalui program Beasiswa Unggulan. Meski demikian, delegasi ini berharap dukungan dari sejumlah lembaga lain terutama untuk transportasi dan akomodasi selama kegiatan berlangsung.

Ngayogjazz akhirnya digelar 15 Januari 2011

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Dalam mengekspresikan semangat berkumpul dan bekerja sama, orang jawa mempunyai ungkapan : Mangan ora mangan waton kumpul. Makan atau tidak, tetap saja bisa berkumpul (rukun). Inilah yang di adopsi oleh panitia ngayogjazz yang bergeser penyelenggaraannya di tahun 2011 karena adanya musibah meletusnya gunung Merapi yang hingga kini masih membuat tanggap darurat masih menjadi status buat kota-kota disekitar Merapi seperti Yogyakarta.

Ungkapan Ngayogjazz  menjadi “Mangan Ora Mangan
.Ngejazz”. Sebuah ungkapan yang di maknai bahwa solidaritas bisa terwujud tanpa ikatan atau persoalan material (mangan). Bahkan semangat ini semakin terbukti ketika masa sulit sedang datang.

Inilah Jazz. Sebuah cara memainkan musik dengan asyik, spontan, interaktif, dan ekspresif. Hampir tanpa batas. Siapapun; alat musik apapun; dimanapun; kapanpun. Bahkan, dalam suasana apapun, karena jazz lahir juga karena sebuah keadaan sosial yang direspon dengan permainan-permainan musik. Jazz lahir untuk melepaskan kepenatan keadaan di Amerika Serikat pada suatu masa oleh orang-orang keturunan Afrika. Kini cara permainan musik itu telah meluas ke seluruh dunia dan melibatkan lebih banyak orang ; lebih beragam alat musik dan lebih bermacam unsur kebudayaan, sebanyak ragam kesenian, bunyi di bumi ini. Inilah Jazz!

Keriuhan Jazz itu akan dihibur dengan para penampil yang siap hadir pada tanggal 15 Januari 2011. Mereka adalah ESQI:EF aka Syaharani & Queenfireworks, Glenn Fredly, Iga Mawarni, simakDialog (Tohpati, Riza Arshad, dan kawan-kawan), Chaseiro (Chandra Darusman, Helmie Indrakusuma, Aswin Sastrowardoyo, Edie hudiro, Irwan Indrakesuma, Omen Sonisontani), Gugun Blues Shelter, Tohpati Bertiga (Tohpati, Indro Hardjodikoro, Bowie), Sujud Kendhang & Kesenian Tradisional plus Komunitas Jazz Jogja, Komunitas Jazz Bali dan Komunitas Jazz Ngisor Ringin, Semarang.

Acara di gelar di Pelataran Djoko Pekik, Desa Sembungan, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai dari jam 2 siang hingga dua belas malam pada hari Sabtu Pon tanggal 15 Januari 2011.

Dalam kesempatan Ngayogjazz kali ini akan di Launching Album Kompilasi Komunitas Jazz Jogja – Ngayogjazz yang kedua dengan Konsep Album : Sesarengan plus tentu saja Pasar Jazz dan Festival Foto Ngayogjazz (Pameran dan Pojok Foto).

Anda tertarik?, bersiaplah mengontak agen perjalanan anda. Tak perlu membeli tiket pertunjukan, karena acara berlangsung gratis.

Wolfgang Haffner Trio Menutup Serambi Jazz 2010 Dengan Penampilan Konklusif

Tags: , , , ,


Laporan dari Putaran Akhir Serambi Jazz 2010, GoetheHaus Jakarta, 10 Desember 2010

Hubungan baik antara dunia musik (jazz) Indonesia dan Jerman sudah terjalin semenjak 1967. Titik tolaknya adalah waktu Indonesian All Stars (Bubi Chen, Kiboud Maulana, Jack Lesmana, Benny Mustafa, Maryono, Jopie Chen) mentas di Berlin Jazz Festival tahun itu. Sejarah pun mencatat bahwa Indonesian All Stars merupakan grup dalam negeri yang pertama tampil pada perhelatan jazz internasional. Relasi itu kemudian disegarkan kembali lewat program tahunan Serambi Jazz yang telah memasuki tahun kedua, sebagai buah kerja keras Riza Arshad selaku kurator beserta rekan-rekan yang turut berpartisipasi menggarap acara jazz berkualitas dan apresiatif, terutama untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya.

Setelah mengikuti rangkaian Serambi Jazz yang dimeriahkan oleh banyak musisi lokal, program tersebut ditutup dengan penampilan trio asal Jerman bernama Wolfgang Haffner Trio yang digawangi oleh tiga pemain kelas dunia; Wolfgang Haffner (drum), Hubert Nuss (piano), dan Robert Landfermann (kontrabas). Konser mereka di Jakarta malam itu merupakan bagian dari tur “Round Silence” Eropa-Asia sekaligus untuk mempromosikan album terbaru trio ini yang berjudul sama.

Wolfgang Haffner Trio di Serambi Jazz 2010

Wolfgang Haffner Trio di Serambi Jazz 2010

Pertunjukan dibuka lewat nomor “Faithless” yang banyak menggunakan ostinato piano dengan garapan melodi sederhana namun eksploratif, serta permainan Robert yang tampak memainkan kontrabas secara sul ponticello (digesek dekat dengan bridge – red.) sehingga menimbulkan frekuensi tinggi yang memberi efek harmonik. Sedangkan juru ritme Wolfgang menghadirkan pukulan-pukulan akurat dan kompleks, sesekali dirinya menarik perhatian dengan gertakan offbeat sembari tersenyum jahil. Keahlian memukul drum ia tampilkan solo di komposisi kedua, “Shapes” sementara kedua rekannya mengolah harmoni disonan secara inovatif.

Wolfgang Haffner

Wolfgang Haffner

Berlanjut dengan komposisi ballad “Wordless”, kini giliran Hubert memanjakan penonton lewat denting piano yang melantunkan nada-nada indah sarat melankolia. Waktu menyimak nomor ini, entah mengapa terbersit nuansa khas karya-karya piano tunggal Tchaikovsky yang menggugah batin. Wolfgang menghiasi dengan sapuan stik brush penuh kehalusan. Trio ini tak perlu lagi diragukan kekompakannya, karena masing-masing personil adalah musisi berpengalaman dengan jam terbang tinggi, begitu asyik untuk menikmati goyangan samba pada nomor “Ride”, terlihat Wolfgang berganti-ganti alat pemukul drum, mulai dari stik kayu, brush, mallet, hingga palu mainan anak-anak yang berbunyi jenaka yang ia gunakan dalam “New Life”. Alhasil, ulahnya itu membuat audiens tergelak dan kagum pada saat bersamaan. Tidak hanya itu, ia pun beratraksi meriah ketika mallet yang digenggamnya menari lincah di atas bilah-bilah silofon mini, ukurannya sedikit lebih besar dari pianika.

Konser hampir usai waktu ketiganya menampilkan “Silent Way”, namun karena penonton meminta lebih akhirnya trio itu, yang telah berada di belakang panggung, kembali beraksi lewat encore “Space in Beetween” sambil bergantian solo penuh daya pikat dan Wolfgang-Hubert-Robert menamatkan Serambi Jazz 2010 dengan gemilang. Wunderbar!

Laporan Perjalanan simakDialog ke Kathmandu Jazz Festival

Tags: , , , ,


simakDIALOG – sebuah grup jazz kontemporer asal Indonesia baru saja diundang oleh Kathmandu Jazz Festival dan ini merupakan kali kedua penampilan mereka di festival tertinggi di Himalaya.

simakDialog terdiri dari Riza Arshad (keys/leader), Tohpati Ario Hutomo (gitar), Adhitya Paratama (elektrikbass), Endang Ramdan (sundanese kendang), Erlan Suwardana (sundanese kendang) dan Cucu Kurnia (metal toys).

Berikut ini laporan perjalanan yang disampaikan Riza Arshad pada redaksi Wartajazz.com. Kami edit seperlunya.

simakDialog saat tampil di Upstairs

simakDialog saat tampil di Upstairs

Perjalanan kami menuju Nepal via Bangkok berjalan dengan baik. Di Svarnabum, Bangkok kami dijemput dan diantar ke hotel oleh staf KBRI, pak Witon Wijaya. Kami bermalam 1 malam dan keesokan paginya diantar oleh mobil KBRI kembali ke airport u/ melanjutkan perjalanan ke Kathmandu.

Setelah menempuh 3 jam 15 menit, kami mendarat di Kathmandu Int’l Airport dan dijemput oleh staf Konsulat Jendral RI, pak Manish dan pak Annan – beliau adalah warga Negara Nepal yang direkrut menjadi staf KJRI – dan beberapa WNI yang menetap bekerja sebagai tenaga ahli u/ PBB di Nepal, mayor Marinir Bpk Arief dan Bapak Fauzi yang istrinya – Ibu Siti Halati yang bekerja untuk FAO UN.

Malam hari dan keesokan harinya, kami diajak makan siang oleh staf KJRI dan para expat WNI. Sore harinya kami melakukan persiapan untuk tampil di sebuah jazz club yang termashur di Nepal – Upstairs, untuk tampil pada malam harinya yang terletak hanya sekitar 100 meter dari hotel Ambassador di mana kami menginap. Kami berjumpa dan bertukar cerita dengan beberapa ‘kawan lama’ kami yang masih turut mengundang dan menangani acara Jazzmandu sejak kunjungan kami di tahun 2004.

simakDialog bersama seluruh musisi

simakDialog bersama seluruh musisi

Upstairs, sebuah bangunan sangat sederhana terletak di jalan besar dan berada di antara bangunan toko sederhana khas Nepal. Terdiri dari 3 lantai dan sangat sederhana – di mana lantai 1 adalah dapur, lantai 2 bar dan lounge serta lantai 3 adalah ‘ekstra’ ruangan untuk para tamu. Sangat khas bangunan untuk jazz club yang dijumpai di seluruh dunia, seperti antara lain Blue Note, NY, 505 Sydney, No Black Ties, KL juga CafĂ© Au Lait di Jakarta.

Usai soundcheck, simakDialog segera bermain selama 60 menit yang dimulai dengan lagu ‘Disapih’ dari album ke 5 – DemiMasa, dilanjutkan dengan lagu Miles Davis ‘Footprints’ dan ditutup oleh komposisi original ‘Sidewalk Stories’ dari album ke 3 ‘trance/mission’. Ruangan menjadi sangat penuh sesak dan melebihi kapasitas namun tertib, tak membuat orang bergeming meski sD hanya menampilkan 3 lagu dalam kurun waktu 60 menit. Olahan musik ‘west meet southeast’ simakDialog menurut beberapa kritikus musik di Eropa dan Amerika menjadi hal yang menarik dan ‘baru’ bagi penikmat musik jazz yang mayoritas imigran/turis kulit putih yang berada di Nepal. Dapat dipahami bahwa pada bulan Oktober dan awal November adalah musim baik u/ kegiatan trekking, rafting di Nepal dan hampir semua hotel full booked – untuk itu salah satu alas an panitia menyelenggarakan festival Jazzmandu.
Keesokan harinya, simakDialog bersama seluruh musisi penampil berangkat ke venue Jazzmandu di Gokarna, menuju ke di kaki bukit kira-kira 40 menit dari pusat kota Kathmandu.

simakDialog at Jazzmandu 2010

simakDialog at Jazzmandu 2010

simakDialog menampilkan jenis musik kategori contemporary jazz progressive yang memberi nafas dan warna yang berbeda di antara penampil Jazzmandu kali ini yang menjadi alasan Navin Chettri direktur program Kathmandu Jazz Fest mengundang simakDialog sebagai penampil karena keunikan musiknya yang tidak hanya sekedar menampilkan percampuran ‘barat dan asia tenggara’, tapi nafas ‘baru’ dalam kategori jazz world yang ditampilkan simakDialog memang berbeda. Seperti yang diakui oleh salah seorang reviewer dari Borislav Kresojevic -> musik yang dimainkan simakDialog adalah jenis musik yang hampir tak pernah dimainkan lagi oleh grup manapun di genre kontemporer jazz setelah awal formasi grup Mahavishnu (John Mclaughlin, Jan Hammer) sejak tahun 1974. Sebagian musisi Amerika seperti drummer Ari Hoenig http://www.arihoenig.com pianist James Miley (yang bergelar doktor, staf pengajar di West university of The West, Oregon) dan saxophonist Peter Epstein yang mengajar di Oregon University – lewat kibordis Riza Arshad memberikan pernyataan serupa.

Keunikan ini dirasakan sebagai ‘hal baru’ yang menarik perhatian mereka dan bagi siapapun yang mendengarkan melalui 2 pertunjukan simakDialog dalam kunjungan kali ini. Bahkan, sebagian pendengar di Upstairs jazz club yang sebagian besar pelajar beberapa international high school dan college.

Melalui berbagai upaya dan bantuan yang diberikan oleh pengusaha Arifin Panigoro memungkinkan grup simakDialog memenuhi undangan ke 2 untuk tampil di Kathmandu Jazz Festival/Jazzmandu 2010 – sebuah festival yang diselenggarakan bertepatan dengan musim berkunjung para pencinta alam dari seluruh dunia dan di Gokarna – yang terletak di kaki bukit pegunungan Himalaya membuat Kathmandu Jazz Festival atau disebut juga Jazzmandu menjadi salah satu festival Jazz terunik dunia di kawasan tengah Asia.

Kami – simakDialog bersyukur atas selesainya misi ini dan berterimakasih pada Tuhan yang MAHA ESA dan KUASA atas ridhoNYA, semoga memberi manfaat yang baik dan luas bagi Bpk. Arifin Panigoro, Bpk. Iwan Ramelan, Bpk Frits Momor dari tim produksi grup, Bpk. Navin Chettri, Ibu Silvia direktur dan wakil direktur Kathmandu Jazz Festival dan Diwas L/O kami di Jazzmandu segenap staf KBRI di New Delhi dan Bangladesh, Bpk Anand dan Bpk Manish Koirala selaku staf KJRI di Nepal, Bpk dan Ibu Gunawan Setiadi dari WHO, Bpk Fauzi dan Ibu Siti Halati dari FAO, Bpk Mayor Marinir Arief Rahman Hakim, Bpk Ray Wahyuniawan dan Bpk Agus dari UNMil, dan secara khususnya bagi kami. Amiin YRA.

simakDialog tampil di Kathmandu Jazz Festival 2010

Tags: , ,


Kathmandu Jazz Festival atau dikenal luas dengan sebutan “Jazzmandu,” adalah acara tahunan yang kali ini jatuh pada tanggal 29 Oktober hingga 3 November 2010 bertempat di Upstair Jazz Bar dan Gokarna Forest Resort, KJC (Kathmandu Jazz Conservatory), Patan Museum Square, dan Hotel Shangri-La, Shambala Garden.

Satu-satunya kelompok dari Indonesia yang pernah manggung di sana adalah simakDialog yang digagas oleh Riza Arshad dan Tohpati Ario Hutomo (dua personil awal yang masih menjadi anggota kelompok ini hingga sekarang) pada tahun 2004 dan kali ini kembali diundang oleh panitia festival tersebut. Kelompok simakDialog terakhir tampil di 3rd Asean Jazz Festival di Batam 16-17 Oktober 2010.

Dalam waktu perjalanan delapan tahun terakhir, Kathmandu Jazz Festival sukses mempromosikan Jazz di Nepal dan memperkenalkan banyak musisi kelas dunia ke pecinta jazz tua dan muda.

***

Selain simakDialog, Jazzmandu mengundang musisi lain diantaranya Ari Hoenig featuring Jerome Covington, BUG (USA), Saksri Pang Vongdharadon Quartet dan Alukomarai dari Thailand, (Nepal), Adrian d’Souza (India), Gandharvas (Nepal), Cadenza, Kutumba, Prabhu Raj Dhakal & Friends (Nepal).

Ari Hoenig (36 tahun) adalah drummer jazz muda yang disegani karena kemampuannya memainkan complex rhythms dengan harmoni langsung bersama anggota grupnya. Ari ditemani gitaris Jerome Covington yang mampu memainkan jazz, indie rock hingga electronica sampai acoustic pop.

Saksri Pang Vongdharadon merupakan seorang ekonom yang memutuskan berkarir dimusik dengan pilihan pada instrumen piano dan kini mengajar di jurusan jazz pada Universitas Silpakorn Thailand.

Kelompok BUG dari Amerika Serikat terdiri dari Miley bersaudara, pianis James dan gitarist Jeff, menunjukan keunikan melodi dan rhytm. Turut bergabung bersama mereka saxophonist Peter Epstein, bassist Roger Shew dan drummer Brian Hamada. Menurut mereka melodi adalah Raja (baik dalam hal komposisi maupun improvisasi).

Dalam siaran persnya Panitia Jazzmandu menyatakan bahwa kegiatan ini mampu menstimulus musisi-musisi setempat untuk mengenal Jazz dan belajar teknik baru dan membuat berbagai kreatifitas dengan instrumen-instrumen yang lazim dipakai.

W/H/A/T Quartet – No Words

Tags: , , , , , , , ,


Deru Jazz Straight-Ahead Sarat Kekinian

1. Diundang
2. Spyros the Dragon
3. Say W/H/A/T
4. 12 Another
5. Minor Blues
6. Get Well Soon
7. Hollow Hartland

W/H/A/T Quartet - No Words

W/H/A/T Quartet - No Words

Seorang komposer/pengarang/kritikus musik/ilustrator Jerman E.T.A. Hoffmann (1776-1822) sempat berujar, “Wo die Sprache aufhört, fĂ€ngt die Musik an.” (Saat kata-kata beranjak pergi, [maka dari itu] musik hadir). Sebuah proposisi untuk menegaskan bahwa musik dapat menakwilkan apa yang tak sanggup tergambar oleh kata-kata. Bertolak dari pernyataan tersebut, album No Words ini seolah bermaksud mendobrak belenggu tekstual lewat olah bunyi dalam tujuh trek atraktif.

Figur Riza Arshad selaku musikus jazz garda depan memberi kontribusi signifikan pada bergulirnya diskursus jazz tanah air. Ia kerap merangkul generasi muda untuk berbagi dan berkreasi secara inklusif, alih-alih menggurui dengan otokratis. Contohnya pada album ini, ia duduk bersama Sri Hanuraga, Indrawan Tjhin, dan Sandy Winarta. Sedangkan nama W/H/A/T Quartet sendiri terambil dari inisial keempat personilnya; Winarta/Hanuraga/Arshad/Tjhin.

Nomor pertama “Diundang” merupakan invitasi kepada sebuah jam session ekstensif, dengan rentang waktu hampir sebelas menit. Diawali permainan unison kontrabas dan piano bersama sinkopasi drum, sepintas terasa seperti garapan musik Esbjörn Svensson Trio (EST). Setelah head (tema utama) dinyatakan, Riza berimprovisasi menggunakan synthesizer sembari mengolah skala Phyrgian dengan gertakan drum interlocking. Kemudian berlanjut menuju performa solo piano Aga dalam laju bebop, jemarinya berkeliaran di atas bilah hitam-putih dengan kecepatan tinggi. Fase ketiga (sehabis solo Riza dan Aga) ditandai lewat pengulangan head hingga berakhir dengan eksplorasi drum poliritmik oleh Sandy.

Sumber inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk video game. Simaklah “Spyros the Dragon” yang terilhami karakter protagonis sebuah permainan aksi berjudul serupa. Terdengar acuan gaya modal jazz pada bagian introduksi dengan melodi mengalir bebas. Semakin dinamis ketika Aga angkat bicara, frase-frase sulit dimainkan secara lugas dan pada beberapa bagian sayup terdengar ia beraksi sambil bergumam, ciri khas pianis klasik Glenn Gould dan pemain piano jazz Keith Jarrett.

Indrawan pun tak mau ketinggalan, petikan kontrabas bernuansa ballad dan melodius menjadi aksen pada komposisi “Say W/H/A/T “ yang sisanya beraroma bebop. Head yang relatif amikal hanyalah pengalihan atas maksud sesungguhnya di nomor “12 Another”. Mengejutkan, tensi berubah drastis dari alunan santai menjadi bunyi centang perenang! Keempatnya terlibat dalam pergulatan seru antar instrumen secara gila-gilaan, mengarah kepada terminologi free jazz besutan Ornette Coleman. Jika ingin merasakan atmosfer berbeda, bolehlah untuk memutar trek ini sebagai pengantar tidur ataupun musik latar pada candle light dinner. Resiko ditanggung pendengar.

Riza tampil intensif dalam “Minor Blues”, bunyi sintetis dari kibornya mirip seperti gitar yang menggunakan efek wah-wah pedal. Kontras dengan nomor lainnya, “Get Well Soon” terdengar manis lewat sajian ballad mengisyaratkan sepenggal rindu dan asa. Pendaran melodi cantik indah berdenting sekaligus berkesan menerawang. Trek penutup adalah “Hollow Hartland” yang naratif, bagai ingin menceritakan rasa sepi di tengah keramaian.

Ratusan Simpatisan FPI Merazia GoetheHaus!

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Laporan Dari Serambi Jazz Edisi Agustus 2010 – Mery Kasiman Project.

Judul di atas tercetus gara-gara Deny Sakrie berulah pada Serambi Jazz malam Jumat lalu (12/8). Berdinas sebagai MC, ia menjuluki hadirin dengan sebutan FPI (Front Penikmat Improvisasi – red.) yang kontan membuat penonton terpingkal. Alih-alih melakukan penggeledahan secara rambang dan destruktif, FPI imbangan malam itu “merazia” dengan cara berbeda; duduk manis, mengangguk-angguk ikuti irama, serta bertepuk tangan seusai tiap lagu dimainkan. Adalah Mery Kasiman beserta belasan kroni tergabung dalam Mery Kasiman Project yang berperan selaku pengisi acara.

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Sudah sepatutnya publik jazz tanah air mencintai Mery. Bagaimana tidak, pianis-komposer-arranger jebolan Program Master Institut Musik Daya ini punya talenta luar biasa dalam urusan musik. Terlebih, wanita kelahiran Jakarta 28 tahun silam tersebut berani untuk menyambung kiprah pada ranah big band, yang di Indonesia jarang tersentuh bahkan oleh kaum adam sekalipun. Selain itu, Mery juga menuangkan bakatnya di teritori musik film, dengan menjadi copyist dan orkestrator bersama Aksan dan Titi Sjuman.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Konser malam itu terbagi menjadi dua sesi tanpa jeda, dengan repertoar lima komposisi orisinil Mery pada bagian pertama kemudian berlanjut empat aransemen buah musik John Coltrane dan Thelonious Monk. Regu yang dikomandani Mery merupakan konstelasi musikus-musikus berbakat tanah air, untuk seksi tiup ia menggandeng Harmoniadi dan Wisnu Fajar (trumpet), Enggar Widodo dan Widiyekso (trombone), Boyke Priyo Utomo (saksofon tenor, flute), Arief Setiadi (saksofon tenor), dan Eugen Bounty (saksofon alto, klarinet). Sementara pada rhythm section tampak Ali Akbar Sugiri (piano), Robert Mulyarahardja (gitar), Indrawan Tjhin (kontrabas), dan Sandy Winarta (drum). Sesi kedua dimeriahkan oleh Riza Arshad (piano, akordeon), Barry Likumahuwa (bas elektrik), dan Dewa Budjana (gitar).  Mungkin inilah alasan mengapa ruangan GoetheHaus begitu sesak, kursi terisi penuh dan bahkan beberapa harus berdiri memenuhi anak tangga pada kedua sisi gedung. Faktor lainnya adalah pertunjukan tersebut gratis adanya.

Acara dimulai dengan komposisi “Floating” lewat introduksi denting piano Ali Akbar memberi kesan sejuk sebelum hembusan tema oleh klarinet memecah ambang kesunyian. Dihiasi pula solo kontrabas mengambil alih kerenggangan harmoni brass section yang mengalun lembut. Arief Setiadi menampilkan aksi solo pada nomor kedua, “Down By The River” yang ditimpali permainan flute Boyke. Sepintas, gaya komposisi Mery mengingatkan kepada garapan musik Amina Figarova yang naratif. Selanjutnya adalah “Waterfall”, komposisi ini memberi ruang lebar bagi Ali Akbar untuk menunjukkan kelincahan jemarinya dan untuk itu tepukan tangan spontan dari audiens dihadiahkan sewaktu ia memikat dengan frase-frase atraktif. Aksentuasi cepat one-two, one-two, one-two-three dalam sukat 7/8 dituangkan Mery pada “The Chat” yang cukup membuat para personil syak wasangka pada awalnya, terutama di seksi tiup. Penonton yang jeli pasti dapat merasakan kegamaman tersebut. Sesi pertama ditutup lewat “Lilac and Brown”, di nomor ini Mery menempatkan instrumen gitar dan trombone sebagai penggagas tema.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Gitaris lintas genre Dewa Budjana meramaikan babak kedua yang dibuka dengan “Moment’s Notice” dari John Coltrane berdetak dalam nuansa bebop. Pada nomor ini Budjana tampil kalem, tidak terlihat adanya aksi penarik perhatian, ia bermain santai saja bersama Arief dan Eugen yang juga diberi jatah solo. Namun Budjana justru menunjukkan daya pikatnya di komposisi Thelonious Monk yang beraroma mellow, “Monk’s Mood”. Melalui gitar birunya, ia membius penonton dengan pengolahan nada-nada manis penuh penjiwaan, didukung oleh goresan keindahan lewat bunyi sayu akordeon Riza Arshad. Atmosfer ruangan menghangat ketika basis idola remaja, Barry Likumahuwa naik ke atas panggung bertukar posisi dengan Indrawan. Saat itu juga Riza menanggalkan akordeon untuk duduk bermain piano pada “Monk’s Dream”. Nomor ini mengayun oleh cabikan bas Barry, audiens terhibur dengan pengolahan tema jenaka baik olehnya maupun Riza, keduanya terlihat berdialog seru sembari melempar senyum.

Repertoar terakhir adalah mahakarya John Coltrane, “Giant Steps” dengan segala kerumitannya dan kentara aransemen Mery yang menghindari resiko dengan tempo lebih lambat dari versi aslinya (260 BPM – beats per minute; konon membuat pianis Tommy Flanagan agak kelimpungan pada sesi rekaman tahun 1959). Setelah penantian cukup lama, akhirnya penabuh drum muda berbakat Sandy Winarta beraksi solo juga, pukulannya sungguh dahsyat – tegas, presisi, dan dinamis. Kecakapan teknis dan jam terbang ekstensif adalah alas an mengapa ia begitu mumpuni lewat selaput plastik, lempeng logam, dan tongkat pemukulnya itu. Barry kembali mencuri perhatian tatkala merepet dengan gila sewaktu giliran solo, performanya sangat mendebarkan!

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Tadinya konser tersebut akan berakhir seusai “Giant Steps”, namun berkat provokasi cerdik Denny Sakrie dan respon pemirsa yang seolah belum puas, mau tidak mau bonus berupa encore diberikan pula. Setelah rembuk alot antar pemain, akhirnya Mery yang awalnya ragu-ragu setuju untuk bermain piano, ditemani akordeon Riza, bas Barry, dan gitar Robert. Mereka tampil lewat “Stella By Starlight” karya Victor Young dengan nuansa serenade. Uniknya, Mery malah terlihat lebih menikmati permainan pianonya ketimbang saat ia menjadi kondakter semenjak permulaan acara. Beberapa birama musik mengalun, tiba-tiba sayup terdengar ketukan drum namun anehnya dimainkan oleh saksofonis Arief Setiadi. Buah keisengan itu justru semakin menambah semarak hingga acara benar-benar selesai.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Pagelaran berdurasi sekurangnya dua jam itu sangat berkesan, ekspresi takjub dan rasa puas tergambar jelas pada raut wajah para audiens setelah acara berakhir. Proyek Mery Kasiman tampaknya ditanggapi baik dan merupakan langkah awal positif untuk ekspansi cetak birunya ini. Secara teknik komposisi maupun aransemen sesungguhnya Mery telah memadai secara akademis, semoga di masa depan ia makin kreatif mengolah aspek non-akademis dan kekinian dengan gayanya yang distingtif. Sejumput catatan ditujukan kepada seksi tiup; entah karena pimpinan ansambel yang malu-malu dan kurang gamblang atau minimnya kesigapan pemain, jelasnya ketimpangan tersebut agak mengganggu kenikmatan estetis yang mestinya dapat tercapai bila rangkaian not di atas kertas dimainkan dengan baik.

Bagaimanapun, acara malam itu memuaskan, impresif, serta layak mendapat pujian. Sangat dinanti penampilan Mery Kasiman Project berikutnya. Salut!

Serambi Jazz bersama Mery Kasiman feat Dewa Budjana, Barry Likumahuwa

Tags: , , , ,


Program Serambi Jazz edisi Agustus 2010 hanya menghadirkan satu penampil. Dia adalah Mery Kasiman. Proyek musik yang digagasnya menghadirkan beberapa musisi tamu, di antaranya gitaris Dewa Budjana, bassis Barry Likumahuwa, saksofonis Arief Setiadi dan pianis Riza Arshad.

Selain adalah seorang pianis yang baik, Mery Kasiman juga berbakat sebagai penata musik sekaligus pengarah musik yang akan besar namanya di masa datang. Kejelian Mery membuat musik terdengar beda adalah segi lain kemampuannya.

Melalui instrumentasi dan tehnik aransemen yang ia terapkan terdengar bunyi dengan format yang berbeda yang juga dapat menonjolkan keindahan komposisi itu sendiri.

Di Serambi Jazz, peraih gelar master dari Institut Musik Daya Indonesia ini menampilkan eksplorasi pada musik jazz dan komposisi sendiri dengan format big band yang tidak umum. Selain brass, woodwind pun akan lebih ditonjolkan. Mery ingin membuat klarinet dan flute lebih dominan daripada saksofon. Mery juga mengaransemen karya-karya Thelonious Monk dan John Coltrane yang menurutnya sangat banyak tapi jarang dimainkan.

Anda dapat menyaksikan bahwa Mery Kasiman memiliki visi atas karyanya. Apa yang telah dilakukan memberi nilai tambah dan warna di antara rekan seprofesinya. Ia akan melengkapi deretan penata dan pengarah musik negeri ini.

Catat tanggalnya, 12 Agustus 2010 mulai 19.30 WIB bertempat di GoetheHaus Jalan Sam Ratulangi No. 9-15
Menteng, Jakarta Pusat. Gratis, tempat terbatas, untuk reservasi & informasi hubungi +62 21 23550208 Ext. 147 & 157

***

Riza Arshad adalah komposer dan pianist senior yang sudah tidak asing lagi bagi dunia jazz Indonesia. Riza adalah musisi yang sangat peduli dengan regenerasi musik jazz di Indonesia. Riza Arshad memotori grup simakDialog, Trioscapes dan W/H/A/T. Ia juga seorang pengajar masterclass jazz di Institut Musik Indonesia (IMI), sebuah institusi musik kontemporer di Indonesia yang berdiri sejak tahun 2001.

I Dewa Gede Budjana adalah satu gitaris negeri ini yang memiliki sound gitar signatured. Minat musik Budjana yang sangat kaya dan beragam ditunjukkan melalui kiprahnya di banyak kelompok dan rekaman album. Salah satunya adalah kelompok Indra Lesmana Java Jazz. Album solo salah seorang pendiri kelompok GIGI ini merupakan peleburan musik jazz, pop, serta world music yang ia akui sebagai hasil meditasi dan perenungan musik dalam perjalanan panjang bertemu takdirnya.

Elseos Jeberani Emanuel Likumahuwa atau lebih dikenal dengan nama Barry Likumahuwa bisa jadi telah menjadi pemain bass negeri ini yang diperhitungkan eksistensinya. Profil pemain bass muda yang ditampilkan jujur apa adanya serta betotan bassnya yang bermain di wilayah funk menjadi senjata untuk mencairkan anggapan bahwa adalah jazz musik ekslusif orang tua dan sulit untuk dinikmati.

Husein Arief Setiadi adalah multi instrumentalist sebenarnya. Kelahiran Bandung, 5 Desember 1959 memulai karir musik profesional lewat grup musik Wachdach di Bandung sebagai pemain keyboard. Namun kini ia lebih dikenal publik sebagai pemain saksofon yang handal. Dengan instrumen tiup itu ia menoreh jejak di banyak panggung dan rekaman. Arief merilis album pertama, berjudul JazzySax, setelah terlebih dahulu berkolaborasi dengan bassist Bintang Indrianto dalam rekaman JazzyBass dan JazzyDuet. Kerja sama mereka berlanjut di trio Philosophy, yang melibatkan Gerry Herb pada posisi drummer. Terakhir Arief hadir lewat album Little Russel, yang mendedah performanya melalui beberapa instrumen tiup dengan konsep minimalis.


Jazz is music made by and for people who have chosen to feel good in spite of conditions. — Johnny Griffin


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<