Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "serambi jazz"

Konser Cédric Hanriot: Trio Piano & Katalog Perancis

Tags: , , , ,


Le jazz et la java” membuka penampilan CĂ©dric Hanriot dalam bingkai Serambi Jazz (06/10/’11) atas kerjasama Institute Français Indonesia (IFI) dengan Goethe Institute Indonesia (GI). Trio ini tampil menyusul kerjasama kedua lembaga kebudayaan tersebut dalam konser Eric Legnini, sedangkan pentas “French Stories” ini adalah yang ke dua di Indonesia setelah beberapa bulan lalu sempat ditampilkan di Yogja dan Denpasar. Sesuai tajuknya, trio ini membawakan adaptasi jazz dari katalog populer la chanson française (istilah umum nyanyian berlirik Perancis) yang awalnya berakar pada pemusik keliling (troubadour) hingga transformasi chanson rĂ©aliste (nyanyian realis) tentang kaum miskin dan pekerja di akhir Perang Dunia II yang mengangkat nama biduanita seperti Édith Piaf. Waltz jenaka yang disebut diawal tadi adalah sukses Claude Nougaro dalam kelompok prominen nyanyian Perancis populer. Ia pernah mengirimkan lirik ciptaannya salah satunya kepada Piaf. Nougaro sempat pula bernyanyi untuk kabaret di Montmartre sebagai satu lagi ciri dari masa itu. Trio Hanriot menyelipkan swing di antara melodi asli lagu tersebut yang terdengar seperti sekat-sekat jeda dalam hitungan berbeda.

Trio Cédric Hanriot - GoetheHaus

Trio Cédric Hanriot saat tampil di GoetheHaus sebelum didapuk ke Ambon Jazz Plus Festival 2011

Hanriot yang didukung Bertrand Beruard (double bass) dan Jean-Baptiste Pinet (drum) membawakan pula karya orisinal. Intro “Cinematy” dalam permainan piano bergelombang, landai menurun, persis melambungkan ingatan pada pendekatan Brad Mehldau untuk “Dear Prudence” (Lennon/McCartney), cara moderen menerjemahkan ballad dalam trio piano yang sebetulnya adalah formasi klasik. Pilihan cerita Perancis berikutnya jatuh pada Jacques Brel, “La chanson des vieux amants” yang diimbuhi spoken words di awal dan kemudian di latar, tentu saja berbahasa Perancis, yang tidak sesederhana kalimat-kalimat pendek versi albumnya. Selain memutar trek latar yang sudah dipersiapkan seperti itu, laptop di atas piano Hanriot juga menjadi keluaran beberapa suara sintetik yang dimainkan di atas bilah-bilah MIDI controller-nya melengkapi piano elektrik Rhodes yang juga menjadi instrumen sekunder.

Nomer pamungkas konser dipilih justru dari pembuka album “French Stories” yang sangat funky, “Lousiana”, lengkap dengan permainan sibuk bass dan aksen khas organ. Solo kibor dalam pilihan suara bernuansa kosmik membuat groove semakin kena golnya ditambah lagi bantuan kecil penonton untuk ikut bertepuk tangan di awal dan saat solo bass. Namun, pilihan sengaja menyaringkan treble dari piano akustik tidak terdengar nyaman kendati dipakai untuk menyajikan trio kontemporer. Pukulan Pinet pun agaknya tidak cocok dengan tipe penonton yang lebih suka garis tengah di sekitar osilasi keras dan lembut berada lebih turun ke bawah.

Berkat kerjasama Perancis-Jerman ini muncul wajah-wajah penonton baru di Serambi Jazz. Animo positif kelihatannya akan berbuah pada lebih banyak penampilan lain pada platform Serambi Jazz, membawa citra Eropa dengan segala kekhasannya di peta jazz. Kira-kira begitulah harapan Bertrand de Hartingh (IFI), Frank Werner (GI) dan kurator Riza Arshad saat saling berbalas sambutan singkat.

Liputan: Tiga Tahun Serambi Jazz Hadirkan Max.Bab

Tags: , , , ,


Kalem “Star City” yang disumbangkan pianis Benedikt Jahnel untuk rilis “Inner Orbit” (ACT, 2009) kuartet Max.Bab membuka Serambi Jazz September dengan kesan kuat kendali ensambel di bawah lembut pianissimo. Pembuka ini sedikit banyak mengingatkan akan pikat suksesi melodi yang didapati pada karya-karya kontemporer Yellowjackets (misalnya saja “My Old School” atau “Sea Folk“), terlebih lagi piano dan saksofon sering sengaja hadir berjarak saling komplemen sebagai ciri lainnya. Jahnel sendiri menjelaskan bahwa kuartet ini akan banyak tampilkan karya Max von Mosch (saksofon soprano dan tenor) ataupun yang awalnya dibuat mereka berdua. Pentas malam itu adalah sekaligus akhir dari tur mereka ke beberapa kota dengan sempat singgah di antaranya ke Bangkok dan Kuala Lumpur.

Album terkini yang sekaligus debut di ACT tersebut adalah sebuah suita yang mengisahkan space walk kosmonot Leonov yang bersejarah di tahun 1965, memandangi bumi dari perspektif lain. Pengalaman emosional yang luar biasa itulah yang Max.Bab coba ulangi ke dalam komposisi yang tak tergesa-gesa, tak banyak aksi, dan lebih dalam batin. “Interstellar Exit” pun adalah ballad di atas ketegangan yang diciptakan piano, gentar degup jantung yang hingga berulang kali menggetarkan lutut. Pada album ini pula “From Gagarin’s Point Of View” dari mendiang Esbjorn Svensson ikut beroleh rumah yang pas temanya dengan sekaligus jadi penghormatan atas inovasinya pada jazz hingga meninggal 2008.

Membawa nama Eropa dan kuartet akustik tetap tercirikan dari pola drum Andi Haberl yang dapat porsi solo pada “Human Intent“. Pada seksi ritme, Henning Sieverts mensubsitusi absennya bassist Benny SchĂ€fer dari kelompok ini. Sieverts adalah pengisi lokakarya Serambi Jazz dua tahun silam yang menjadi cikal bakal kelompok muda Shadow Puppet Quartet di tanah air saat mereka ikuti program tersebut. Untuk tahun 2011, Max dan Jahnel-lah yang tetap tinggal memberikan workshop. Bicara soal pernah muda, riwayat kuartet inipun termasuk salah satunya adalah menjadi band SMA. Jahnel menuturkan bahwa mereka kemudian bertebaran di Munich, Berlin, dan Max sendiri baru kembali menuntaskan pendidikannya di Amerika, seorang doktor jazz.

***

Tiga tahun sudah Serambi Jazz turut mewarnai jazz scene lokal khususnya Jakarta. Frank Werner dari program budaya Goethe saat memberikan sambutannya didampingi kurator program Riza Arshad mengatakan bahwa malam itu (30/09/’11) spesial dengan serba tiga; tiga tahun keberlangsungan acara, 30 band sudah, dan 9000 total penonton. Ia pun menambahkan bahwa tiga sekaligus mewakili kesetimbangan pikiran, raga, dan jiwa. Apa yang dikatakannya soal setimbang ada benarnya mengingat antusiasme penonton yang seringkali menyesaki Goethe mewakili selera alternatif di tengah maraknya pentas jazz; kesetimbangan menu.

Workshop Serambi Jazz bersama Max von Mosch & Benedikt Jahnel

Tags: , , , ,


Kegiatan Serambi Jazz pada bulan Oktober tepatnya 1 – 5 Oktober 2011 akan menghadirkan Max von Mosch & Benedikt Jahnel yang merupakan anggota dari MaxBab mulai pukul 10:00 – 16:00 WIB bertempat di GoetheHaus Jalan Sam Ratulangi 9-15 Menteng, Jakarta Pusat.

Workshop ini ditujukan untuk semua musisi yang ingin bisa berimprovisasi, komposer dan penata musik jazz. Dalam workshop ini kita akan banyak bekerja sama, bermusik dan mengaransemen.

Beberapa tema yang akan di bahas dalam workshop ini antara lain:

  1. Komunikasi di atas panggung:
  2. Mendengarkan dan bereaksi satu sama lain, bertindak dan berimprovisasi sebagai kelompok, mengembangkan timing yang pas untuk semua anggota band
  3. Aransemen dan komposisi:
  4. Menulis lagu, menemukan konsep baru, interpretasi lagu
  5. Memimpin band:
  6. Memberikan sentuhan suara tersendiri ke sebuah komposisi yang dapat dimainkan oleh setiap anggota band dan berlatih sesuai tujuan bersama

Tujuan dari workshop ini adalah bersama-sama merancang sebuah repertoar konser. Jadi, kita akan bermusik langsung sebanyak-banyaknya!

Dan tentu saja dalam lima hari yang kita punya kita akan membicarakan juga tema-tema lain yang menarik minat para peserta workshop (misalnya strategi bermusik, teori musik, bisnis musik, dll).

Persyaratan peserta workshop:

  1. Musisi yang memahami dengan baik terminologi jazz dan blues. Dalam workshop ini akan ada praktek langsung memainkan musik (berdasar) jazz.
  2. Masih berumur kurang dari dari 35 tahun.
  3. Domisili di Jabodetabek atau Bandung.
  4. Komitmen hadir penuh selama workshop (lima hari workshop dengan durasi kurang lebih lima jam setiap hari). Peserta yang mengikuti workshop kurang dari tiga hari tidak diperkenankan ambil bagian dalam konser mini di akhir workshop.
  5. Menguasai komunikasi dalam bahasa Inggris, setidaknya pasif.
  6. Dapat membaca not balok.
  7. Memberikan CV (singkat, dalam bahasa Inggris) dan foto digital 4X6.
  8. Memberikan portfolio rekaman karya lagu dalam bentuk CD (2 lagu) atau informasi link untuk karya yang sudah diupload.
  9. Mempunyai pengalaman dalam sebuah grup band yang masih aktif.
  10. Membawa alat musik, kecuali drum-piano.
  11. Batas pendaftaran 20 September 2011.

Pendaftaran dan pertanyaan lain terkait workshop ini dapat ditujukan kepada Roullandi 0816-1977776 email roullandi@yahoo.com

***

 

Max von Mosch – Saksofon
Henning Sieverts – Bass
Andi Haberl – Drum
Benedikt Jahnel – Piano

Kuartet dari selatan Munich ini merupakan keajaiban kecil bagi Jazz Jerman“. Sejak berdirinya mereka lebih dari sepuluh tahun lalu, grup yang awalnya adalah sebuah band sekolah ini telah berkembang menjadi salah satu band jazz muda terbaik di Jerman. Sebuah kisah sukses luar biasa: lebih dari empat ratus konser, di antaranya bersama Charlie Mariano, Wolfgang Muthspiel dan David Friedman, penampilan di berbagai festival seperti JazzBaltica dan Montreal Jazzfestival dan enam album rekaman dengan nama mereka sendiri. Album terakhir mereka ″Inner Orbit“ diproduksi oleh label ACT-Music.

Inilah empat sekawan yang telah lama berkarya bersama, membawa suara mereka sendiri, komposisi-komposisi indah dan senantiasa bermain musik dengan sukacita tak terbatas.

Serambi Jazz Agustus: Chamber Jazz dan Glen Dauna Project

Tags: , ,


Andien & Iwan Hasan di SerambiJazz

Andien & Iwan Hasan di SerambiJazz

Sejak mengutarakan keinginannya pada Chico Hindarto agar dapat bernyanyi untuk grup progresif Discus yang ditontonnya, Andien ternyata awet jalan satu rel dengan gitaris Iwan Hasan. Bawakan “For This Love” bareng Discus, bahkan bertolak ke Jerman ikut Festival Zappanele (Agustus, 2009), bersambung ke Chamber Jazz hingga kini, dengan ide memboyong pemain tuba untuk gantikan pos bass sekaligus drum. Dari berulang kali manggung, Bentara Budaya Jakarta (2009), Salihara, sampai Java Jazz Festival 2011 lalu, Enggar Widodo menggenapi formasi Chamber Jazz, setia meniup tuba. Bulanan Serambi Jazz di Goethe Agustus ini (12/08/’11) kembali membawa formasi unik ini ke atas pentas dengan menampilkan Andy Gomez pada piano dari yang biasanya dikawal Mery Kasiman.

Enggar Widodo & Andien

Enggar Widodo & Andien

Iwan Hasan

Iwan Hasan

Dat Dere” yang mengalir lancar dalam gaya obrolan saling timpal adalah lagu yang menggemaskan untuk disimak live. Bagaimana tidak, Andien berlakon pas sebagai anak Iwan Hasan yang merengek inginkan segala sesuatu yang dilihatnya, hingga bahkan tunjuk, “I want that big elephant over there!” Iwan meladeni “putrinya” itu, kadang memotong kalimat manjanya, dalam jawaban yang membungkus rapi blues tradisional yang dahulu biasa menceritakan kegelisahan kaum kulit hitam. Nomer ini pulalah yang dapat melibatkan penonton dalam drama ayah-anak tersebut dengan Andien malam itu memilih kamera foto salah seorang di barisan depan sebagai korbannya. Tanpa terasa pula, tiupan Enggar jadi bas berjalan yang disiplin menandai tiap ketukan kuat sementara piano Andy membunyikan ketukan lemah.

Andy Gomez

Andy Gomez

Kesempatan unik yang lain adalah mendengar emulasi dengung logam gamelan lewat manipulasi karakter sustain gitar Iwan Hasan pada medleyJavanese Suite“. Ia menggunakan staples pada dawai-dawainya, manipulasi yang diistilahkan prepared guitar dan digunakan sebelumnya oleh misalnya, gitaris klasik DuĆĄan Bogdanović atau Apostolos Paraskevas, ataupun prepared piano oleh John Cage. Saat semua senyap, hanya bunyi gema permainan gamelan yang memenuhi ruangan, seolah menggambarkan ruang berkhalwat atau malah pengalaman suwung. Andien menembang sederhana, meninabobokan menurut kebiasaan Jawa (“Tak Lelo Lelo Lelo Ledung“). Lagu ini menjadi kesempatan untuk tampilkan warna progresif Iwan Hasan dengan menyambungkan kontras “Padang Bulan” dan “Cublak Cublak Suweng“.

***

Sering tampil sebagai sideman, mungkin menyebabkan banyak yang tak tahu bahwa Glen Dauna punya komposisi-komposisi orisinal. Kreasi hingga satu dekade lalu dirangkumnya dalam album “Flying Kites” dengan “Kembali”, selesai Juni 2008, sebagai karya terkini yang masuk. Matang berkat rajin pentas, Glen Dauna Project jauh mengungguli albumnya dengan dukungan anak-anak Glen sendiri, Indra Artie Dauna (trumpet dan flugelhorn) dan Rega Dauna (harmonika) yang ikut unjuk diri malam itu. Fusi “She” yang menggigit di atas rapat simbal straight ahead (Deska Anugrah Samudra) plus shaker Adjie Rao terdengar sangat moderen, menampilkan Jeffrey Tahalele sebagai tamu.

Glenn Dauna di SerambiJazz

Glenn Dauna di SerambiJazz

Indra yang ditampilkan di pembuka “Something” tanpa canggung, permainan ballad muted trumpet-nya dapat kita cari di album perdana Bandanaira. Rega, 13 tahun, yang dimunculkan “I’ve Grown Accustomed to Her Face” ternyata istimewa, punya kualitas lirikal, warna tonal dan bending ala Toots Thielmans (bisa dicek di video ini). Nomer musikal klasik My Fair Lady (1956) itu juga jadi kesempatan Glen untuk tunjukkan kelihaian aransemennya. “Midnight” bertempo lambat juga bisa direkomendasikan sebagai andalan orisinal Glen, apalagi ada unison Indra dan Rega eksekusi melodi kuatnya. Proyek ini didukung double bass Joshua Arifin untuk Serambi Jazz, sehingga otomatis mayoritas adalah bakat-bakat muda.

Indra Artie Dauna

Indra Artie Dauna

Jeffrey Tahalele & Rega Dauna

Jeffrey Tahalele & Rega Dauna

Yakou Tribe, Meniti Malam Dengan Olah Bunyi Penembus Nurani

Tags: , , , , ,


Serambi Jazz, GoetheHaus, Jumat 21 April 2011.

Konsistensi Serambi Jazz dalam menghibur dan mendukung pengembangan apresiasi jazz di tanah air mulai terbukti. Tahun ini adalah tahun ketiga bergulirnya acara yang juga mempererat jalinan kawan dua negara, Indonesia dan Jerman. Sepanjang tahun 2010, sebanyak 46 musisi, 8 grup dari Jerman dan Indonesia berkontribusi dalam Serambi Jazz, dengan sajian musik jazz bermutu tinggi dan variatif ditambah lokakarya yang pula menjadi program penting. Oleh karena itu pula, acara tersebut selalu dinanti para penikmat jazz di Indonesia. Sudah gratis, pun berkelas. Mau apa lagi? Tentunya ini adalah hasil kerja keras Riza Arshad, figur jazz garda depan di Indonesia selaku penggagas dan kurator. Sebuah upaya yang patut didukung berbagai pihak yang berniat memajukan perkembangan jazz dalam negeri.

Yakou Tribe @ Serambi Jazz, 2011

Yakou Tribe @ Serambi Jazz, 2011

Setelah dibuka lewat konser Groens Project dan David Manuhutu Februari lalu, Kini Serambi Jazz menyuguhkan sajian menarik grup asal Berlin, Yakou Tribe. Sebelum manggung di GoetheHaus Jakarta, sehari berselang mereka tampil di Bandung, yang juga mendapat respon positif dari audiens. Kelompok ini dengan mudah berkelana di antara batasan jazz, Americana, dan pop. Terdiri atas empat musisi berpengalaman; Kai BrĂŒckner (gitar, banjo, mandolin, dobro), Jan von Klewitz (saksofon), Johannes Gunkel (kontrabas, bas gitar) serta Rainer Winch (drum), Yakou Tribe menyuarakan perpaduan unik antara luasnya ranah Amerika dan dunia malam Berlin. “Yakou” berasal dari bahasa Jepang yang berarti “perjalanan malam” atau “cahaya mistis.”

Johannes Gunkel (Yakou Tribe)

Johannes Gunkel (Yakou Tribe)

Pertunjukan dimulai tepat pukul setengah delapan malam, tampak kursi penonton telah terisi penuh. Nomor pertama adalah “Darum,” ketika mendengarnya langsung terasa cita rasa jazz Eropa yang presisi serta harmoni kompleks pun sesekali bernuansa enigmatis. Memasuki komposisi kedua, Johannes yang sebelumnya menggendong bas elektrik, beralih akustik ke kontrabas. Perubahan signifikan terdengar dalam “Round,” tempo menjadi lambat dengan dialog interaktif Kai dan Jan. Pada repertoar berikutnya, sang peniup saksofon membuka jasnya seiring dengan musik yang memanas lewat deru “Fox and Goose.”

Rainer Winch (Yakou Tribe)

Rainer Winch (Yakou Tribe)

Yakou Tribe bukanlah grup jago kandang, mereka telah bermain di berbagai penjuru dunia; Jerman dan sekitarnya, Amerika, India, hingga Afrika sudah pernah dilakoni. Cerita unik menjadi narasi untuk komposisi “Bila Jina,” kisahnya adalah judul tersebut diberikan oleh seorang penonton di Nairobi setelah mendengar gubahan itu dimainkan, “sebelumnya komposisi ini, seperti beberapa komposisi lain, belum punya judul,” jelas Kai. Tercermin dari ragam olah bunyi Yakou Tribe yang kaya spontanitas, dengan pola ritme variatif terutama lewat pukulan drum Rainer yang juga seringkali mengeksplorasi instrumen – instrumen perkusi yang memiliki karakter suara khas.

Kai BrĂŒckner (Yakou Tribe)

Kai BrĂŒckner (Yakou Tribe)

Gitaris dan pentolan grup ini, Kai BrĂŒckner, punya andil besar dalam membentuk kerangka musikal Yakou Tribe. Sebelum kuliah, ia terbiasa manggung bersama band – band rock di Berlin. Fase selanjutnya adalah dirinya pindah ke New York dan berkesempatan menimba ilmu dan pengalaman dari para gitaris beken semisal Mike Stern, Wayne Krantz, dan John Abercrombie. Aksinya nampak pada nomor “Rejoice” yang naratif, mungkin karena iapun sering membuat komposisi musik film. Malam itu, band tersebut melaju dengan menghadirkan komposisi “Winterlied” dan “Raogo.”

Jan von Klewitz (Yakou Tribe)

Jan von Klewitz (Yakou Tribe)

Hentakan beat khas musik bluegrass kentara sekali waktu mereka mainkan “JĂ€ger Hofstr” dan repertoar terakhir “Boogaloo,” sedangkan saksofonis Jan von Klewitz mengerahkan segala kemampuan tiupnya pada nomor bonus bergaya funk, “Don Camelone” yang pula mengakhiri konser Yakou Tribe malam itu. Sebuah pertunjukan yang berkelas dan menghibur oleh Yakou Tribe, dan bersiaplah untuk gelaran Serambi Jazz episode ketiga di tahun ini pada bulan Juni mendatang dengan penampilan musisi jazz lokal, Benny Likumahuwa Jazz Connection dan Kuartet Sandy Winarta.

Wolfgang Haffner Trio Menutup Serambi Jazz 2010 Dengan Penampilan Konklusif

Tags: , , , ,


Laporan dari Putaran Akhir Serambi Jazz 2010, GoetheHaus Jakarta, 10 Desember 2010

Hubungan baik antara dunia musik (jazz) Indonesia dan Jerman sudah terjalin semenjak 1967. Titik tolaknya adalah waktu Indonesian All Stars (Bubi Chen, Kiboud Maulana, Jack Lesmana, Benny Mustafa, Maryono, Jopie Chen) mentas di Berlin Jazz Festival tahun itu. Sejarah pun mencatat bahwa Indonesian All Stars merupakan grup dalam negeri yang pertama tampil pada perhelatan jazz internasional. Relasi itu kemudian disegarkan kembali lewat program tahunan Serambi Jazz yang telah memasuki tahun kedua, sebagai buah kerja keras Riza Arshad selaku kurator beserta rekan-rekan yang turut berpartisipasi menggarap acara jazz berkualitas dan apresiatif, terutama untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya.

Setelah mengikuti rangkaian Serambi Jazz yang dimeriahkan oleh banyak musisi lokal, program tersebut ditutup dengan penampilan trio asal Jerman bernama Wolfgang Haffner Trio yang digawangi oleh tiga pemain kelas dunia; Wolfgang Haffner (drum), Hubert Nuss (piano), dan Robert Landfermann (kontrabas). Konser mereka di Jakarta malam itu merupakan bagian dari tur “Round Silence” Eropa-Asia sekaligus untuk mempromosikan album terbaru trio ini yang berjudul sama.

Wolfgang Haffner Trio di Serambi Jazz 2010

Wolfgang Haffner Trio di Serambi Jazz 2010

Pertunjukan dibuka lewat nomor “Faithless” yang banyak menggunakan ostinato piano dengan garapan melodi sederhana namun eksploratif, serta permainan Robert yang tampak memainkan kontrabas secara sul ponticello (digesek dekat dengan bridge – red.) sehingga menimbulkan frekuensi tinggi yang memberi efek harmonik. Sedangkan juru ritme Wolfgang menghadirkan pukulan-pukulan akurat dan kompleks, sesekali dirinya menarik perhatian dengan gertakan offbeat sembari tersenyum jahil. Keahlian memukul drum ia tampilkan solo di komposisi kedua, “Shapes” sementara kedua rekannya mengolah harmoni disonan secara inovatif.

Wolfgang Haffner

Wolfgang Haffner

Berlanjut dengan komposisi ballad “Wordless”, kini giliran Hubert memanjakan penonton lewat denting piano yang melantunkan nada-nada indah sarat melankolia. Waktu menyimak nomor ini, entah mengapa terbersit nuansa khas karya-karya piano tunggal Tchaikovsky yang menggugah batin. Wolfgang menghiasi dengan sapuan stik brush penuh kehalusan. Trio ini tak perlu lagi diragukan kekompakannya, karena masing-masing personil adalah musisi berpengalaman dengan jam terbang tinggi, begitu asyik untuk menikmati goyangan samba pada nomor “Ride”, terlihat Wolfgang berganti-ganti alat pemukul drum, mulai dari stik kayu, brush, mallet, hingga palu mainan anak-anak yang berbunyi jenaka yang ia gunakan dalam “New Life”. Alhasil, ulahnya itu membuat audiens tergelak dan kagum pada saat bersamaan. Tidak hanya itu, ia pun beratraksi meriah ketika mallet yang digenggamnya menari lincah di atas bilah-bilah silofon mini, ukurannya sedikit lebih besar dari pianika.

Konser hampir usai waktu ketiganya menampilkan “Silent Way”, namun karena penonton meminta lebih akhirnya trio itu, yang telah berada di belakang panggung, kembali beraksi lewat encore “Space in Beetween” sambil bergantian solo penuh daya pikat dan Wolfgang-Hubert-Robert menamatkan Serambi Jazz 2010 dengan gemilang. Wunderbar!

Serambi Jazz Edisi Oktober: TCP/IP – The Collaboration Project of Imam Pras

Tags: ,


Program Serambi Jazz edisi Oktober 2010 akan menghadirkan TCP/IP, sebuah proyek kolaborasi gagasan Imam Pras. TCP/IP adalah singkatan dari The Collaboration Project of Imam Pras. Imam adalah pemain piano, keyboard, dan pengarah musik yang handal. Pria kelahiran Madiun, 6 April 1964 ini salah satu pianis jazz asal Bandung yang menonjol setelah generasi Elfa Secioria dan Bambang Nugroho.

Serambi Jazz kali ini menampilkan kerjasama musikal kelompok IPQ (Imam Pras Quartet/Quintet), beranggotakan Imam Pras (piano), Boyke Priyo Utomo (saksofon tenor), Rudy Zulkarnaen (kontrabas), Arifandi (drum) dan Lia Amalia (vokal) dan seniman tradisional. Bersama IPQ dimainkan komposisi orisinil, komposisi ciptaan komponis Indonesia dan juga komposisi jazz standar dalam formasi kuartet akustik. TCP/IP juga mengeksplorasi lagu-lagu Nusantara serta memainkan musik kolaborasi warna IPQ awal dan warna seniman tradisional tersebut, sehingga muncul warna musik yang menarik.

Anda yang berminat menonton sebaiknya mendaftar terlebih dahulu mengingat tempat terbatas. Catat tanggal dan tempat penyelenggaraan Serambi Jazz, yaitu Kamis, 21 Oktober 2010 mulai pukul 19:30 WIB bertempat di GoetheHaus Jalan Sam Ratulangi No. 9-15, Menteng, Jakarta Pusat.

Acara ini gratis dan reservasi dapat menghubungi +62 21 23550208 Ext. 147/157

Ratusan Simpatisan FPI Merazia GoetheHaus!

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Laporan Dari Serambi Jazz Edisi Agustus 2010 – Mery Kasiman Project.

Judul di atas tercetus gara-gara Deny Sakrie berulah pada Serambi Jazz malam Jumat lalu (12/8). Berdinas sebagai MC, ia menjuluki hadirin dengan sebutan FPI (Front Penikmat Improvisasi – red.) yang kontan membuat penonton terpingkal. Alih-alih melakukan penggeledahan secara rambang dan destruktif, FPI imbangan malam itu “merazia” dengan cara berbeda; duduk manis, mengangguk-angguk ikuti irama, serta bertepuk tangan seusai tiap lagu dimainkan. Adalah Mery Kasiman beserta belasan kroni tergabung dalam Mery Kasiman Project yang berperan selaku pengisi acara.

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Mery Kasiman saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Sudah sepatutnya publik jazz tanah air mencintai Mery. Bagaimana tidak, pianis-komposer-arranger jebolan Program Master Institut Musik Daya ini punya talenta luar biasa dalam urusan musik. Terlebih, wanita kelahiran Jakarta 28 tahun silam tersebut berani untuk menyambung kiprah pada ranah big band, yang di Indonesia jarang tersentuh bahkan oleh kaum adam sekalipun. Selain itu, Mery juga menuangkan bakatnya di teritori musik film, dengan menjadi copyist dan orkestrator bersama Aksan dan Titi Sjuman.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Konser malam itu terbagi menjadi dua sesi tanpa jeda, dengan repertoar lima komposisi orisinil Mery pada bagian pertama kemudian berlanjut empat aransemen buah musik John Coltrane dan Thelonious Monk. Regu yang dikomandani Mery merupakan konstelasi musikus-musikus berbakat tanah air, untuk seksi tiup ia menggandeng Harmoniadi dan Wisnu Fajar (trumpet), Enggar Widodo dan Widiyekso (trombone), Boyke Priyo Utomo (saksofon tenor, flute), Arief Setiadi (saksofon tenor), dan Eugen Bounty (saksofon alto, klarinet). Sementara pada rhythm section tampak Ali Akbar Sugiri (piano), Robert Mulyarahardja (gitar), Indrawan Tjhin (kontrabas), dan Sandy Winarta (drum). Sesi kedua dimeriahkan oleh Riza Arshad (piano, akordeon), Barry Likumahuwa (bas elektrik), dan Dewa Budjana (gitar).  Mungkin inilah alasan mengapa ruangan GoetheHaus begitu sesak, kursi terisi penuh dan bahkan beberapa harus berdiri memenuhi anak tangga pada kedua sisi gedung. Faktor lainnya adalah pertunjukan tersebut gratis adanya.

Acara dimulai dengan komposisi “Floating” lewat introduksi denting piano Ali Akbar memberi kesan sejuk sebelum hembusan tema oleh klarinet memecah ambang kesunyian. Dihiasi pula solo kontrabas mengambil alih kerenggangan harmoni brass section yang mengalun lembut. Arief Setiadi menampilkan aksi solo pada nomor kedua, “Down By The River” yang ditimpali permainan flute Boyke. Sepintas, gaya komposisi Mery mengingatkan kepada garapan musik Amina Figarova yang naratif. Selanjutnya adalah “Waterfall”, komposisi ini memberi ruang lebar bagi Ali Akbar untuk menunjukkan kelincahan jemarinya dan untuk itu tepukan tangan spontan dari audiens dihadiahkan sewaktu ia memikat dengan frase-frase atraktif. Aksentuasi cepat one-two, one-two, one-two-three dalam sukat 7/8 dituangkan Mery pada “The Chat” yang cukup membuat para personil syak wasangka pada awalnya, terutama di seksi tiup. Penonton yang jeli pasti dapat merasakan kegamaman tersebut. Sesi pertama ditutup lewat “Lilac and Brown”, di nomor ini Mery menempatkan instrumen gitar dan trombone sebagai penggagas tema.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Gitaris lintas genre Dewa Budjana meramaikan babak kedua yang dibuka dengan “Moment’s Notice” dari John Coltrane berdetak dalam nuansa bebop. Pada nomor ini Budjana tampil kalem, tidak terlihat adanya aksi penarik perhatian, ia bermain santai saja bersama Arief dan Eugen yang juga diberi jatah solo. Namun Budjana justru menunjukkan daya pikatnya di komposisi Thelonious Monk yang beraroma mellow, “Monk’s Mood”. Melalui gitar birunya, ia membius penonton dengan pengolahan nada-nada manis penuh penjiwaan, didukung oleh goresan keindahan lewat bunyi sayu akordeon Riza Arshad. Atmosfer ruangan menghangat ketika basis idola remaja, Barry Likumahuwa naik ke atas panggung bertukar posisi dengan Indrawan. Saat itu juga Riza menanggalkan akordeon untuk duduk bermain piano pada “Monk’s Dream”. Nomor ini mengayun oleh cabikan bas Barry, audiens terhibur dengan pengolahan tema jenaka baik olehnya maupun Riza, keduanya terlihat berdialog seru sembari melempar senyum.

Repertoar terakhir adalah mahakarya John Coltrane, “Giant Steps” dengan segala kerumitannya dan kentara aransemen Mery yang menghindari resiko dengan tempo lebih lambat dari versi aslinya (260 BPM – beats per minute; konon membuat pianis Tommy Flanagan agak kelimpungan pada sesi rekaman tahun 1959). Setelah penantian cukup lama, akhirnya penabuh drum muda berbakat Sandy Winarta beraksi solo juga, pukulannya sungguh dahsyat – tegas, presisi, dan dinamis. Kecakapan teknis dan jam terbang ekstensif adalah alas an mengapa ia begitu mumpuni lewat selaput plastik, lempeng logam, dan tongkat pemukulnya itu. Barry kembali mencuri perhatian tatkala merepet dengan gila sewaktu giliran solo, performanya sangat mendebarkan!

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Barry Likumahuwa saat tampil di Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Tadinya konser tersebut akan berakhir seusai “Giant Steps”, namun berkat provokasi cerdik Denny Sakrie dan respon pemirsa yang seolah belum puas, mau tidak mau bonus berupa encore diberikan pula. Setelah rembuk alot antar pemain, akhirnya Mery yang awalnya ragu-ragu setuju untuk bermain piano, ditemani akordeon Riza, bas Barry, dan gitar Robert. Mereka tampil lewat “Stella By Starlight” karya Victor Young dengan nuansa serenade. Uniknya, Mery malah terlihat lebih menikmati permainan pianonya ketimbang saat ia menjadi kondakter semenjak permulaan acara. Beberapa birama musik mengalun, tiba-tiba sayup terdengar ketukan drum namun anehnya dimainkan oleh saksofonis Arief Setiadi. Buah keisengan itu justru semakin menambah semarak hingga acara benar-benar selesai.

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Serambi Jazz edisi Agustus 2010

Pagelaran berdurasi sekurangnya dua jam itu sangat berkesan, ekspresi takjub dan rasa puas tergambar jelas pada raut wajah para audiens setelah acara berakhir. Proyek Mery Kasiman tampaknya ditanggapi baik dan merupakan langkah awal positif untuk ekspansi cetak birunya ini. Secara teknik komposisi maupun aransemen sesungguhnya Mery telah memadai secara akademis, semoga di masa depan ia makin kreatif mengolah aspek non-akademis dan kekinian dengan gayanya yang distingtif. Sejumput catatan ditujukan kepada seksi tiup; entah karena pimpinan ansambel yang malu-malu dan kurang gamblang atau minimnya kesigapan pemain, jelasnya ketimpangan tersebut agak mengganggu kenikmatan estetis yang mestinya dapat tercapai bila rangkaian not di atas kertas dimainkan dengan baik.

Bagaimanapun, acara malam itu memuaskan, impresif, serta layak mendapat pujian. Sangat dinanti penampilan Mery Kasiman Project berikutnya. Salut!

Serambi Jazz im GoetheHaus: Indrawan Tjhin Group Nikita Dompas & His Fellow Musicians. Jawohl, Mein FĂŒhrer!

Tags: , , , , , , , ,


Tawa penonton pecah ketika sang pembawa acara, berambut plontos dengan gaya ceplas-ceplos berkata: “…musik jazz itu mengumbar improvisasi, nah kalau Ariel [Peterpan – red.] mengumbar privasi”, ujarnya sembari merakah. Kamis malam itu (10/6), adalah Hamdan Syukrie alias Denny Sakrie bertugas memandu jalannya acara dengan gaya santai dan komentar-komentar usil penuh canda.

Indrawan Tjhin, kontrabasis yang merampungkan studinya di Koninklijk Conservatorium, Den Haag pada tahun 2009 ini membuka konser lewat aksi solonya yang memikat, walaupun awalnya terasa canggung namun ia segera bisa mengatasi dengan bermain lebih mengalir. Atmosfer ruangan auditorium GoetheHaus di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, kian marak ketika Indrawan mengundang satu demi satu personil grupnya, Indra Artie Dauna (trumpet); Alvin Wirianata (piano), dan Yusuf Shandy Satya (drum) seraya melantunkan irama bebop dalam “Straight, No Chaser” karya Thelonious Monk. Dilanjutkan dengan “It’s Your Problem”, komposisi orisinil Indrawan bernuansa jazz latin. Kuartet ini tampil solid malam itu, betotan kontrabas, denting piano, pukulan drum maupun tiupan trumpet ditampilkan penuh greget.

Tidak percuma Indrawan membawa bow (penggesek) malam itu. Ia memainkannya dalam “As Far As a Prayer” yang tema dan aransemennya sepintas mirip dengan “My Funny Valentine” namun berkesan surgawi, berkat kesanggupan menggesek dawai instrumennya itu dengan cukup baik. Komposisi Thelonious Monk kembali dibawakan, kali ini adalah “I Mean You” dalam balutan irama swing. Karakteristik permainan Monk yang cenderung disonan, melodi berliku-liku, dan akor “tajam”, ditampilkan secara representatif oleh Alvin. Gitaris jazz Peter Bernstein adalah salah satu musisi idola Indrawan, terwujud pada nomor penutup aksi Indrawan Tjhin Group, “Pete’s Tune” yang merupakan dedikasi Indrawan terhadap gitaris pujaannya itu. Aksi grup ini diakhiri lewat solo kontrabas setelah ketiga personil lainnya meninggalkan panggung secara berurutan. Dramaturgi yang lumayan menarik hati untuk menyudahi pertunjukan.

Jika Indrawan Tjhin Group menjunjung straight-ahead jazz, lain halnya dengan Nikita Dompas & His Fellow Musicians. Pendekar gitar berusia 29 tahun ini menyajikan musik yang idiosinkratis bersama kedua “kroni musikus”nya yaitu Sri Aksana Sjuman pada drum dan Lie Indra Perkasa pada kontrabas. Mulanya Nikita tampil santai waktu memulai paruh kedua konser dengan “Amazing Grace” secara tunggal. Tensi pertunjukan baru terasa ketika trio itu membawakan “This Time He Flies So High” yang merupakan komposisi Nikita, bergaya rock n’ roll dan kali ini ia mulai sibuk dengan beragam efek gitar yang menghasilkan perirana sintesis. Lagu yang identik dengan “the King” Elvis Presley, “Are You Lonesome Tonight” pun tak luput “dijahili” grup ini. Terlihat upaya untuk mendekonstruksi lagu itu – seolah-olah paradoksal atas impresi “lonesome” yang terlanjur melekat di benak audiens – diperjelas oleh pernyataan Nikita seusai memainkan, “…jadi nggak sepi-sepi amat kan?”, celotehnya.

Titik puncak aksi Nikita Dompas & His Fellow Musicians tercapai pada komposisi “Road Trip” yang lagi-lagi merupakan garapan gitaris jebolan Institut Musik Daya Indonesia (IMDI) ini. Menggunakan sukat irreguler (istlah teknisnya adalah complex time signature) dalam hitungan 7 secara asimetris, komposisi ini menuntut keterampilan tingkat tinggi ketiga performer secara interpersonal. Dalam hal ini, integritas permainan Lie dan Aksan lewat aksentuasi sinkopatik menjadi kendali utama jalannya irama. Pondasi ritmis yang solid ini lantas menjadi pijakan bagi Nikita untuk berimprovisasi total, semakin liar dengan luapan emosi melalui pemanfaatan sound effect yang mengolah suara-suara “ajaib” sekaligus mengadakan konfrontasi atas estetika bunyi. Nampaknya hal tersebut adalah “undangan tidak resmi” kepada Slamet Abdul Sjukur, salah satu dedengkot musik kontemporer Indonesia yang malam itu hadir dan ikut menyaksikan jalannya konser – sedari awal hingga pada akhirnya.

Keseluruhan acara dituntaskan dengan encore “Moon River” serta penampil sebelumnya, Indra Artie Dauna kembali menghembuskan trumpetnya bersama Nikita, Lie, dan Aksan. Konser malam itu menjadi bukti bahwa kalangan muda yang diwakilkan oleh Indrawan Tjhin Group dan Nikita Dompas & His Fellow Musicians mampu untuk merawat semangat jazz di Indonesia, meskipun seringkali termarginalkan roda industri yang melenakan.

Mengawali program tahunan Serambi Jazz, menghadirkan Kristiina Tuomi Trio dari Jerman

Tags:


Kristiina Tuomi Trio

Ketika kita berbicara tentang musik dengan berbagai macam genrenya, sebut saja jazz, lalu ketika menyinggung kepada wadah untuk menyalurkan dan memelihara ekpresi tersebut, banyak hal yang bisa ditemui, entah itu sebuah komunitas, sekolah musik, pertunjukan rutin di kafe dan lain-lain. Dulu ada ‘Concert Practice’ yang rutin diadakan setiap jum’at di studio sekaligus rumah musisi Aksan Sjuman. Lalu pertemuan rutin yang diadakan komunitas-komunitas jazz sebagai ajang untuk tampil menyajikan keahlian dalam bermusik, juga sebagai tempat kumpul para pecinta musik tersebut. Lalu seabrek program-program lainnya yang masih mempunyai benang merah sama.

Sama halnya dengan ‘Serambi Jazz’, yang merupakan program kerjasama yang digagas musisi jazz Indonesia Riza Arshad dengan Goethe Institute bertujuan untuk memelihara ketrampilan dan kreativitas musisinya agar dapat berkembang dan memberikan suguhan kreasi yang dapat dipetik manfaatnya oleh masyarakat baik berupa konser ataupun workshop. Selain juga sebagai sarana untuk menjalin kerjasama yang baik antara dunia musik jazz Jerman dan Indonesia yang telah terjalin sejak 1967. Menyambung kesuksesan program Serambi Jazz di tahun 2009 dimana kedua negara mulai mengenal, memahami, saling bertukar informasi, latar belakang budaya dan perkembangan musik jazz melalui pertunjukan dan workshop, pada tahun 2010 ini, kembali muncul serentetan program berupa konser dan workshop serupa yang kembali diadakan.

Riza Arshad, selaku kurator dari program ini berbicara tentang program-program sejenis yang ada selama ini, dengan berbagai ciri khasnya, ia berargumen kalau program Serambi Jazz ini sebagai komplimen dari program sejenis yang ada kepada musisi dan pecinta jazz khususnya di Jakarta, dengan jeli memilih siapa yang harus diangkat dan tampil. Sesuai dengan motivasinya, musisi tersebut haruslah mempunyai komitmen yang besar terhadap dunia jazz dan bermanfaat memberikan informasi yang mendidik kepada masyarakat. Menjadikan Serambi Jazz sebagai program jazz yang mempunyai added value.

Kristiina Tuomi Trio

Sebagai permulaan program Serambi Jazz tahun 2010, Serambi Jazz mempersembahkan sebuah trio dari Berlin. Dipimpin oleh seorang penyanyi asal Jerman-Finlandia, Kristiina Tuomi dan diperkuat oleh Carsten Daerr pada piano dan Carlos Bica pada kontrabas. Bica-lah yang membuat sebagian besar komposisi untuk trio ini.

Berkat suara alto dari Kristiina yang mempesona, lirik yang bebas dan menyegarkan, semangat dari pianis Carsten Daerr serta alunan kontra bass dari Carlos Bica yang penuh improvisasi, Tuomi dapat melantunkan komposisi yang beragam, yang merupakan campuran dari jazz, pop, lagu romantis serta klasik. Lirik lagu mereka adalah soneta dari Shakespeare diikuti oleh puisi dari Edgar Allan Poe dan Tuomi menempatkannya di samping sajak-sajak dari Rainer Maria Rilke atau balada dari Sting.

Hasilnya adalah melodi yang halus, dibungkus dengan suara bas yang merdu dari Bica dan bunyi yang harmonis dari Daerr. Suara alto Kristiina Tuomi yang berkarakter dan hangat secara perlahan-lahan mengembangkan efeknya dan paling tidak pada lagu ketiga, penonton akan terkagum-kagum. Apa yang dilakukan oleh mereka bertiga berada diluar kategori musikal apapun. Tuomi ialah Tuomi, tak ada cara lain menjelaskannya.

Konser 11-12 Februari 2010
Kamis, 11 Februari 2010 Pukul 19.30 di Bumi Sangkuriang, Bandung
Jumat, 12 Februari 2010 Pukul 19.30 di GoetheHaus, Jakarta Pusat
Workshop Kristiina Tuomi 15-19 Februari 2010 di GoetheHaus, Jakarta Pusat

Kontak: GI Jakarta +62 21 23550208, ext. 116
Kontak: GI Bandung +62 22 4212417

***

Kegiatan konser dan workshop lainnya yang diadakan Serambi Jazz tahun ini diantaranya :
8 April 2010
GoetheHaus
Zarro & His Kaili-Bossanova Project
Indro Hardjodikoro Trio

10 Juni 2010
GoetheHaus
Nikita Dompas & His Fellow Musicians
Indrawan Tjhin Group

12 Agustus 2010
GoetheHaus
Mery Kasiman Project

21 Oktober 2010
GoetheHaus
Imam Pras Project

9 Desember 2010
Bandung
10 Desember 2010
GoetheHaus
11-15 Desember 2010
Workshop, Goethe
Wolfgang Haffner Trio


There’s nothing wrong with it. It’s only a word. What’s in a name? Nothing! Cats say, “Call me Muhammed so-and-so.” But what’s the difference? A name doesn’t make the music. It’s just called that to differentiate it from other types of music. Jazz is known all over the world as an American musical art form and that’s it. No America, no jazz. I’ve seen people try to connect it to other countries, for instance to Africa, but it doesn’t have a damn thing to do with Africa. — Art Blakey


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<