Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "sandy winarta"

Skedul lengkap pertunjukan Djarum Super MLD JazzTraffic Surabaya

Tags: , , , , , , , , , , , , ,


JazzTraffic - Surabaya

JazzTraffic - Surabaya

Apakah anda telah memiliki tiket masuk Djarum Super MLD JazzTraffic Surabaya, Minggu 27 November 2011 nanti?. Ada baiknya anda menyimak jadwal berikut supaya bisa mempersiapkan waktu kedatangan jika anda tak bermaksud menonton dari awal atau hingga selesai.

Panitia menyediakan tiga panggung pertunjukan. Satu buah yang berada di outdoor sedang dua lagi berada didalam ruangan.

Mengingat jadwal pertunjukan yang berbarengan maka anda harus memilih salah satu, atau alternatifnya adalah memantau dari kedua panggung dan memutuskan menonton artis yang mana.

Berikut ini daftar lengkap jadwal pertunjukan Djarum Super MLD JazzTraffic Surabaya.

STAGE A

  • 12:30 BLP
  • 15:00 RAN
  • 18:30 LLW
  • 21:00 MALIQ AND D’ESSENTIAL

STAGE B

  • 14:00 SANDY WINARTA QUARTED
  • 16:45 IDANG RASJIDI
  • 19:50 BUBI CHEN
  • 22:45 TOMPI

STAGE C

  • 12:00 TERRO
  • 12:30 KOREK JAZZ
  • 13:10 BAGUS BAND
  • 13:50 SURABAYA ALL STAR
  • 14:45 VAN JAVA
  • 15:45 GONDO AND FRIENDS
  • 16:40 YUDI BARLEAN
  • 18:30 LIGRO
  • 19:30 NITA ARTSEN QUATRO
  • 21:30 ENDAH N RHESA
  • 22:45 BALAWAN
***
“DJARUM SUPER MLD JAZZ TRAFFIC” yang diselengarakan pada hari Minggu 27 November 2011 adalah bukti musik jazz akan terus berdenyut di Surabaya. Inilah sebuah miniatur jazz festival yang menampilkan banyak genre musik jazz. Acara itu berlangsung di Surabaya Grand City mulai pukul 12.00 – 24.00 WIB.
Acara ini merupakan yang terbesar dari semua penyelengaraan acara jazz di kota Surabaya selama ini. Seperti halnya sebuah festival jazz, acara ini akan menampilkan para band penampil secara bergantian, dengan dukungan tata suara masing-masing 40 ribu watt, dan kecanggihan tata lampu (lighting system).

JazzTraffic Surabaya merupakan buah kerjasama antara Suara Surabaya dan Rita Noya, promotor acara jazz asal Surabaya yang juga aktif dengan komunitas Jazz di Semarang dan Surabaya sendiri.

Panitia menjual tiket masuk dengan dua kategori yaitu:

  • Umum
    Tiket Terusan Rp 350.000,- (tiga ratus lima puluh ribu rupiah)
    Tiket Masuk Rp 125.000,- (seratus dua puluh lima ribu rupiah)
  • Mahasiswa/ Pelajar
    Tiket Terusan Rp 300.000,- (tiag ratus ribu rupiah)
    Tiket Masuk Rp 100.000,- (seratus ribu rupiah)
Anda yang tertarik menonton bisa mendapatkan Tiket JazzTraffic Surabaya dengan menghubungi salah satu tiket box berikut:
  1. Suara Surabaya FM 100
    Kampung Media, Jl. Wonokitri Besar 40C
  2. Brew & Co,
    Surabaya Town Square (SUTOS) unit P52
    Jl. Adityawarman no. 55 Surabaya
  3. CIDO (Citra Document Solution)
    Jl. Klampis Jaya 15 D Surabaya
  4. TX-Travel Mayjend Sungkono
    Jl. Mayjend Sungkono No. 54 Surabaya,

 

Indra Lesmana Quintet membuka launching Red White [Jazz] Lounge

Tags: , , , , , , , , , , ,


“Ayah saya, Jack Lesmana (alm.) punya dua impian, pertama, punya sekolah musik jazz, yang kedua adalah sebuah jazz club,” tutur Indra Lesmana memberi sambutan di acara launching Red White Jazz Lounge di bilangan Kemang, Jakarta, Minggu malam (2/11).

Dahulu bernama Red & White Lounge dan sebagai wadah berkumpul para musisi jazz lokal dalam rangkaian acara Mostly Jazz sejak akhir tahun lalu, kini lounge tersebut akan meramaikan geliat jazz ibukota dengan program jazz yang semakin padat. Mulai bulan Oktober tahun ini, hari Rabu hingga Minggu, telah terisi penuh oleh musisi-musisi jazz beken yang penampilannya menarik untuk disaksikan.

Necis berbusana setelan jas, Indra menambahkan, “Di sini saya akan menjadi host untuk tiap program, khusus hari Jumat kita bakal muterin rekaman jazz, the real jazz, lewat piringan hitam, experience-nya akan beda dengan dengerin CD,” ujarnya bersemangat.

Selepas kalimat pembuka, Indra memanggil keempat rekan yang siap tampil bersamanya, grup ini diberi nama Indra Lesmana Quintet dengan line-up Indra Lesmana (piano, kibor), Indra Aziz (saksofon alto), Donny Sundjojo (kontrabas), Indra Artie Dauna (trumpet), dan partnernya bersama LLW, Sandy Winarta (drum). Kelimanya kompak mengenakan setelan jas, dan mengawali pertunjukan lewat sebuah nomor dari Thelonious Monk.

Indra Lesmana Quintet saat tampil di Red White Jazz Lounge, Jakarta

Indra Lesmana Quintet saat tampil di Red White Jazz Lounge, Jakarta

Sederet nomor jazz standar mereka tampilkan, semisal laju bebop atas “Groovin’ High” milik Dizzy Gillespie, atau serunya blues di nomor bergaya hardbop “Moanin’” yang dibawakan secara energik. Setelah rehat, kuintet itu hadir kembali lewat hentakan medium funk “Butterfly” dari Herbie Hancock, juga sesi trading fours atraktif dalam komposisi John Coltrane, “Giant Steps.”

Acara berlanjut dengan jam session, Indra mengundang pemain bas Barry Likumahuwa, pianis muda Sri Hanuraga, penggitar Johanes Radianto, sedangkan kursi drum masih diduduki Sandy Winarta. Saksofonis tenor asal Jerman yang Jumat lalu menggelar konser pada Serambi Jazz bersama grup max.bab, Max von Mosch, turut serta menghangatkan malam yang semakin larut.

Berganti hari, saksofonis Indra Aziz mendapat kejutan. Ternyata ia sedang berulang tahun! Tampak Honhon Lesmana memberikan kue ulang tahun yang disambut Indra Aziz dengan sumringah sembari mengucapkan terima kasih teriring tepuk tangan audiens. Ia kemudian menanggalkan saksofonnya lalu beratraksi vokal dalam nyanyian “Bye Bye Blackbird.”

Ketika ditanya perihal acara malam itu, Indra Lesmana menjawab singkat, “
 [to be] The first ever jazz club in Jakarta,” tandasnya.

Proficiat!

Info lengkap rangkaian program Red White Jazz Lounge dapat disimak pada:
http://redwhitelounge.com/home/welcome.html

Silakan follow akun twitter Red White Jazz Lounge @RWLounge

Locafore digelar 23-25 September 2011 di Kota Baru Parahyangan

Tags: , , , , , ,


Sebuah acara yang menggabungkan seni, desain dan jazz festival akan digelar pada tanggal 23-25 September 2011 di Bale Pare, Kota Baru Parahyangan Bandung dan tidak dipungut biaya. Acara ini sebenarnya memasuki tahun penyelenggaraan kedua, namun namanya mengalami perubahan meski tetap diadakan ditempat yang sama.

Dalam tiga hari jazz festival, akan ditampilkan musisi-musisi jazz terbaik Indonesia seperti LLW, Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, Syaharani, Bubi Chen, Dira Sugandi, Benny Likumahuwa, Shadow Puppets, Sandy Winarta,  The Jongens dan lain-lain.

Pada hari Jumat, 23 September 2011 acara akan dimulai pada pukul 14.30 dengan menampilkan kelompok Starlite yang disusul dengan Newcitylife, Sister Duke. Usai adzan magrib acara akan dilanjutkan dengan menampilkan Maya Hasan The Sound of Light, Jubing Kristianto dan Lala Suwages.

Pada hari Sabtu, 24 September 2011 akan dibuka oleh Hemiola yang dilanjut dengan The Tripp, 4Sixteenth, Julian Abraham Marantika dan The Jongens. Usai adzan magrib The Musical Troops, Margie Segers, Andien dan Benny Likumahuwa serta LLW (Indra Lesmana, Barry Likumahuwa dan Sandy Winarta) akan menghangatkan suasana Malam Minggu.

Dihari ketiga Minggu, 25 September 2011 akan tampil IMDI Ensemble, Shadow Puppets Quartet, ESQI:EF Syaharani & Queenifireworks, Ade Irawan, Dira Sugandi, Bubi Chen dan Maliq & D’essentials.

Anda yang membutuhkan jadwal lengkap kegiatan selama tiga hari silakan mengklik link berikut ini.
Jadwal acara hari Jumat, Sabtu dan Minggu.

Seri Seru Peluncuran “Love Life Wisdom” (Kotamu Kapan?)

Tags: , , , , ,


Setelah membuka dengan sapaan, Indra Lesmana iseng bertanya, “Gimana rasanya dengerin jazz di Hard Rock?” Sambil senyum-senyum pikirkan jawaban, kita boleh serius coba merangkai puzzle sosok ini. Niscaya ada pojok-pojok yang didekasikannya pada grup-grup bersemangat terobosan. Debut LLW (Double L Double U) di wilayah modern cukup masuk akal menilik riwayat Reborn di tahun 2000. Asyiknya adalah, ketimbang pesta rombongan besar, paket ini datang lebih kompak sebagai trio. Dalam cetak tebal trio Indra, kita bisa sebut jelajah abstrak PIG dan hardbop akustik-etnikal Kayon sebelum LLW lahir lewat embrio jam band. Namun, LLW tumbuh tidak dalam potret generik intensitas pola jam semacam Medeski Martin & Wood (MMW), alun lirikal memecah groove berat dari baris rendah piano yang kerap simultan imbangi bass.

Morning Spirit” yang dipilih malam itu pun punya jeda santai menyamarkan trik sukar ritme menyambut solo. Porsi pertama untuk piano adalah beda dengan porsi untuk bass, bak merayakan pagi dengan dua nyawa. Barry Likumahuwa, magnet penggemar belia, memang diberi peluang seimbang untuk tampil di depan, jikapun warna bassnya sudah cukup kental mencirikan trio ini.

Di sudut lain bangun trio ini, Sandy Winarta mengawal ketat dengan permainan rapat dan kaya ragam aksen. Slot improvisasi drum “Back Into Sumthin” pun diimposisi tegas, membuat yang janggal terdengar alami.

Keseluruhan gairah live bisa didengarkan lewat rekaman bertajuk “Love Life Wisdom” yang rilis perdana secara digital via internet disambung cakram padat edisi Twitter yang bisa dibeli secara fisik sejak 10 Juli lalu. Namun, kita akan melewatkan siklus-terlahir-kembalinya klasik “Bulan di Atas Asia” ataupun versi funkReborn” (yang menghapus ingatan ekor latinnya) jika tak menonton konsernya. Belakangan bahkan Indra gandrung memboyong piano elektrik Wurlitzer vintage 70-an ketimbang Rhodes. The beast, begitu kira-kira ia sempat dijuluki Indra, ternyata jinak dan lebih anggun bunyikan harmoni. Kesempatan yang sayang pula jika terlewat adalah merasakan lenting ekspresif talk box (yang sering saru dengan vocoder) gabung solo Moog dalam tolakan gravitasi saat tajuk album diluncurkan vokal tebal Dira Sugandhi ke atmosfer lantai dansa berlabel acid jazz.

Masih haus? Dahaga urban bersilangan jalan kembali temukan oase saat tutur rap ditingkahi decit turntable dieksekusi tangguh Kyriz Boogieman dan DJ Cream pada tributeStretch N Pause” yang bernafas blues. Kali ini bagian voice adalah komplemen Indra Aziz.

***

Pentas Hard Rock Cafe adalah bagian dari peluncuran album LLW yang kali ini dituanrumahi Magnetic Brava, sebuah program yang membidik target pendengar radio Brava 103.8 FM (Brava Listeners) untuk lebih mengenal dekat stasiun favoritnya secara off air. Jadwal padat, menunggu konfirmasi, dan tuan rumah berbeda tampaknya bakal menyusulkan panggung-panggung berikutnya. Kotamu kapan?

Charlie Haden Liberation Music Orchestra sertakan dua musisi muda Jazz Indonesia

Tags: , , , ,


Bassis kenamaan Charlie Haden – memimpin Liberation Music Orchestra - akan tampil di Mosaic Music Festival bersama Summertimes Hotshots yang terdiri dari para musisi dari the Summertimes Big Band – yang anggotanya berasal dari sejumlah negara termasuk Indonesia.

Dua musisi muda Jazz Indonesia yaitu Robert Mulyarahardja (gitar) dan Sandy Winarta (drums) turut ambil bagian dalam LMO yang tampil festival musik selama sepuluh hari dimulai dari tanggal 11 hingga 20 Maret 2011 bertempat di gedung durian Esplanade Singapura.

Charlie Haden dan LMO-nya akan tampil dalam acara bertajuk Jazzology, hari Jumat 11 Maret 2011 mulai pukul 11 malam waktu setempat bertempat di Outdoor Theatre, Esplanade.

Charlie Haden Liberation Music Orchestra

Charlie Haden Liberation Music Orchestra

 

Personil asli dari LMO adalah musisi-musisi kenamaan seperti Carla Bley, Gato Barbieri, Sam Brown, Chris Cheek, Don Cherry, Curtis Fowlkes, Sharon Freeman, Mick Goodrick, Michael Mantler, Paul Motian, Amina Claudine Myers, Jim Pepper, Dewey Redman, Perry Robinson, Roswell Rudd dan Miguel Zenón.

LMO telah merilis sejumlah album antara lain

  • Liberation Music Orchestra (1969), Impulse!
  • Ballad of the Fallen (1983), ECM
  • The Montreal Tapes: Liberation Music Orchestra (1999), Verve Records – recorded live on July 8, 1989
  • Dream Keeper (1990), Blue Note Records
  • Not in Our Name (2005), Verve Records

***

Mosaic Music Festival adalah sebuah festival yang berlangsung di Esplanade sejak 2005 dan diselenggarakan selama 10 hari dengan menampilkan sajian musik beragam mulai dari Jazz, Klasik, Rock, Hiphop, Rap dan lain-lain.

Sejumlah musisi Jazz yang telah tampil di Mosaic Music Festival antara lain Chick Corea, Gary Burton, Pat Metheny, Wynton Marsalis, Harry Connick Jr, Brandford Marsalis, JagaJazzist dan banyak lagi lainnya.

Kegiatan Mosaic biasanya diselenggarakan seminggu setelah Java Jazz Festival digelar di Jakarta dan menjadi agenda sirkuit pertunjukan Jazz – khususnya di kawasan Asia-Australia dalam medio Februari-Maret setiap tahunnya.

Tahun ini Mosaic menyajikan Charlie Haden, The Manhattan Transfer, New York Voices, Michel Camilo, the Bad Plus dan Angelique Kidjo.

 

Mostly Jazz IV tampilkan Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, Sandy Winarta

Tags: , , , , ,


Indra Lesmana memang memiliki talenta luar biasa. Setelah merilis album Java Jazz – JOY JOY JOY bersama Dewa Budjana, Donny Suhendra, Gilang Ramadhan dan Ananda Mates, kini bersiaplah menanti album terbaru dari Trio LLW yang mengambil nama belakang dari masing-masing personil yaitu Indra Lesmana, Barry Likumahuwa dan Sandy Winarta.

Penampilan LLW dapat anda nikmati Minggu, 9 Januari 2010 mulai pukul delapan malam wib bertempat di Red and White Lounge, Jl Kemang raya 16 B Jakarta Selatan dengan first drink charge sebesar IDR 50.000,- Selain LLW, bakal tampil pula penyanyi Dira Sugandi, DJ Cream, saxophonis Indra Aziz dan musisi lainnya. Anda yang tertarik menonton dan ingin memesan tempat silakan menghubungi +62 21 71792252.

Kegiatan Mostly Jazz memang sudah beberapa kali dilakukan. Sebuah inisiatif dari pergerakan Indonesian Jazz Movement yang digagas Indra Lesmana dan sang istri Honhon Lesmana. Kegiatan Mostly Jazz di adakah pertama kali 21 April 2010 lalu.

Putra mendiang gitaris kesohor Jack Lesmana ini memang memiliki pesona panggung luar biasa maupun kemampuan menciptakan karya dengan ide dan skill yang melampaui kebanyakan musisi-musisi Indonesia. Jadi tak heran kalau Trio besutannya ini bakal menjadi salah satu penampil yang ditunggu-tunggu di Java Jazz Festival 2011 mendatang.

Sementara bassis Barry Likumahuwa dan drummer Sandy Winarta adalah dua musisi muda yang bersinar karirnya dalam blantika Jazz Indonesia.

Drummer Sandy Winarta pernah menjadi drummer Dwiki Dharmawan, Trisum, Nita Aartsen, dan lain-lain. Sementara Barry yang juga putra trombonis kawakan Benny Likumahuwa merupakan bassis yang energik. Lewat kelompok BLP, demikian nama grup yang diusungnya, mereka langganan event jazz bahkan ke pensi-pensi yang kerap diadakan di sekolah.

Saxophonis asal Denmark, Martin Jacobsen tampil di Jakarta

Tags: , , ,


Saxophonis asal Denmark, Martin Jacobsen akan hadir di Black Cat Senayan, Minggu 14 November 2010 mulai pukul sembilan malam bersama bassis Martin Zenker dalam acara bertajuk One Note Jazz Live.

Martin Jacobsen Black Cat Senayan

Martin Jacobsen Black Cat Senayan

Martin mulai memainkan tenor saxophone dalam usia yang relatif telat, sekitar 19 tahun didorong oleh ekspresi bermusik setelah mendengarkan jazz sekitar setahun terutama Miles Davis group bersama John Coltrane dari era 1950-an.

Pada 1995, ia mendapat saran dari saxophonist Bob Rockwell agar ia pindah ke New York atau Paris. Martin rupanya terdampar dikota “Paree” dan sejak saat itu ia memiliki kesempatan tampil dan bermain bersama Doug Raney, Bobby Durham, David Sanborn, Gil Goldstein, Rick Hollander, Jesse van Ruller, James Genus, Gene Lake, Ricky Peterson, Richard Patterson, Niels-Henning Ørsted Pedersen, Antonio Farao, Alain Jean-Marie, Patrick Villanueva, Greg Burk dan dan banyak lainnya baik dalam CD, show di televisi maupun konser.

Dalam penampilannya di Jakarta, Martin akan ditemani drummer Sandy Winarta dan pianis Sam Panuwon, demikian informasi yang kami himpun dari One Note Entertainment yang menjadi promoter acara ini. Selain tampil di Black Cat, rencananya Martin juga akan tampil di kediaman Duta Besar Denmark.

Martin Jacobsen kini tinggal di Paris, namun kesibukannya membawanya keliling Europa dan luar negeri. Sejumlah negara yang sudah disambanginya antara lain Italy, Inggris, Portugal, Jerman, Macedonia, Albania, Skotlandia, Korea Selatan, Mozambique, Swiss, Spanyol, Hungaria, Belanda, Kanada dan Lebanon dan tentu saja Denmark.

Selain banyak terlibat dipelbagai proyek dalam posisi sideman atau leader, Martin Jacobsen juga bermain bersama David Sanborn dan bannya. Mereka tampil di berbagai festival jazz kenamaan di Eropa seperti North Sea Jazz, Montreux Jazz Festival, Berliner Festspielhaus, New Morning di Paris, Barbican Hall di London dan lainnya, memainkan musik dari album Sanborn yang dirilis dibawah Decca Records, “Here & Gone”.

W/H/A/T Quartet – No Words

Tags: , , , , , , , ,


Deru Jazz Straight-Ahead Sarat Kekinian

1. Diundang
2. Spyros the Dragon
3. Say W/H/A/T
4. 12 Another
5. Minor Blues
6. Get Well Soon
7. Hollow Hartland

W/H/A/T Quartet - No Words

W/H/A/T Quartet - No Words

Seorang komposer/pengarang/kritikus musik/ilustrator Jerman E.T.A. Hoffmann (1776-1822) sempat berujar, “Wo die Sprache aufhört, fĂ€ngt die Musik an.” (Saat kata-kata beranjak pergi, [maka dari itu] musik hadir). Sebuah proposisi untuk menegaskan bahwa musik dapat menakwilkan apa yang tak sanggup tergambar oleh kata-kata. Bertolak dari pernyataan tersebut, album No Words ini seolah bermaksud mendobrak belenggu tekstual lewat olah bunyi dalam tujuh trek atraktif.

Figur Riza Arshad selaku musikus jazz garda depan memberi kontribusi signifikan pada bergulirnya diskursus jazz tanah air. Ia kerap merangkul generasi muda untuk berbagi dan berkreasi secara inklusif, alih-alih menggurui dengan otokratis. Contohnya pada album ini, ia duduk bersama Sri Hanuraga, Indrawan Tjhin, dan Sandy Winarta. Sedangkan nama W/H/A/T Quartet sendiri terambil dari inisial keempat personilnya; Winarta/Hanuraga/Arshad/Tjhin.

Nomor pertama “Diundang” merupakan invitasi kepada sebuah jam session ekstensif, dengan rentang waktu hampir sebelas menit. Diawali permainan unison kontrabas dan piano bersama sinkopasi drum, sepintas terasa seperti garapan musik Esbjörn Svensson Trio (EST). Setelah head (tema utama) dinyatakan, Riza berimprovisasi menggunakan synthesizer sembari mengolah skala Phyrgian dengan gertakan drum interlocking. Kemudian berlanjut menuju performa solo piano Aga dalam laju bebop, jemarinya berkeliaran di atas bilah hitam-putih dengan kecepatan tinggi. Fase ketiga (sehabis solo Riza dan Aga) ditandai lewat pengulangan head hingga berakhir dengan eksplorasi drum poliritmik oleh Sandy.

Sumber inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk video game. Simaklah “Spyros the Dragon” yang terilhami karakter protagonis sebuah permainan aksi berjudul serupa. Terdengar acuan gaya modal jazz pada bagian introduksi dengan melodi mengalir bebas. Semakin dinamis ketika Aga angkat bicara, frase-frase sulit dimainkan secara lugas dan pada beberapa bagian sayup terdengar ia beraksi sambil bergumam, ciri khas pianis klasik Glenn Gould dan pemain piano jazz Keith Jarrett.

Indrawan pun tak mau ketinggalan, petikan kontrabas bernuansa ballad dan melodius menjadi aksen pada komposisi “Say W/H/A/T “ yang sisanya beraroma bebop. Head yang relatif amikal hanyalah pengalihan atas maksud sesungguhnya di nomor “12 Another”. Mengejutkan, tensi berubah drastis dari alunan santai menjadi bunyi centang perenang! Keempatnya terlibat dalam pergulatan seru antar instrumen secara gila-gilaan, mengarah kepada terminologi free jazz besutan Ornette Coleman. Jika ingin merasakan atmosfer berbeda, bolehlah untuk memutar trek ini sebagai pengantar tidur ataupun musik latar pada candle light dinner. Resiko ditanggung pendengar.

Riza tampil intensif dalam “Minor Blues”, bunyi sintetis dari kibornya mirip seperti gitar yang menggunakan efek wah-wah pedal. Kontras dengan nomor lainnya, “Get Well Soon” terdengar manis lewat sajian ballad mengisyaratkan sepenggal rindu dan asa. Pendaran melodi cantik indah berdenting sekaligus berkesan menerawang. Trek penutup adalah “Hollow Hartland” yang naratif, bagai ingin menceritakan rasa sepi di tengah keramaian.

Ratusan Simpatisan FPI Merazia GoetheHaus!

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Laporan Dari Serambi Jazz Edisi Agustus 2010 – Mery Kasiman Project.

Judul di atas tercetus gara-gara Deny Sakrie berulah pada Serambi Jazz malam Jumat lalu (12/8). Berdinas sebagai MC, ia menjuluki hadirin dengan sebutan FPI (Front Penikmat Improvisasi – red.) yang kontan membuat penonton terpingkal. Alih-alih melakukan penggeledahan secara rambang dan destruktif, FPI imbangan malam itu “merazia” dengan cara berbeda; duduk manis, mengangguk-angguk ikuti irama, serta bertepuk tangan seusai tiap lagu dimainkan. Adalah Mery Kasiman beserta belasan kroni tergabung dalam Mery Kasiman Project yang berperan selaku pengisi acara.

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Sudah sepatutnya publik jazz tanah air mencintai Mery. Bagaimana tidak, pianis-komposer-arranger jebolan Program Master Institut Musik Daya ini punya talenta luar biasa dalam urusan musik. Terlebih, wanita kelahiran Jakarta 28 tahun silam tersebut berani untuk menyambung kiprah pada ranah big band, yang di Indonesia jarang tersentuh bahkan oleh kaum adam sekalipun. Selain itu, Mery juga menuangkan bakatnya di teritori musik film, dengan menjadi copyist dan orkestrator bersama Aksan dan Titi Sjuman.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Konser malam itu terbagi menjadi dua sesi tanpa jeda, dengan repertoar lima komposisi orisinil Mery pada bagian pertama kemudian berlanjut empat aransemen buah musik John Coltrane dan Thelonious Monk. Regu yang dikomandani Mery merupakan konstelasi musikus-musikus berbakat tanah air, untuk seksi tiup ia menggandeng Harmoniadi dan Wisnu Fajar (trumpet), Enggar Widodo dan Widiyekso (trombone), Boyke Priyo Utomo (saksofon tenor, flute), Arief Setiadi (saksofon tenor), dan Eugen Bounty (saksofon alto, klarinet). Sementara pada rhythm section tampak Ali Akbar Sugiri (piano), Robert Mulyarahardja (gitar), Indrawan Tjhin (kontrabas), dan Sandy Winarta (drum). Sesi kedua dimeriahkan oleh Riza Arshad (piano, akordeon), Barry Likumahuwa (bas elektrik), dan Dewa Budjana (gitar).  Mungkin inilah alasan mengapa ruangan GoetheHaus begitu sesak, kursi terisi penuh dan bahkan beberapa harus berdiri memenuhi anak tangga pada kedua sisi gedung. Faktor lainnya adalah pertunjukan tersebut gratis adanya.

Acara dimulai dengan komposisi “Floating” lewat introduksi denting piano Ali Akbar memberi kesan sejuk sebelum hembusan tema oleh klarinet memecah ambang kesunyian. Dihiasi pula solo kontrabas mengambil alih kerenggangan harmoni brass section yang mengalun lembut. Arief Setiadi menampilkan aksi solo pada nomor kedua, “Down By The River” yang ditimpali permainan flute Boyke. Sepintas, gaya komposisi Mery mengingatkan kepada garapan musik Amina Figarova yang naratif. Selanjutnya adalah “Waterfall”, komposisi ini memberi ruang lebar bagi Ali Akbar untuk menunjukkan kelincahan jemarinya dan untuk itu tepukan tangan spontan dari audiens dihadiahkan sewaktu ia memikat dengan frase-frase atraktif. Aksentuasi cepat one-two, one-two, one-two-three dalam sukat 7/8 dituangkan Mery pada “The Chat” yang cukup membuat para personil syak wasangka pada awalnya, terutama di seksi tiup. Penonton yang jeli pasti dapat merasakan kegamaman tersebut. Sesi pertama ditutup lewat “Lilac and Brown”, di nomor ini Mery menempatkan instrumen gitar dan trombone sebagai penggagas tema.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Gitaris lintas genre Dewa Budjana meramaikan babak kedua yang dibuka dengan “Moment’s Notice” dari John Coltrane berdetak dalam nuansa bebop. Pada nomor ini Budjana tampil kalem, tidak terlihat adanya aksi penarik perhatian, ia bermain santai saja bersama Arief dan Eugen yang juga diberi jatah solo. Namun Budjana justru menunjukkan daya pikatnya di komposisi Thelonious Monk yang beraroma mellow, “Monk’s Mood”. Melalui gitar birunya, ia membius penonton dengan pengolahan nada-nada manis penuh penjiwaan, didukung oleh goresan keindahan lewat bunyi sayu akordeon Riza Arshad. Atmosfer ruangan menghangat ketika basis idola remaja, Barry Likumahuwa naik ke atas panggung bertukar posisi dengan Indrawan. Saat itu juga Riza menanggalkan akordeon untuk duduk bermain piano pada “Monk’s Dream”. Nomor ini mengayun oleh cabikan bas Barry, audiens terhibur dengan pengolahan tema jenaka baik olehnya maupun Riza, keduanya terlihat berdialog seru sembari melempar senyum.

Repertoar terakhir adalah mahakarya John Coltrane, “Giant Steps” dengan segala kerumitannya dan kentara aransemen Mery yang menghindari resiko dengan tempo lebih lambat dari versi aslinya (260 BPM – beats per minute; konon membuat pianis Tommy Flanagan agak kelimpungan pada sesi rekaman tahun 1959). Setelah penantian cukup lama, akhirnya penabuh drum muda berbakat Sandy Winarta beraksi solo juga, pukulannya sungguh dahsyat – tegas, presisi, dan dinamis. Kecakapan teknis dan jam terbang ekstensif adalah alas an mengapa ia begitu mumpuni lewat selaput plastik, lempeng logam, dan tongkat pemukulnya itu. Barry kembali mencuri perhatian tatkala merepet dengan gila sewaktu giliran solo, performanya sangat mendebarkan!

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Tadinya konser tersebut akan berakhir seusai “Giant Steps”, namun berkat provokasi cerdik Denny Sakrie dan respon pemirsa yang seolah belum puas, mau tidak mau bonus berupa encore diberikan pula. Setelah rembuk alot antar pemain, akhirnya Mery yang awalnya ragu-ragu setuju untuk bermain piano, ditemani akordeon Riza, bas Barry, dan gitar Robert. Mereka tampil lewat “Stella By Starlight” karya Victor Young dengan nuansa serenade. Uniknya, Mery malah terlihat lebih menikmati permainan pianonya ketimbang saat ia menjadi kondakter semenjak permulaan acara. Beberapa birama musik mengalun, tiba-tiba sayup terdengar ketukan drum namun anehnya dimainkan oleh saksofonis Arief Setiadi. Buah keisengan itu justru semakin menambah semarak hingga acara benar-benar selesai.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Pagelaran berdurasi sekurangnya dua jam itu sangat berkesan, ekspresi takjub dan rasa puas tergambar jelas pada raut wajah para audiens setelah acara berakhir. Proyek Mery Kasiman tampaknya ditanggapi baik dan merupakan langkah awal positif untuk ekspansi cetak birunya ini. Secara teknik komposisi maupun aransemen sesungguhnya Mery telah memadai secara akademis, semoga di masa depan ia makin kreatif mengolah aspek non-akademis dan kekinian dengan gayanya yang distingtif. Sejumput catatan ditujukan kepada seksi tiup; entah karena pimpinan ansambel yang malu-malu dan kurang gamblang atau minimnya kesigapan pemain, jelasnya ketimpangan tersebut agak mengganggu kenikmatan estetis yang mestinya dapat tercapai bila rangkaian not di atas kertas dimainkan dengan baik.

Bagaimanapun, acara malam itu memuaskan, impresif, serta layak mendapat pujian. Sangat dinanti penampilan Mery Kasiman Project berikutnya. Salut!

Sarimanouk Quartet – Sarimanouk

Tags: , , ,


Sarimanouk Quartet - Sarimanouk

Sarimanouk Quartet - Sarimanouk

Artist : Sarimanouk Quartet
Album : Sarimanouk
Label : Demajors

Ekspedisi Musikal Empat Musisi

Tercetusnya nama “Sarimanouk” atas grup ini nampaknya memiliki alasan historis sekaligus geografis. Bagaimana tidak, menurut sejarah, “Sarimanok” adalah sebuah bahtera yang digunakan oleh para pelaut Bali ketika mengarungi samudera ke tanah Madagaskar pada abad ke-1 Masehi. Berdasarkan mitologi Bali, “Sarimanok” merupakan nama sejenis burung yang dikeramatkan. Bukanlah suatu kebetulan bahwa Sarimanouk Quartet terdiri dari tiga musikus Indonesia dan seorang musisi Madagaskar. Berangkat dari orakel yang sama tentang kekinian, akhirnya kuartet ini terbentuk.

Grup ini digawangi oleh empat musisi belia; peniup saksofon dari Madagaskar, Ramiandriosa Faralahiherivolannirina Andrianolazaina alias Talafaral, Julian Abraham Marantika (piano), Yudo Nugroho Doni Sundjojo (kontrabas), dan Sandy Winarta(drum). Sarimanouk adalah album pertama mereka, berisi delapan buah trek bergaya jazz modern sarat improvisasi konseptual yang digarap secara khusyuk.

Nomor pembuka “Getting There” nampak seperti sebuah overture menjelaskan ekspedisi musikal mereka. Intro berupa pengolahan tema yang dimainkan unison pada piano dan kontrabass kemudian berpadu solo saksofon dan drum, membawa ingatan tentang kejayaan Miles Davis maupun John Coltranedi era awal 1960-an. Kejutan terjadi ketika ritme yang ajek pada awalnya, berubah menjadi eksplorasi modus whole-tones ecara sinkopasi. Menjelang menit ketiga (komposisi ini berdurasi hampir sebelas menit!), pendengar yang jeli pastilah akan teringat kepada “Acknowledgement” dari album A Love Supreme milik John Coltrane. Julian pun mulai menggila lewat kelincahan jemarinya menggerayangi bilah-bilah piano. Lagu ini ditutup dengan kembali ke modus whole-tonesecara serempak.

Faral tak ketinggalan untuk beraksi, tiupan saksofon sopranonya sungguh maut pada “Time for Change”, sementara Doni melanjutkan dengan solo kontrabas pendingin suasana. Aura ballad dapat dirasakan sewaktu mendengar “Meno’s Mood” dan “Reunion 5” yang cenderung meditatif. Irama groovy turut disajikan dalam pembuka “Reunion 3”, beat rampak yang mengalir semakin menggoda pendengarnya untuk bergoyang. Sekilas, nomor tadi mengisyaratkan acuan terhadap album My Song dari Keith Jarrett dan Jan Garbarek. Kuartet ini tampil rileks tatkala menampilkan “Green House” yang dicirikan dengan hembusan saksofon melodius.

Akurasi dan ledakan energi yang mengagumkan dan berapi-api ditunjukkan oleh Sandy lewat gebukan drum ekstra cepat dalam “Request”, lagu dengan tempo tercepat di album ini. Ketiga personil lainnya pun ikut memamerkan skill yang terlatih baik secara bergiliran tanpa canggung. Sarimanouk diakhiri dengan “Little Bossa” yang dikemas dalam balutan bossa nova, memberi kesan manis dan melegakan.

Secara keseluruhan, album ini begitu menarik untuk disimak, tiap lagu dimainkan dengan ekspresif serta berwawasan modern namun tetap berpegang pada tradisi jazz. Terlebih lagi, keempatnya adalah musisi muda dengan performa sangat mumpuni sehingga musik yang mereka buat terasa segar.


Good jazz is when the leader jumps on the piano, waves his arms, and yells. Fine jazz is when a tenorman lifts his foot in the air. Great jazz is when he heaves a piercing note for 32 bars and collapses on his hands and knees. A pure genius of jazz is manifested when he and the rest of the orchestra runaround the room while the rhythm section grimaces and dances around their instruments. — Charles Mingus


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<