Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "syaharani"

Magnum Filter Urban Jazz Crossover 2011 (Jakarta): Jazz-nya kaum urban?

Tags: ,


Liputan Magnum Filter Urban Jazz Crossover 2011, Kartika Expo, Balai Kartini, Jakarta, 18 November 2011.

Tahun ini adalah kali ketiga digelarnya Urban Jazz Crossover oleh Dji Sam Soe, seperti edisi sebelumnya, acara bertajuk Magnum Filter Urban Jazz Crossover 2011 itu berlangsung di kota-kota besar tanah air yang berakhir di ibukota. Untuk tahun 2011, sebelum putaran penutup di Jakarta, perhelatan ini lebih dahulu meramaikan Medan (30/9), Pekanbaru (8/10), Surabaya (28/10), dan Bandung (4/11) hadirkan musisi lintas aliran; Syaharani, Raisa Andara, David (vokalis band Naif), mantan penyanyi utama Jamrud Krisyanto, Once, Firman Idol, Kaka Slank, hingga pedangdut Ira Swara.

Syaharani - Magnum Filter Urban Jazz Crossover 2011

Syaharani - Magnum Filter Urban Jazz Crossover 2011

Selaku penata musik ialah Viky Sianipar, yang lebih dikenal publik dengan garapan world music. Tentang konsep acara, ia menuturkan,” Kami memilih para musisi berdasarkan kesesuaian karakter lagu yang akan dinyanyikan, disamping juga kerelaan mereka untuk ikut melakukan eksplorasi untuk menghasilkan sebuah penampilan yang berkelas dan inovatif,” terangnya.

Dimulai selepas pukul Sembilan malam, acara bermula oleh penampilan band akustik Jakarta Journey dengan cover lagu-lagu rock semisal “Why Can’t This Be Love” milik Van Halen. Dua gitar, satu bas, dan sebuah cajón terdengar cukup energik, ditingkahi antusiasme penonton pada lagu “Bento” kepunyaan Iwan Fals. Berlanjut tema futuristik atas tata panggung dan kostum, Syaharani hadirkan “Elevation” dari band U2, dengan pernak-pernik modern dance serta dominasi drum n’ bass yang mendentum.

Setelah penyanyi Raisa, nuansa 1940-an coba ditampilkan oleh Firman yang melagukan “Sedang Ingin Bercinta” bergaya swing sarat aksi teatrikal. Diteruskan David pada deretan tembang-tembang populer yang digemari anak muda, “Beautiful Girl” dari Bruno Mars, lagu “The Most Beautiful Girl in the World” karangan Prince, sampai “Beautiful Ones” oleh band Britpop Suede. Ribuan audiens yang tadinya lesehan, kini berdiri setelah termakan “hasutan” David.

Ada pula Ira Swara yang menanggalkan sihir dangdutnya, ia bernyanyi “Cinta Satu Malam” teraransir big band, serta berdegup funk pada “Don’t Cha” populer oleh The Pussycat Dolls. Bebunyian campur-aduk semakin bergaung waktu goyang reggae atas “Three Little Birds” dibawakan Ras Muhammad bersama jentik gitar Viky. Ira muncul kembali bersama penyanyi tenor atas tembang “In the End” milik Linkin Park.

“Bicycle Race” kepunyaan Queen berbunyi, dipandu vokalis Once yang kemudian melanjutkan dengan “Aku Di Sini Untukmu” berkelir nu-jazz. Turut pula dinyanyikan, “All For One” teringat lantunan Bryan Adams, Sting, dan Rod Stewart, malam itu diwakilkan oleh Once, Krisyanto, dan Firman.

Tetap dengan gayanya yang rock n’roll, Kaka bernyanyi sambil duduk di atas speaker, “Terlalu Manis” pun mulai terdengar, penonton yang hafal ikut bernyanyi. Magnum Filter Urban Jazz Crossover 2011 berakhir lewat hit The Rolling Stones, “(I Can’t Get No) Satisfaction,” satu demi satu pendukung acara meramaikan panggung untuk campur suara hingga konser malam itu tuntas.

Apapun persepsinya, mungkin perlu untuk menyimak perkataan Once di atas pentas, “Udah cukup nge-jazz belum? Nggak penting buat saya,yang penting kita have fun!” tuturnya.

Jazz on Bromo: Ikon Baru Gunung Bromo

Tags: , , ,


Jazz on Bromo - Opening ReogMasyarakat Tengger punya setidaknya dua perayaan besar tahunan yang sekaligus jadi agenda wisata Gunung Bromo. Upacara melarung sesajen ke dalam kawah saat Kasada dan ritual besar Hari Raya Karo. Bagaimana dengan ide “jazz” sebagai ikon ke tiga dari Bromo? Betapapun janggal kedengarannya, empat kali sudah ada panggung jazz di megastruktur bentang alam yang membuat segala sesuatunya terlihat kerdil ini. Jazz on Bromo (23/09/’11) menyusul tiga kali Jazz Gunung, tepat di saat jazz hiasi juga Solo dan Bandung. Mengambil posisi di tengah maraknya pentas jazz tanah air (yang sampai berskala festival), terlihat usaha menyelaraskan materi ke dalam khazanah lokal Bromo. Ini diwakili oleh misalnya, pembukaan yang menyuguhkan jazz sebagai latar reog hingga sang singa barong capai puncak transnya. Saat itu dukun pandita yang datang dari dukuh yang berjarak 2 km dari lokasi bersama puluhan penduduk lainnya, berbangga kepada WartaJazz bahwa yang sedang tampil adalah kesenian Tengger.

Jazz on Bromo - Koko Harsoe & Friends

Gitaris Koko Harsoe menampilkan Helga Sedli, Erik Shondy, Indra Gupta, dan Iman Najib

Payung istilah world music yang lazim dipakai untuk menyebut penampilan Artmoschestra, Prabumi atau Bali Intertribal Organizatioon (BAIO), proporsinya cukup besar. “Ura Uri Tengger” dijelajahi Artmoschestra yang berbasis di Malang. Menurut pemain rebab Redy Eko Prastyo, Tengger adalah contoh identitas yang mampu bertahan jadi dirinya sendiri sebagaimana kelompok ini coba gambarkan. Kelompok Prabumi (Yogya) yang di antaranya bawakan “Fantasi Merak” dan “Umbul-umbul” pun menderetkan bonang sebagai perkusi kontemporer dengan pukulan mallet seolah mainkan vibrafon. Memperkuat warna etnikal BAIO , Vigneswaren Raja Endran dipasang mainkan tabla lebih dalam intensitas dominan loop. Ia mengaku baru kali pertama main dengan gitaris Yuri Mahatma di grup yang vokalisnya, Kacir Maitakai, bikin kita ingat grup NERA (coba saja dengar “Adek Nona Baju Bola-bola”). Gitaris Koko Harsoe, yang juga bertindak sebagai kurator acara, pun bawakan “Suita Singosari”, nomer progresif cerita kerajaan dalam beberapa babak aransemen dengan fitur permainan violin Helga Sedli (Hungaria).

Jazz on Bromo - Joe Rosenberg Quartet

Jazz on Bromo - Grup Kuartet Joe Rosenberg

Pagelaran gratis ini berhasil mengelak dari beban mengembel-embeli acaranya dengan kata “jazz” lewat isi yang bertanggung jawab. “Subconcious-Lee” milik Lee Konitz diluncurkan fasih kuartet Joe Rosenberg; translasi halus saksofon sopran plus fitur langkah klasik double bass Indra Gupta. Dinamika tegang-renggang solo drum Iman Najib yang membuka “All of You” (Cole Porter) dan radians permainan Jeko Fauzy dalam kuartet ini sekaligus tunjukkan bagaimana Bali telah jadi wadah perkembangan jazz di timur. Syaharani yang meringankan suasana juga masih pilih jazz “Dindi” atau “Route 66″ di tengah neraca.

Jazz on Bromo - Syaharani

Jazz on Bromo - Syaharani

Program Jazz on Bromo yang diselenggarakan Kementerian Budaya dan Pariwisata Indonesia ini diharapkan mampu jadi lab kebudayaan yang bisa saja memunculkan ekspresi yang baru dari pertemuan dengan musik global. Staf ahli menteri Hari Untoro pun menambahkan, “Bukan hanya musik, mungkin ekonomi kreatif juga bisa tampil ke depannya.”

Ada yang berani bilang inilah jazz agraris. Dengan membuka pintu, jazz memang bisa saja jadi bagian dari Bromo, toh Bahasa Jawa kuno tanpa kastanya Suku Tengger sejajar spirit jazz.

Jazz on Bromo - Penonton Suku Tengger dan Dukun Pandita

Magnum Filter Urban Jazz Crossover 2011 dengan konsep yang lebih segar dan variatif

Tags:


Sudah 3 tahun berturut turut Dji Sam Soe Urban Jazz Crossover digelar dan tentu terbilang sukses sebagai pergelaran musik yang berkelas, inovatif, dan spektakuler dengan menghadirkan sederetan musisi kondang dan berkualitas dengan menyanyikan puluhan lagu yang diaransemen ulang dengan balutan multi genre jazz yang begitu bervariasi.

Tahun ini berbekal kesuksesan tahun tahun sebelumnya yang membanggakan Andre Mujadi selaku Brand Manager Magnum Filter menyatakan “ tentu kesuksesan ini  memunculkan tantangan baru, bagaimana mempertahankannya bahkan meningkatkan standar sesuai dengan preferensi penikmat musik dewasa yang bergerak secara dinamis”. Ditambahkan oleh Andre, untuk itu pergelaran tahun ini yang mengusung nama baru yakni Magnum Filter Urban Jazz Crossover membuat konsep yang berbeda pokoknya musik yang ekstra ordinary, tidak hanya life style, tapi tetap Indonesia banget. Untuk itu juga menghadirkan music director baru Vicky Sianipar serta sederet musisis yang kompeten di genrenya masing masing seperti David (Naif), Ari Lasso, Once, Krisyanto (mantan vokalis Jamrud), Syaharani, Ira Swara dan pendatang baru Raisa.

Pemilihan sederet penyanyi ini bukan tanpa alasan, bukan hanya eksis di dunianya masing masih, tapi lebih kepada konsep yang di buat dari awal oleh sang music director baru . Viky Sianipar menjelaskan,”Kami memilih mereka berdasarkan kesuaian karakter lagu yang akan dinyanyikan disamping juga kerelaan mereka untuk ikut melakukan explorasi untuk menghasilkan sebuah penampilan yang berkelas dan inovatif”.

Viky menjamin tak akan mendominasi musik yang ditampilkan di Magnum Filter Urban Jazz Crossofer dengan world music, “Namun Urban Jazz Crossover  akan mendapat suntikan warna baru dengan warna world music kenapa tidak, seperti juga rock, swing, jazz Broadway dan lainnya. Cross genre buat saya sudah tidak asing lagi. Selama 10 tahun sudah menjadi makanan sehari-hari. ” papar Viky.

Urban Jazz Crossover 2011 akan digelar di lima kota besar Indonesia, yaitu  Medan (30/9/2011), Pekanbaru (8/10/2011), Surabaya (28/10/2011), Bandung (4/11/2011), dan Jakarta (18/11/2011). Sementara untuk Semarang yang tahun dihadirkan, tahun ini diganti menjadi kota Pekanbaru. Andre Muljadi menilai kota Pekanbaru merupakan kota yang  cocok untuk dihadirkan musik dewasa yang segar dan variatif.

Untuk harga tiket pergelaran ini untuk luar Jakarta Rp. 70.000 dn untuk Jakarta Rp. 100.000. Dijakarta acara ini akan dilaksanakan di arena Kartika Expo di Balai Kartini.

Yuk ngejazz tiga hari di Ambon Jazz Plus Festival 2011

Tags: , , ,


Jika kita melihat peta Indonesia yang bertabur pulau-pulau, maka terbayang bagaimana luasnya negeri yang dilewati garis khatulistiwa ini. Menyebut nama Ambon, maka terlintas bagaimana orang-orang yang ketika bangun tidurnya, musik menjadi denyut nadi yang tak terpisahkan dari jiwa.

Barangkali semangat itu juga yang menjadi salah satu dasar kembali hadirnya Ambon Jazz Plus Festival 2011 sekaligus mengukuhkan Kota Ambon sebagai “The Music City” yang rencananya akan dideklarasikan tahun ini. Gubernur Maluku dan Walikota Ambon mendukung penuh pelaksanaan Ambon Jazz Plus Festival 2011.

Kegiatan Ambon Jazz Plus Festival yang tahun ini memasuki usia penyelenggaraan yang ketiga, akan menampilkan sejumlah artis dan musisi Jazz plus sejumlah performer di genre musik lain seperti  Hip-hop, R&B, Soul, Gospel, World beat, itu sebabnya ada tambahan kata plus dibelakang Ambon Jazz.

Tempat pertunjukan yang dipersiapkan oleh panitia adalah Pattimura Square, jalanan didepan kantor Pemerintah Kota (Pemkot)  dan area parkiran Kantor Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku pada mulai Jumat 7 Oktober hingga Minggu 9 Oktober 2011.

***

Artis Pendukung Ambon Jazz Plus Festival 2011

Siapa saja yang akan datang dan memeriahkan perhelatan tiga hari ini?. Mari kita absen satu-persatu. Band Jazz fusion Donny Suhendra Project akan hadir bersama sejumlah grup lain seperti  Syaharani dengan ESQI:EF (Jakarta) lalu Julian Abraham Marantika, Aldi Suave (Electro Acid Jazz), Maya Hasan dan Starlite yang semua personil pendukungnya perempuan – semua band tersebut tadi berasal dari Jakarta. Dari kota gudeg, hadir Jafuzz Cobre dan dari Ambon sendiri ada kelompok Last Pretence.

Lineup internasional yang akan hadir dalam AJPF 2011 adalah  David Becker Tribune (USA) dengan warna Fusion Jazz, lalu Jessica Manuputty (Belanda) dengan contemporary Jazz, lalu gitaris Harri Stojka & Band (Austria), Lou Nusa Funk (Belanda) dengan Rock Blues Jazz, dan Beat of Soul (Malaysia) yang memainkan Jazz Pop plus Gugun Blues Shelter yang berwarna blues.

Dari genre crossover & world beat ada AMADEUS Ensemble (University of Pattimura – Ambon), MARA CRISTY Ensemble (Christian College of Ambon – STAKPN). Lalu untuk R&B dan Pop ada Calvin Jeremy, Andre Hehanussa,  In your heart (Malaysia), Potenzio (Jakarta), Guheba (Ambon), D’ Embal’s (Ambon) dan Basement Syndicate (Malaysia)

Dari genre Hiphop dan Soul serta Gospel akan ada One Step Ahead (Yemen) Bag + Beat (Jakarta) dan Belgica, lalu  Sandhy Sondoro (Jakarta), Lala Suwages (Jakarta), SABA (Bandung) dan Ray of Light (Jakarta) dengan Contemporary Gospelnya.

Akan ada pula penampilan khusus “THE ORIENT EXPRESS” yang merupakan US NAVY 7 FLEET Band.

***

Ambon sebagai Kota Musik

“AJPF 2011 memainkan peranan penting untuk menciptakan gambaran positif tentang Ambon dan Maluku pada dunia internasional” ujar Karel Ralahalu, Gubernur Maluku pada Executive Director AJPF 2011, Semuel Samson.

Dukungan itu diberikan juga diberikan oleh Walikota (18/9) lalu dimana ia mengumpulkan sejumlah pejabat eselon I untuk berkoordinasi dan meyakinkan bahwa AJPF 2011 mesti berjalan sesuai rencana dan jika diperlukan mereka akan memberikan dukungan teknis dan logistik.

Organisasi AJPF dan Komunitas AJPF akan saling bekerjasama dengan pihak Pemerintah kota dan Pemerintah Provinsi untuk memastikan bahwa AJPF 2011 akan mendukung prioritas utama kedua badan pemerintahan, yaitu pengembangan TTI (Tourism, Trade and Investment) di Maluku.

 

Digelar Jazz on Bromo 2011 – Inspiring from the Earth

Tags: , , , , , ,


Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI menggelar acara Jazz on Bromo di Cemoro Lawang Desa Ngadisari Bromo, Probolinggo Jawa Timur pada hari Jumat 23 September 2011 mulai pukul 13.00 hingga 18.00 wib dan tidak dipungut biaya.

Sejumlah performer akan dihadirkan dalam pertunjukan berdurasi kurang lebih lima jam ini. Mereka antara lain Syaharani (Jakarat), Koko Harsoe (Bali), Artmoschestra (Malang), BAIO (Bali) dan Prabumi (Jogjakarta). Ada dua musisi mancanegara yang turut memeriahkan yakni Helga Sedli (Hungaria) dan Joe Rosenberg Trio (USA).

Koko Harsoe, gitaris yang menjadi kurator Jazz on Bromo menyebutkan “Jazz on Bromo adalah salah satu program yang didukung oleh Kementerian Budaya dan Pariwisata Indonesia, diharapkan menawarkan suatu perhelatan musik yang mempertontonkan pergaulan bangsa melalui budaya (musik) daerah dan internasional dan juga kontekstual bagi masyarakat Tengger dan sekitarnya”.

Jazz on Bromo dimaksudkan sebagai sebuah peristiwa budaya yang diharapkan menjadi salah satu trigger dan referensi bagi penyelenggara event-event musik di Indonesia untuk melibatkan dan memberdayakan masyarakat lokal baik dari sisi efek ekonomi dan pariwisata terutama bagi daerah sekitar yang menjadi tempat penyelenggaraan event tersebut.

***

Dua performer internasional yang dijadwalkan hadir dalam Jazz on Bromo adalah Helga Sedli, pemain biola kelahiran 8 Februari yang mengenyam pendidikan musik di Bela Bartok Konzervatory, Hungaria, dan lulus tahun 1998. Karirnya berlanjut dengan menjadi staf pengajar di Hungary University, Szeged City, Hungaria. Selain mengajar musik dia juga menjadi guru matematika.

Sejak tahun 2009 dia mulai aktif konser dengan berbagai kelompok musik, mulai dari band, world music, klezmer, arabic, tango dan rock. Sedli juga sering tampil di acara-acara pernikahan, pameran dan tidak lupa menampilkan beberapa karyanya sendiri. Bersama kelompok vokal “Qire” ia mulai mengadakan konser di luar Hungaria. Dimulai dari Italy, Prancis, Jerman dan Swiss. Ia juga mulai aktif bersama orkes simfoni dan quartet gesek. Sejak akhir tahun 2010 hingga sekarang menetap di Bali.

Musisi yang seorang lagi adalah Joe Rosenberg berasal dari Boston Massachussetts, belajar saxophonis sopran pada Joe Viola dan master alat tiup kayu Buddy Collette dan klarinetis John Carter. Ia menerima Beasiswa penampil jazz dari National Endowment for the Arts, dan menjadi anggota dari “Los Angeles Jazz Workshop” Big Band. Album “Inside Out” dari quartet ini laku terjual tidak hanya di Amerika, tapi juga di Jepang. Dia menjadi pemimpin dari quartet “Affiniti” yang juga terkenal dengan sebutan Joe Rosenberg Group.

***

Penampil dari Indonesia

Dari dalam negeri ada gitaris Koko Harsoe yang didapuk sebagai kurator Jazz on Bromo. Pria asal Malang, Jawa Timur, ini disamping menekuni musik klasik juga belajar Jazz pada musisi senior Edi Karamoy. Jebolan ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta jurusan Musik ini kini menetap di Bali.

Koko mengajak beberapa musisi seperti Bali Intertribes Organization – BAIO (Bali) adalah sebuah kelompok musik jazz yang berbasis etnik. Didirikan oleh gitaris Yuri Mahatma. Kelompok musik jazz ini sebagian besar memainkan komposisi mereka sendiri yang sangat kental dengan nuansa etnik Indonesia. Jenis musiknya banyak diinspirasi oleh Trilok Gurtu, Pat Metheny dan musik-musik sejenisnya.

Lalu ada Prabumi, kelompok musik asal Jogjakarta. Susunan alat musiknya terdiri dari bass, drumset, saxophone, kendang, gender bonang dan piano. Dalam hal komposisi, konsep penciptaan dari Prabumi berpijak pada spirit dari nilai-nilai musikal jazz yang diolah dengan kreatif menjadi satu bentuk komposisi baru dengan mengedepankan dua pesona Barat dan Etnik.

Kemudian ada Artmoschestra (Malang) musik Jazz Etnik dipadu dengan teknologi digital dari Malang.

Dan tentu saja ada Syaharani, yang berasal dari Batu, Jawa Timur. Penyanyi yang akrab disapa Rani dan mencintai hiking, puisi dan seni suara sejak kecil adalah penyanyi yang memiliki segudang pengalaman seperti pernah tampil di North Sea Jazz Festival, Den Haag.  Berduet dengan Al Jarreau, Dave Koz serta Yellowjackets.  Saira Syaharani Ibrahim demikian nama lengkapnya, merupakan salah satu penyanyi Jazz Indonesia yang selalu ditunggu dalam setiap penampilannya.

Ngayogjazz akhirnya digelar 15 Januari 2011

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Dalam mengekspresikan semangat berkumpul dan bekerja sama, orang jawa mempunyai ungkapan : Mangan ora mangan waton kumpul. Makan atau tidak, tetap saja bisa berkumpul (rukun). Inilah yang di adopsi oleh panitia ngayogjazz yang bergeser penyelenggaraannya di tahun 2011 karena adanya musibah meletusnya gunung Merapi yang hingga kini masih membuat tanggap darurat masih menjadi status buat kota-kota disekitar Merapi seperti Yogyakarta.

Ungkapan Ngayogjazz  menjadi “Mangan Ora Mangan….Ngejazz”. Sebuah ungkapan yang di maknai bahwa solidaritas bisa terwujud tanpa ikatan atau persoalan material (mangan). Bahkan semangat ini semakin terbukti ketika masa sulit sedang datang.

Inilah Jazz. Sebuah cara memainkan musik dengan asyik, spontan, interaktif, dan ekspresif. Hampir tanpa batas. Siapapun; alat musik apapun; dimanapun; kapanpun. Bahkan, dalam suasana apapun, karena jazz lahir juga karena sebuah keadaan sosial yang direspon dengan permainan-permainan musik. Jazz lahir untuk melepaskan kepenatan keadaan di Amerika Serikat pada suatu masa oleh orang-orang keturunan Afrika. Kini cara permainan musik itu telah meluas ke seluruh dunia dan melibatkan lebih banyak orang ; lebih beragam alat musik dan lebih bermacam unsur kebudayaan, sebanyak ragam kesenian, bunyi di bumi ini. Inilah Jazz!

Keriuhan Jazz itu akan dihibur dengan para penampil yang siap hadir pada tanggal 15 Januari 2011. Mereka adalah ESQI:EF aka Syaharani & Queenfireworks, Glenn Fredly, Iga Mawarni, simakDialog (Tohpati, Riza Arshad, dan kawan-kawan), Chaseiro (Chandra Darusman, Helmie Indrakusuma, Aswin Sastrowardoyo, Edie hudiro, Irwan Indrakesuma, Omen Sonisontani), Gugun Blues Shelter, Tohpati Bertiga (Tohpati, Indro Hardjodikoro, Bowie), Sujud Kendhang & Kesenian Tradisional plus Komunitas Jazz Jogja, Komunitas Jazz Bali dan Komunitas Jazz Ngisor Ringin, Semarang.

Acara di gelar di Pelataran Djoko Pekik, Desa Sembungan, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai dari jam 2 siang hingga dua belas malam pada hari Sabtu Pon tanggal 15 Januari 2011.

Dalam kesempatan Ngayogjazz kali ini akan di Launching Album Kompilasi Komunitas Jazz Jogja – Ngayogjazz yang kedua dengan Konsep Album : Sesarengan plus tentu saja Pasar Jazz dan Festival Foto Ngayogjazz (Pameran dan Pojok Foto).

Anda tertarik?, bersiaplah mengontak agen perjalanan anda. Tak perlu membeli tiket pertunjukan, karena acara berlangsung gratis.

ESQI:EF Syaharani Queenfireworks – Anytime

Tags: , , , , ,


ESQI:EF - Anytime

ESQI:EF - Anytime

Judul Album : Anytime
Artis : Syaharani Queenfireworks
Label : DemajorsTahun Rilis : 2010

Tracklist

1.Kiranya
2.Mungkin (Katakan).
3.Kekasih Palsu.
4.Jangan Lagi Datang.
5.Sayang Sayang Sayang
6.Cancellation No More.
7.Apa ? Apa ? Apa ?
8.Anytime.
9.So Far Away (Again Again Again).
10.Sayang Sayang Sayang (original version)
11.De’Dia (Retouch)
12.Picnic To The Sky

Album “Anytime” dari Syaharani Queenfireworks yang kemudian disingkat ESQI:EF terasa lebih bergairah dan lebih akustik dibanding album sebelumnya bertajuk “Buat Kamu” (2006). Syaharani pun bernyanyi dengan gaya yang lebih santai. Secara keseluruhan album yang membungkus jazz dan folk ini lebih mengena di kuping kita.

Secara kebetulan tajuk album ketiga ini adalah “Anytime” yang menurut Syaharani sebagai penggagas bahwa musik yang termaktub di album ini bisa disimak kapan saja. ”Setiap waktu kita bisa menyimaknya” tukas Syaharani yang kini lebih menitikbertakan musiknya secara friendly, hangat dan santai. Sebuah hibrida musik yang segar dan cerdas membaurkan pelbagai kecenderungan bermusik mulai dari pop, soul, funk, folk, rock hingga blues sekalipun.

Pola penulisan lirik lagunya pun berkesan natural. Banyak berupa refleksi kehidupan sehari hari di sebuah metropolis yang lugas atmosfer urbannya. Kemampuan Syaharani dalam menulis mungkin yang membuatnya berleluasa dalam menumpahkan gagasan tema dalam lirik lagunya.

Seperti dua album terdahulu, Syaharani banyak berkolaborasi dengan Didit Saat. Dalam ESQI:EF Didit berperan sebagai co-producer, arranger dan sound designer.”Saya merasa cocok bekerjasama dengan Didit. Kami seolah sudah sama sama mengetahui ke arah mana musik yang akan kita bawakan” ungkap Syaharani. Sosok Didit sendiri pun terlihat begitu mendukung performa Syaharani dalam ESQI:EF lewat kemampuannya bermusik. ”Dia seorang multi-instrumentalis” jelas Syaharani.

“Di album ini kami berupaya mengetengahkan penyajian musik yang cenderung organic, walau dibeberapa bagian justeru kami didukung instrumentasi music yang non-organik” imbuh Didit Saad yang berperan sebagai music director didampingi gitaris Donny Suhendra sebagai music supervisor.

Meskipun secara keseluruhan instrumentasi musik digarap oleh Didit Saad (gitar,bass,keyboard dan programming) , akan tetapi ternyata tetap pula memerlukan beberapa pemain tamu seperti Ivan Kurniawan Arifin (bassist Slank), Kristian Dharma (bass) serta Sir Ian Ingram yang memainkan fluegelhorn dan trumpet. Bahkan kontribusi Sir Ian Ingarm ini cukup member aksentuasi tersendiri bagi karakter album Syaharani ini.

Dalam “Kiranya” harmoni vokal yang mengambil nuansa power pop berpendar, diiringi petikan gitar yang ritmis serta aksentuasi muted trumpet yang dimainkan Sir Ian Ingram. Pada bagian chorus tiba-tiba musik berkelit ke warna swing jazz yang elegan. Fluegel Horn Sir Ian menjelam pula pada lagu bertajuk “Kekasih Palsu” yang membayangi tekstur vokal Syaharani.

Jangan pula sampai melewatkan lagu “Jangan Lagi Datang” yang mengingatkan kita pada elegansi romansa pop ala Burt Bacharach di era 60-an maupun 70-an. Trumpet kerap menyelinap mengimbuh aksentuasi.Petikan gitar akustik yang jazzy menjejal pada bagian interlude.

Sungguh sebuah sajian jazz pop yang kompromists dan paling tepat menemani pendengarnya dalam kegiatan apa saja.

Yuk nonton ESQI:EF, Endah & Rhesa dalam Jazzy Ozzie di Braga Bandung

Tags: , ,


Setelah meluncurkan album baru bertitle Anytime’ minggu lalu bersama ESQI:EF, mereka kini bersiap untuk penampilan ekslusif untuk publik priangan tepatnya mereka yang hadir dalam acara Jazzy Ozzie tanggal 9 Juni 2010 bertempat di New Majestic, Braga Bandung.

Kelompok  ESQI:EF (baca: eskief) yang merilis album dengan tiga ciri khas yaitu ramah telinga, menghibur dan setiap saat ini akan tampil pula bersama sejumlah bintang tamu lain seperti Endah & Rhesa, Ras Muhamad, Grace Sahertian, G/E/T dan Adrian Adioetomo.

***

Album Anytime (2010) merupakan album ketiga Syaharani bekerjasama dengan Didit Saad setelah sebelumnya juga bekerjasama untuk ‘Magma’ (2002) dan ‘Buat Kamu’ (2006). Nama Syaharani Queenfireworks sendiri mulai diperkenalkan sejak album Buat Kamu dirilis.

Informasi tiket pertunjukan dapat menghubungi nomor telepon 022-2013233/6.

***

Meski belum mengumumkan jadwal resmi penampilan keliling mempromosikan album Anytime, ESQI:EF sudah dipastikan akan tapil dalam perhelatan Jazz Gunung 2010 di Java Banana Bromo Jawa Timur tanggal 3 Juli 2010 mendatang.

So untuk anda yang berada di Bandung, inilah kesempatan untuk menyaksikan karya terbaru dari Syaharani, Donny Suhendra, Didit Saad dan kawan-kawan.

Syaharani luncurkan album baru Anytime – Musik ramah telinga

Tags: , , , , , ,


ESQI:EF - Anytime

ESQI:EF - Anytime

Bertempat di Blacksteer fx Senayan Jakarta, Rabu (286/05) lalu ESQI:EF, nama baru untuk Syaharani Queenfireworks meluncurkan album baru bertitle ‘Anytime’ yang berisikan 12 (dua belas) track lagu. ESQI:EF (baca: eskief) dimaksudkan agar penikmat musik lebih mudah mengingat nama mereka dan memiliki tiga ciri khas yaitu ramah telinga, menghibur dan setiap saat.

Album Anytime (2010) ini merupakan kali ketiga Syaharani bekerjasama dengan Didit Saad setelah sebelumnya juga bekerjasama untuk ‘Magma’ (2002) dan ‘Buat Kamu’ (2006). Nama Syaharani Queenfireworks sendiri mulai diperkenalkan sejak album Buat Kamu dirilis.

Ahmad Fareed atau Didit yang juga menjadi co-produser mengaku bahwa musik ESQI:EF adalah hibrida karena membaurkan pelbagai kecenderungan bermusik mulai dari pop, soul, funk, folk, rock hingga blues sekalipun. Pola penulisan liriknya berkesan natural yang memuat refleksi kehidupan urban. “…Singkatnya album ini mengangkat tema cross-genre. Ada aksentuasi Jazz, harmony power pop, folkie sampai lounge dance” papar Syaharani.

Gitaris Donny Suhendra yang terlibat dalam ESQI:EF sejak awal didaulat menjadi Music Supervisor, plus dibantu sejumlah musisi tamu seperti Ivan Kurniawan Arifin aka Ivanka Slank, Kristian Darma (bass), Trias Anugrah (keyboard), Sirhan Bahasuan (drum programming/kahon), Iwan Coconut (perkusi/keyboard) dan Sir Ian Ingram (flugelhorn dan trumpet).

Konser launching album ESQI:EF Syaharani & Queenfireworks

Tags: , ,


ESQI:EF - Syaharani Queenfireworks

ESQI:EF - Syaharani Queenfireworks

Menyebut nama Saira Syaharani Ibrahim atau Syaharani – nama populernya – maka ingatan saya kembali sekitar 10 tahun yang lalu saat namanya mulai menghiasi banyak acara-acara jazz dengan bermain bersama sejumlah senior – bisa kita sebut legenda hidup musik Jazz Indonesia – seperti Bubi Chen, Benny Likumahuwa dan lainnya.

Dalam rentang 10 tahun terakhir, seperti usia WartaJazz.com – kami menyaksikan bagaimana Syaharani menghiasi dunia musik Indonesia (jadi tak cuman Jazz saja) dengan berbagai karya yang terkadang menjadi perdebatan – sebenarnya ini masalah klasik – apakah Ra, demikian ia akrab disapa, merupakan penyanyi jazz atau bukan.

Dalam sebuah dialog (musik) jazz yang digagas WartaJazz bersama Dji Sam Soe beberapa tahun lalu, Rani bercerita bagaimana proses ia mengenal musik Jazz lewat lingkungan keluarga dan ia terus mengembangkan diri dengan membuka diri pada hal-hal (baca: musik) lain dan merespon setiap hal yang terjadi dengan menghasilkan karya.

Adalah ESQI:EF yang tak lain kepanjangan dari Syaharani Queenfireworks – brand yang ia mulai populerkan beberapa bulan terakhir, yang kini bersiap merilis album teranyarnya “Anytime” yang didistribusikan via demajors – label yang juga menaungi sejumlah kelompok lain seperti Java Jazz, Tohpati Ethnomission, Kulkul, Sketsa, dan lain-lain.

Album baru ini didukung sejumlah musisi seperti Didit Saad (guitar, bass), Donny Suhendra (guitar),  Ian Ingram (trumpet, flugelhorn, Fajar Trias (keyboard), Iwano Coconut Tree (keyboard), Ivanka Slank (bass), Kristian Dharma (bass) dan Adi Dharmawan (bass). Dua nama yang disebut pertama adalah personil yang memang mendukung ESQI:EF sejak awal.

Rani yang pernah pula menjadi Dasima – lakon yang diperankannya saat terlibat proyek Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) Dance Company itu akan tampil dalam konser launching album Anytime bertempat di Blacksteer Auto Lounge fX lifestyle X’nter 1st Floor – Jakarta pada hari Rabu 26 Mei 2010 mulai pukul 20.30 dan tanpa dipungut biaya.


If jazz has to be termed as a wave, then music is a sea, but if the reflectors in the water is the chord. — Pat Metheny


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<