Dapatkan koleksi album Jazz Indonesia dan official merchandise Jazz Indonesia. Klik halaman Store dan Merchandise

Tag Archive | "tohpati"

Dira Sugandhi tentang album Something about the Girl

Tags: , , , , , , , , , , , ,


Cover album Dira Sugandhi - Something about the Girl

Cover album Dira Sugandhi - Something about the Girl

Dira Sugandhi, mojang asal Bandung ini memukau pecinta musik (Jazz) Indonesia karena penampilannya bersama Bluey dan Incognito-nya beberapa tahun lalu. Kini bekerjasama dengan musisi asal Inggris itu ia meluncurkan Dira – Something about the Girl. WartaJazz mewawancarai seputar album perdananya tersebut. Berikut petikannya:

WartaJazz (WJ): Apa konsep album Something about the Girl?

Dira Sugandhi (DS): Konsepnya ya Dira…judulnya juga kan Something About The Girl (SATG) :)

WJ: Jadi Dira banget gitu?
Dira Sugandhi:Bukan Dira banget…tapi maksudnya sifatnya personal semua lagu yang ada di album Something About The Girl kecuali yang covers khusus ditulis untuk saya based on my personal experience.
WartaJazz: Gimana prosesnya?
Dira Sugandhi: Prosesnya cukup panjang dan seru karena bolak balik London-Jakarta-Bandung-Bali-London :) . Aku ke London 2x, Bluey ke Jakarta 2x sisanya kita bareng ke Bandung dan Bali utk rekaman lagu Kami Cinta Indonesia cipt Alm Harry Roesli. Ya kurang lebih 2 tahunan.
WartaJazz: Koq cukup lama baru masuk pasar Indonesia?
Dira Sugandhi: Butuh proses untuk mencari label di sini, mentransfer semua data dari Inggris ke Indonesia, dan menyesuaikan artwork album. Menunggu moment yang tepat juga siih…
WartaJazz: Gimana ceritanya bisa kerja bareng dg Bluey (Pentolan Incognito – red)?
Dira Sugandhi:Aku kenal Bluey udah lama dari tahun 2001. Butuh proses sampai akhirnya dia memproduseri albumku. It all started from friendship. Kita juga nunggu sampe aku beres kuliah.
WartaJazz: Ada dua lagu berbahasa Indonesia. Bisa diceritakan soal itu?
Dira Sugandhi: Untuk yang beredar di Indonesia ada 2 lagu Indonesia: Kami Cinta Indonesia cipt Alm Harry Roesli, almarhum sahabat papa saya hubungan keluarga kami sangat dekat. Sebelum dia meninggal dia pernah suruh saya pilih lagu almarhum, pilihan saya jatuh pada lagu itu. Lalu Kucemburu cipt Rieka Roslan, lagu itu khusus Teh Rieka ciptain buat saya based on my personal experience
WartaJazz: Apa ada lagu yg diselipkan untuk pasar internasional? Beredar dimana aja sih?
Dira Sugandhi: Untuk pasar international cuma ada 11 tracks ga ada lagu berbahasa Indonesia. Di UK dan Jepang. Sementara [publik] di Amerika sama Eropa masih imported

WartaJazz: Gmn rasanya menjadi next ‘big thing’ setelah Jocelyn dan Maysa Leak?
Dira Sugandhi: Wow! The next ‘big thing’ terdengar berat yah! Yang pasti aku selalu bersyukur akan apa yg aku dapatkan dalam hidup dgn berusaha menjadi lebih baik lagi…it is a total bless to be able to work with Bluey and all other great musicians!

Agus Setiawan Basuni: Di album ini track mana yg paling spesial menurutmu?
Dira Sugandhi: Semua punya arti sendiri buat aku, tp Inside Love liriknya sangat dalam setiap aku menyanyikan lagu itu aku selalu ingat Bluey and how close we are, juga ingat akan perjalanan suka duka yang telah kita lewati bersama dlm proses pembuatan album SATG
Sama lagu Kami Cinta Indonesia…I’m very proud of the song and the arrangement. Setiap orang yang denger pasti muji termasuk musisi-musisi di luar. Also reminds me a lot of Harry Roesli dan keadaan negara [ini, red]

Agus Setiawan Basuni: Gimana kamu mendeskripsikan Dira ?
Dira Sugandhi:  I’m very passionate about life…and I’m also a very determined person. I have ambitions but I’m not ambitious, I just go with the flow. Everything I do, I do it with love and passion.

Agus Setiawan Basuni: Are you romantic type of person?
Neng Dira: I’m desperately romantic!!

Agus Setiawan Basuni: Balik soal album SATG. Siapa aja yang bermain di album ini?
Dira Sugandhi: Untuk musisi luar ada Matthew Cooper, Jim Mullen, Ski Oakenfull, Richard Bull, Randy Hope-Taylor, Karl Vandenbosche, Incognito brass section: Sid Gauld, Trevor Mires, Finn Peters, London strings conducted by Simon Hale and of course Bluey!. Untuk musisi dalam ada Tohpati, Indro Hardjodikoro, Barry Likumahuwa, Imam Pras, Ari dan Rudi ‘Aru, Rio Sidik, backing vocals: Mila, Bowo dan Ade ‘Soulmate’ .
Oh dan ada track duet sama Omar Lyefook di lagu ‘Let’s Go Back’

WartaJazz: Dira sekolah dimana?
Neng Dira: S1 Musik majoring Vocal Performance, di Universitas Pelita Harapan
WartaJazz: Musik seperti apa yang Dira suka dengerin dari kecil?
Dira Sugandhi: Mama Papa suka nyetel Stevie Wonder, Earth Wind And Fire, Frank Sinatra, Nat King Cole dan Michael Jackson.
WartaJazz: Waktu menggarap album apakah ada tantangan yang dihadapi?
Dira Sugandhi: Banyak karena aku arrange semua sendiri spt studio, booking musisi, akomodasi dan transportasi utk bluey dll. Sama waktu pertama kali take vocal di studio besar agak susah dapetin emosinya…tp untungnya Bluey sabar sekali

WartaJazz:  Emang ada bedanya dengan studio kecil?
Dira Sugandhi: Ya jelas dr ukurannya saja udah beda…hehe…
Sebelum2nya saya hanya suka mengisi di home studio itupun utk proyek orang lain sbg featuring saja

WartaJazz:  Maksudnya dari sisi teknis? Atau hal lain? Yg bikin jadi susah?
Dira Sugandhi: Tp ini kan buat album sendiri di studio professional yg ukurannya sangat besar. Otomatis pressure itu pasti ada

WartaJazz:  Jd semacam stage fever tp distudio gt?
Dira Sugandhi: Yep

WartaJazz: Waktu kerja bareng dengan Bluey ada ekspektasi ga sih? Bakal gini gitu?
Dira Sugandhi: Adaa… pastinya bakal seru, dan memang seru! Aku banyak dapat pelajaran berharga dr dia bukan ttg musik saja tp juga ttg kehidupan.

WartaJazz: Kita bicara soal lain. Dira terlibat dengan Dwiki WPO dan sekarang ikutan juga di LLW [Indra Lesmana, Barry Likumahuwa & Sandy Winarta red) ?
Dira Sugandhi: Iya betul

WartaJazz: Sejauh apa keterlibatannya pada dua proyek tsb?
Dira Sugandhi: Hanya sebagai featured singer saja

WartaJazz: Selain itu apa ada proyek lain?
Dira Sugandhi: Sekarang lagi persiapan untuk peform di Konser Masterpiece Erwin Gutawa tgl 26 Februari dan bermain di Musikal Laskar Pelangi.

Delegasi Jazz Indonesia bersama simakDialog siap ke Jazzahead! 2011 di Bremen, Jerman

Tags: , , ,


Musik Jazz di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukan beberapa perkembangan yang menggembirakan. Beberapa indikatornya antara lain jumlah pertunjukan berskala festival yang tidak hanya berfokus pada beberapa kota besar di pulau Jawa namun sudah menyeberang ke Sumatra, Sulawesi bahkan jika tak ada aral akhir tahun ini Kalimantan juga akan menyusul.

Hal lain yang menyenangkan adalah tumbuhnya komunitas jazz diberbagai kota yang diikuti dengan jumlah band jazz (anak-muda) yang juga meningkat. Terlebih lagi karena teknologi telekomunikasi memungkinkan mereka berkomunikasi tanpa terkendala jarak dan waktu misalnya menggunakan social network.

WartaJazz – selain merupakan portal Jazz – melakukan riset dan menjalan proyek bertajuk ”Jazz Indonesia” dengan fokus menggali dan mengumpulkan sejumlah potensi dibidang musik Jazz yang diharapkan bisa menjadi sumbangsih pada aspek ekonomi dan sumbangan kebudayaan dari Indonesia bagi perkembangan musik yang kaya Improvisasi ini.

***

Acara JazzAhead! diselenggarakan di Congress Center Bremen (CCB) kota Bremen, Jerman tanggal 28 April hingga 1 Mei 2011, merupakan acara tahunan yang bertujuan sebagai wadah jaringan dan kerjasama pelaku industri musik jazz yang terdiri dari musisi, media, perusahaan rekaman, festivals, radio, studio, promoters, production dan lain-lain.

JazzAhead! merupakan satu-satunya JazzMeeting (JazzMart/Pasar Jazz) terbesar didunia setelah IAJE (International Association for Jazz Education) bubar dan dihadiri kurang lebih 3000 orang (data: 2010).

WartaJazz lewat ”Jazz Indonesia” berinisiatif untuk berperan serta dalam JazzAhead! dan menyusun sejumlah rencana kerja. Stand Jazz Indonesia diharapkan menjadi gerbang pembuka peluang bagi kelompok-kelompok Jazz/WorldMusic kreatif dari Indonesia memasuki pasar (Jazz) dunia dengan menyebarkan album Kompilasi Jazz dari Indonesia 2011.

Tak hanya itu, melihat hubungan sejarah Jazz Indonesia-Jerman salah satunya dari perjalanan Indonesian All Stars (Jack Lesmana, Bubi Chen dkk) tahun 1968 yang merekam Djanger Bali di Berlin, Jerman kita dapat membuka banyak peluang seperti kolaborasi musisi Indonesia dan Eropa, jaringan pendidikan maupun partnership.

Kelompok simakDialog terpilih sebagai salah satu dari 4 negara – dan satu-satunya yang mewakili benua Asia dalam acara Overseas Night 28 April 2011 – menjadi duta dari Indonesia memiliki prospek besar untuk memasuki pasar Eropa yang selalu menginginkan warna baru.

Riza Arshad, founder dan leader simakDialog mengungkapkan, “Sebagai satu-satunya grup Asia yang terpilih untuk tampil di pentas terhormat yang baik ini, akan menandai munculnya dan diakuinya keberadaan musik Indonesia yang berkarakter yang menjadi bagian penting di peta musik dunia bagi generasi musik jazz dan dunia mendatang”, saat media gathering yang digelar hari Selasa, 1 April 2011 di Studio LikeEarth Menteng, Jakarta.

Sementara itu Agus Setiawan Basuni yang bertindak selaku project officer dalam misi ke JazzAhead! menyatakan, “simakDialog terpilih oleh panel juri internasional. Banyak negara lain mengajukan permohonan serupa, dan kita patut berbangga simakDialog terpilih mewakili Asia”.

Kunjungan simakDialog ke Jazzahead Bremen, menandai terbukanya kembali dan bangkitnya gairah keingintahuan baru masyarakat jazz Jerman dan Eropa. Musik simakDialog mencerminkan perkembangan jazz di kawasan Nusantara (Asia tenggara) dan mulai diakui memberikan masukan yang baik pada berbagai warna yang terjadi pada perkembangan musik jazz dunia.

Sejak simakDialog bergabung dengan Moonjune di Amerika, telah mendapatkan sedikitnya 200 review positif dari seluruh dunia yang membuat kelompok ini tidak hanya dilirik sebagai grup yang layak tampil secara musikal namun juga dari prestasi yang dipetik dari 2 album karyanya via Moonjune Records untuk album ‘Patahan’ dan ‘Demi Masa’.

“Musik simakDialog untuk Dunia”

***

Dalam kegiatan JazzAhead! team ”Jazz Indonesia” dan simakDialog terdiri dari Agus Setiawan Basuni (Project Officer), Ajie Wartono (ass Project Officer), Roullandi N. Siregar (ass Project Officer/ Road Manager), Riza Arshad (Band Leader), Tohpati Ario Hutomo (Band member), Aditya Pratama (Band member), Endang Ramdan (Band member), Cucu Kurnia (Band member), Erlan Suwardana (Band member), Danny Ardiono (Sound Engineer) dan Dwiki Dharmawan (Advisor).

Keikutsertaan ”Jazz Indonesia” ke Bremen, Jerman akan didukung oleh Kementrian Pendidikan Nasional melalui program Beasiswa Unggulan. Meski demikian, delegasi ini berharap dukungan dari sejumlah lembaga lain terutama untuk transportasi dan akomodasi selama kegiatan berlangsung.

Ngayogjazz akhirnya digelar 15 Januari 2011

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,


Dalam mengekspresikan semangat berkumpul dan bekerja sama, orang jawa mempunyai ungkapan : Mangan ora mangan waton kumpul. Makan atau tidak, tetap saja bisa berkumpul (rukun). Inilah yang di adopsi oleh panitia ngayogjazz yang bergeser penyelenggaraannya di tahun 2011 karena adanya musibah meletusnya gunung Merapi yang hingga kini masih membuat tanggap darurat masih menjadi status buat kota-kota disekitar Merapi seperti Yogyakarta.

Ungkapan Ngayogjazz  menjadi “Mangan Ora Mangan
.Ngejazz”. Sebuah ungkapan yang di maknai bahwa solidaritas bisa terwujud tanpa ikatan atau persoalan material (mangan). Bahkan semangat ini semakin terbukti ketika masa sulit sedang datang.

Inilah Jazz. Sebuah cara memainkan musik dengan asyik, spontan, interaktif, dan ekspresif. Hampir tanpa batas. Siapapun; alat musik apapun; dimanapun; kapanpun. Bahkan, dalam suasana apapun, karena jazz lahir juga karena sebuah keadaan sosial yang direspon dengan permainan-permainan musik. Jazz lahir untuk melepaskan kepenatan keadaan di Amerika Serikat pada suatu masa oleh orang-orang keturunan Afrika. Kini cara permainan musik itu telah meluas ke seluruh dunia dan melibatkan lebih banyak orang ; lebih beragam alat musik dan lebih bermacam unsur kebudayaan, sebanyak ragam kesenian, bunyi di bumi ini. Inilah Jazz!

Keriuhan Jazz itu akan dihibur dengan para penampil yang siap hadir pada tanggal 15 Januari 2011. Mereka adalah ESQI:EF aka Syaharani & Queenfireworks, Glenn Fredly, Iga Mawarni, simakDialog (Tohpati, Riza Arshad, dan kawan-kawan), Chaseiro (Chandra Darusman, Helmie Indrakusuma, Aswin Sastrowardoyo, Edie hudiro, Irwan Indrakesuma, Omen Sonisontani), Gugun Blues Shelter, Tohpati Bertiga (Tohpati, Indro Hardjodikoro, Bowie), Sujud Kendhang & Kesenian Tradisional plus Komunitas Jazz Jogja, Komunitas Jazz Bali dan Komunitas Jazz Ngisor Ringin, Semarang.

Acara di gelar di Pelataran Djoko Pekik, Desa Sembungan, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mulai dari jam 2 siang hingga dua belas malam pada hari Sabtu Pon tanggal 15 Januari 2011.

Dalam kesempatan Ngayogjazz kali ini akan di Launching Album Kompilasi Komunitas Jazz Jogja – Ngayogjazz yang kedua dengan Konsep Album : Sesarengan plus tentu saja Pasar Jazz dan Festival Foto Ngayogjazz (Pameran dan Pojok Foto).

Anda tertarik?, bersiaplah mengontak agen perjalanan anda. Tak perlu membeli tiket pertunjukan, karena acara berlangsung gratis.

Laporan Perjalanan simakDialog ke Kathmandu Jazz Festival

Tags: , , , ,


simakDIALOG – sebuah grup jazz kontemporer asal Indonesia baru saja diundang oleh Kathmandu Jazz Festival dan ini merupakan kali kedua penampilan mereka di festival tertinggi di Himalaya.

simakDialog terdiri dari Riza Arshad (keys/leader), Tohpati Ario Hutomo (gitar), Adhitya Paratama (elektrikbass), Endang Ramdan (sundanese kendang), Erlan Suwardana (sundanese kendang) dan Cucu Kurnia (metal toys).

Berikut ini laporan perjalanan yang disampaikan Riza Arshad pada redaksi Wartajazz.com. Kami edit seperlunya.

simakDialog saat tampil di Upstairs

simakDialog saat tampil di Upstairs

Perjalanan kami menuju Nepal via Bangkok berjalan dengan baik. Di Svarnabum, Bangkok kami dijemput dan diantar ke hotel oleh staf KBRI, pak Witon Wijaya. Kami bermalam 1 malam dan keesokan paginya diantar oleh mobil KBRI kembali ke airport u/ melanjutkan perjalanan ke Kathmandu.

Setelah menempuh 3 jam 15 menit, kami mendarat di Kathmandu Int’l Airport dan dijemput oleh staf Konsulat Jendral RI, pak Manish dan pak Annan – beliau adalah warga Negara Nepal yang direkrut menjadi staf KJRI – dan beberapa WNI yang menetap bekerja sebagai tenaga ahli u/ PBB di Nepal, mayor Marinir Bpk Arief dan Bapak Fauzi yang istrinya – Ibu Siti Halati yang bekerja untuk FAO UN.

Malam hari dan keesokan harinya, kami diajak makan siang oleh staf KJRI dan para expat WNI. Sore harinya kami melakukan persiapan untuk tampil di sebuah jazz club yang termashur di Nepal – Upstairs, untuk tampil pada malam harinya yang terletak hanya sekitar 100 meter dari hotel Ambassador di mana kami menginap. Kami berjumpa dan bertukar cerita dengan beberapa ‘kawan lama’ kami yang masih turut mengundang dan menangani acara Jazzmandu sejak kunjungan kami di tahun 2004.

simakDialog bersama seluruh musisi

simakDialog bersama seluruh musisi

Upstairs, sebuah bangunan sangat sederhana terletak di jalan besar dan berada di antara bangunan toko sederhana khas Nepal. Terdiri dari 3 lantai dan sangat sederhana – di mana lantai 1 adalah dapur, lantai 2 bar dan lounge serta lantai 3 adalah ‘ekstra’ ruangan untuk para tamu. Sangat khas bangunan untuk jazz club yang dijumpai di seluruh dunia, seperti antara lain Blue Note, NY, 505 Sydney, No Black Ties, KL juga CafĂ© Au Lait di Jakarta.

Usai soundcheck, simakDialog segera bermain selama 60 menit yang dimulai dengan lagu ‘Disapih’ dari album ke 5 – DemiMasa, dilanjutkan dengan lagu Miles Davis ‘Footprints’ dan ditutup oleh komposisi original ‘Sidewalk Stories’ dari album ke 3 ‘trance/mission’. Ruangan menjadi sangat penuh sesak dan melebihi kapasitas namun tertib, tak membuat orang bergeming meski sD hanya menampilkan 3 lagu dalam kurun waktu 60 menit. Olahan musik ‘west meet southeast’ simakDialog menurut beberapa kritikus musik di Eropa dan Amerika menjadi hal yang menarik dan ‘baru’ bagi penikmat musik jazz yang mayoritas imigran/turis kulit putih yang berada di Nepal. Dapat dipahami bahwa pada bulan Oktober dan awal November adalah musim baik u/ kegiatan trekking, rafting di Nepal dan hampir semua hotel full booked – untuk itu salah satu alas an panitia menyelenggarakan festival Jazzmandu.
Keesokan harinya, simakDialog bersama seluruh musisi penampil berangkat ke venue Jazzmandu di Gokarna, menuju ke di kaki bukit kira-kira 40 menit dari pusat kota Kathmandu.

simakDialog at Jazzmandu 2010

simakDialog at Jazzmandu 2010

simakDialog menampilkan jenis musik kategori contemporary jazz progressive yang memberi nafas dan warna yang berbeda di antara penampil Jazzmandu kali ini yang menjadi alasan Navin Chettri direktur program Kathmandu Jazz Fest mengundang simakDialog sebagai penampil karena keunikan musiknya yang tidak hanya sekedar menampilkan percampuran ‘barat dan asia tenggara’, tapi nafas ‘baru’ dalam kategori jazz world yang ditampilkan simakDialog memang berbeda. Seperti yang diakui oleh salah seorang reviewer dari Borislav Kresojevic -> musik yang dimainkan simakDialog adalah jenis musik yang hampir tak pernah dimainkan lagi oleh grup manapun di genre kontemporer jazz setelah awal formasi grup Mahavishnu (John Mclaughlin, Jan Hammer) sejak tahun 1974. Sebagian musisi Amerika seperti drummer Ari Hoenig http://www.arihoenig.com pianist James Miley (yang bergelar doktor, staf pengajar di West university of The West, Oregon) dan saxophonist Peter Epstein yang mengajar di Oregon University – lewat kibordis Riza Arshad memberikan pernyataan serupa.

Keunikan ini dirasakan sebagai ‘hal baru’ yang menarik perhatian mereka dan bagi siapapun yang mendengarkan melalui 2 pertunjukan simakDialog dalam kunjungan kali ini. Bahkan, sebagian pendengar di Upstairs jazz club yang sebagian besar pelajar beberapa international high school dan college.

Melalui berbagai upaya dan bantuan yang diberikan oleh pengusaha Arifin Panigoro memungkinkan grup simakDialog memenuhi undangan ke 2 untuk tampil di Kathmandu Jazz Festival/Jazzmandu 2010 – sebuah festival yang diselenggarakan bertepatan dengan musim berkunjung para pencinta alam dari seluruh dunia dan di Gokarna – yang terletak di kaki bukit pegunungan Himalaya membuat Kathmandu Jazz Festival atau disebut juga Jazzmandu menjadi salah satu festival Jazz terunik dunia di kawasan tengah Asia.

Kami – simakDialog bersyukur atas selesainya misi ini dan berterimakasih pada Tuhan yang MAHA ESA dan KUASA atas ridhoNYA, semoga memberi manfaat yang baik dan luas bagi Bpk. Arifin Panigoro, Bpk. Iwan Ramelan, Bpk Frits Momor dari tim produksi grup, Bpk. Navin Chettri, Ibu Silvia direktur dan wakil direktur Kathmandu Jazz Festival dan Diwas L/O kami di Jazzmandu segenap staf KBRI di New Delhi dan Bangladesh, Bpk Anand dan Bpk Manish Koirala selaku staf KJRI di Nepal, Bpk dan Ibu Gunawan Setiadi dari WHO, Bpk Fauzi dan Ibu Siti Halati dari FAO, Bpk Mayor Marinir Arief Rahman Hakim, Bpk Ray Wahyuniawan dan Bpk Agus dari UNMil, dan secara khususnya bagi kami. Amiin YRA.

Tohpati Ethnomission Save the Planet dirilis di Amerika Serikat

Tags: , , , , ,


Tohpati Ethnomission – Save The Planet

Semenjak album simakDialog – Patahan dan Demi Masa dirilis oleh Moonjune Records yang berbasis di New York, Amerika Serikat maka sepertinya jalan terbuka mulus bagi kelompok lain seperti Tohpati Ethnomission. Walaupun Tohpati sebenarnya bukan “orang lain” karena ia juga adalah gitaris simakDialog – kelompok yang digagasnya bersama Riza Arshad.

Leonardo Pavkovic sang pemilik label yang pernah ditemui oleh WartaJazz beberapa tahun silam mengirimkan rilisan MoonJune seraya membubuhkan keterangan bahwa album Tohpati Ethnomission – Save the Planet versi mereka berbeda.

Sepintas jika anda mengamati covernya memang tidak ada perbedaan dengan yang didistribusikan oleh demajors untuk pasar Indonesia. Namun kalau ditelaah lebih dalam dari susunan lagu, terlihat perbedaannya. Begitupula gambar pada cakram padatnya yang memperlihatkan siluet hutan – berkesesuaian dengan titelnya Save the Planet.

Berikut ini daftar track yang termuat dalam album Tohpati Ethnomission – Save The Planet rilisan MoonJune Records:
1. Selamatkan Bumi (Save The Planet) 9:07
2. Bedhaya Ketawang (Sacred Dance) 8:31
3. Drama 1:47
4. Ethno Funk 8:38
5. Gegunungan (Gateway Of Life) 2:56
6. Hutan Hujan (Rain Forest) 8:42
7. Biarkan Burung Bernyanyi (Let The Birds Sing) 7:27
8. Inspirasi Baru (New Inspiration) 4:13
9. Perang Tanding (Battle Between Good & Evil) 8:16
10. Pesta Rakyat (Festive People) 5:10
11. Amarah (Anger) 2:34

Lagu bertitel Amarah merupakan track yang berbeda dalam album ini. Tembang East West pada rilisan Indonesia tidak disertakan. Diakui oleh Bontot alias Tohpati saat dihubungi WartaJazz Sabtu malam (21/08) bahwa lagu East West memang dirasakan paling ‘ringan’ jika dibandingkan dengan komposisi lain dan Leonardo sepertinya juga mengamini hal itu.

Tohpati Ethnomission terdiri dari gitaris Tohpati, bassis Indro Hardjodikoro, Demas Narawangsa (drums), Endang Ramdan (kendang), Diki Suwarjiki (suling). Penyanyi pada Bedhaya Ketawang adalah Lestari.

Jika kita menelaah album ini maka akan mendapati sejumlah pengaruh mulai dari Terje Rypdal, John McLaughlin, Robert Fripp sampai King Crimson. Album ini dibandrol $14 untuk pasar US/Canada (FREE shipping) dan $16 untuk negara lainnya (termasuk Indonesia). Harga tersebut sudah termasuk ongkos kirim.

Diluar musiknya hanya satu hal menurut Redaksi agak kurang yaitu tidak adanya liner notes yang menjelaskan lebih jauh tentang Tohpati Ethnomission dan musiknya. Terkecuali kalau anda membaca disitus MoonJune. “Dia pengennya simpel aja”, ujar Tohpati menjelaskan.

So anda mengaku penggemar Tohpati tulen?. Sepertinya harus mengoleksi pula rekaman ini!.

Halmahera – Kuyakini

Tags: ,


Halmahera - Kuyakini

Halmahera - Kuyakini

Judul Album : Kuyakini
Artis          : Halmahera
Tahun Produksi : 1995
Produser           : Halmahera
Produksi           : Ceepee Production

Track List
1. T’RUS KUCOBA
2. KUYAKINI
3. ITULAH ENGKAU
4. GUNDAH
5. TAKKAN MUNGKIN BERUBAH
6. SABTU MALAM
7. MUNGKIN ADA SAATNYA
8. KEMBALILAH KASIHKU
Halmahera adalah band jazz fusion yang memulai langkah awalnya dari ajang kompetisi band yang digelar sebuah perusahaan instrumen musik Jepang “Light Music Contest” atau “Band Explosion” dan menetaskan beberapa band fusion seperti Krakatau, Black Fantasy,Emerald,Indonesia Enam,Canizarro ,Modulus,Kahitna dan masih banyak lagi.
Halmahera memang tak berhasil menjuarai ajang musik bergengsi itu. Namun musikalitas Halmahera mulai banyak dibidik penikmat musik jazz fusion.
Terdiri atas Tohpati Ario Hutomo (gitar),Indro Hardjodikoro (bass) ,Ari Darmawan Soemantri (keyboards,piano) dan Feber Manalu (drums). Saat itu mereka memang banyak terpengaruh grup fusion Jepang Casiopea maupun Uzeb dari Kanada.
Corak permainan gitar elektrik Tohpati memang mengarah ke gaya fusion melodius tapi berkesan gagah. Indro Hardjodikoro sendiri sebagaimana galibnya para pencabik bass genre jazz rock atau fusion banyak bersandar pada pola funk yang dinamis dan agresif. Setidaknya jika menyimak album ini kita bisa menangkap harmoni pop yang berbaur dengan aksentuasi jazzy dan terkadang banyak mengimbuhkan sinkopasi. Tohpati, Indro dan Ari bahkan telah memperlihatkan kemahiran menulis komposisi sendiri.
Di album yang diberi judul Kuyakini ini, Halmahera menyajikan sebanyak 8 komposisi yang mereka tulis sendiri.Namun untuk divisi lirik Halmahera masih membutuhkan bantuan dari luar seperti Dian Savitri dan Adelansyah.Yang disebut terakhir adalah penulis lirik yang kerap membantu album grup fusion lainnya Modulus.
Tema lirik yang disuguhkan Halmahera memang tak terlalu istimewa. Bertutur tentang asmara dan segala pernak perniknya. Tapi yang menonjol adalah kreativitas menulis lagu. Itu diperlihatkan secara pasti oleh Halmahera yang juga didukung oleh penyanyi tamu Diana Anyes Sudardi. Terdapat pula beberapa pemusik tamu seperti Krisna Balagita (piano elektrik),Didiet Maruto (trumpet) dan Pramono (trombone) serta dua penyanyi latar Pitta Lopies dan Laksmi Nurulsuci.
Saat itu lagu “Kuyakini” dan “Kembalilah Kasihku” kerap diudarakan beberapa radio swasta di Jakarta,Bandung dan kota kota besar lainnya.

Indro Hardjodikoro – Feels Free

Tags: , ,


Indro Hardjodikoro - Feels Free

Indro Hardjodikoro - Feels Free

Nama Indro Hardjodikoro adalah sebuah nama yang cukup dikenal di dunia musik tanah air sebagai seorang bassis papan atas negeri ini. Sebagai yang cukup lama  malang melintang di Industri musik tanah air ini  Indro kerap sekali terlibat  di album milik musisisi di Indonesia selain itu  indro juga pernah terlibat dengan Halmahera yang bernuansa fusion dan simakDialog, sebuah band Jazz dengan nuansa etnis yang cukup kental.

Setelah sekian lama sebagai section player bagi musisisi-musisi lain akhirnya dengan dibantu Demas Narawangsa (drums), Lal Intje Makkah (keyboard), Irfan Chasmala (keyboards) juga Tohpati (guitar) dan Oele Pattiselanno (guitar)oleh di awal tahun ini Indro meluncurkan album perdananya yang bertajuk “Feels Fre”.

Album “Feels Free” ini menghadirkan sepuluh lagu dalam format instrumental yang semuanya ditulis oleh Indro Hardjodikoro. Di Album perdananya ini ia memunculkan nuansa fusion yang cukup kental baik pada lagu yang berirama rancak maupun beberapa buah tembang bernuansa ballad di album ini. Titik awal sebagai lagu pembuka di album ini tampil menghentak seolah memberikan tanda  titik awal pada album ini, pada lagu pembuka ini Indro hadir dengan nuansa fusion 80-90an yang cukup kental. Di lagu ini dialog terjadi antara Demas dan Indro yang cukup menarik. Selain pada lagu titik awal nuansa fusion bertempo cepat juga dihadirkan Indro di beberapa buah lagu di album ini sepert “I like Surprise”, ”Greenland”, “Psycopath” dan “Lost City” dan “Drum & Bass”, di lagu ini terjadi semacam dialog yang cukup intens antara Indro dan Demas yang kadang-kadang terasa rumit karena ketika keduanya bermain secara tutti dalam lagu ini, tapi lagu ini tetap terasa ringan dan asik untuk dinikmati.

Indro juga menyuguhkan beberapa buah lagu berirama ballad di album ini, My Angels, Feels Free, Menyapa pagiku dan Senja.

Pada lagu “My Angels”, Feels Free  Indro tampil bersama dengan Tohpati dengan nuansa yang manis begitu pula ketika berduat dengan gitaris dari generasi yang berbeda ‘Oele Patiselano” dalam lagu “Senja” dan “Menyapa Pagiku” keduanya tampil dengan nada-nada yang manis untuk dindengar. Suatu kesan yang timbul ketika selesai mendengarkan lagu tersebut terasa sekali ingatan kita diajak untuk tertuju pada album Metheny-Haden “Missoury Sky”

Tohpati Oper Gigi di Ethnomission

Tags:


Tohpati Ethnomission - Save The Planet

Sepintas embel-embel “mission” segera berasosiasi dengan “Trance/Mission”, judul album simakDialog (2002) di peralihan adopsi penuh kendang Sunda pada seksi ritme. Tohpati yang termasuk pentolannya menghadirkan corak peralihan tersebut pada album solo terbarunya, lewat permainan kendang Endang Ramdan komplementer terhadap tabuh drum Demas Narawangsa. Begitu didengarkan, warna distorsi, manipulasi pedal ekspresi, hingga aksen lengking yang serupa pun mengkonfirmasi jalinan tersebut. Belum lagi gaya rekaman live utuh yang nyaris menihilkan overdub jika mengingat tiga album sebelumnya, yang lebih memiliki polesan manis, yaitu saat masih di bawah label Sony Music. Pembuka “Etno Funk” juga menyimbolkan preferensi gitaris papan atas ini pada kreasi bernunsa tradisi sekaligus kocokan (strumming) funk yang sarat syncopated rhythm. Proporsi yang sudah mulai dibukukan sejak rilis “Tohpati” (1998) itu perlahan condong ke musik etnik.

Berbicara proporsi pada album simpul dua dunia Tohpati, “East West” adalah porsi fusion kontemporer yang paling gamblang. Tidak mengejutkan kalau tenorist Bob Mintzer muncul dalam unison melodi intervalik yang seolah membalas “Yahoo” ketika dimainkan Yellowjackets dengan bintang tamu Tohpati pada Jak Jazz Festival 2008. Mintzer tanpa kesulitan berarti menemukan ide pembuka yang menawan untuk solo saksofonnya. Fusi sejenis disuntikkan bius groove yang membuka “Rain Forest”dalam atmosfer jam band, walaupun ternyata berakhir dalam tema progresif.

Di sisi lain terdapat pula tutur cerita “Bedhaya Ketawang” yang menonjolkan suling Diki Suwarjiki dalam balada kontemplatif. “New Inspiration” menampilkan fitur bassist Indro Hardjodikoro sebagai versi baru dari album “It’s Time” (2008) yang memuatnya sebagai medley “Kata Hati (Inspiration)” pada bagian improvisasi duet drum-gitar. Aksi kendang-drum diberi slot pada “Perang Tanding” yang mewujudkan salah satu babak pertunjukkan wayang, dengan “Gegunungan” di babak lainya bagi duet gitar (plus synth) dengan kendang. Apalagi yang lebih tepat mengakhiri guitar-vaganza selain sedikit sentuhan country twang/chicken pluck dalam keriangan “Pesta Rakyat”.

Pada awalnya sempat muncul konsep untuk merekam album ini di alam terbuka dengan sekaligus menghasilan pengambilan gambar untuk DVD. Pada akhirnya rekaman ini dilakukan indoor dan dirilis berbentuk keping audio yang beredar sejak Axis Java Jazz Festival 2010. Yang jelas secara materi Tohpati merasa lebih bebas berkreasi pada album solonya ini.

Akhir pekan bersama Tohpati, Joeniar Arief dan Andien

Tags: ,


Aston Marina Jakarta bekerjasama dengan Sampoerna mempersembahkan Jazz Moments yang digelar hari Sabtu, 20 Februari 2010 menampilkan Tohpati and friends, Andien, Joeniar Arief dan Light bertempat di Marina Mediterania, Tower A Jl. Lodan Raya No. 2A Jakarta 14430.

Tohpati adalah gitaris yang siap meluncurkan album dari proyek terbarunya Tohpati Ethnomissions, awal Maret mendatang di ajang Java Jazz Festival 2010. Sementara Andien pun akan merilis album terbaru dalam beberapa bulan kedepan. Sedangkan Joeniar Arief adalah penyanyi yang dikenal publik lewat lagunya Rapuh. Penyanyi R&B ini kerap diundang tampil di panggung-panggung Jazz.

Anda yang tertarik menonton akan dikenakan biaya sebesar IDR 100.000,- (seratus ribu rupiah). Berminat?, silakan hubungi telepon (021) 6983-7120.

***

Bulan Februari ini memang menjadi salah satu bulan tersibuk Jazz. Bagaimana tidak, beberapa konser digelar dalam rangka pemanasan menuju Java Jazz Festival yang dikenal dengan istilah Java Jazz on The Move. Sementara itu dibeberapa tempat juga menggelar acara jazz seperti My Sunday Jazz di Malang atau tampilnya Idang Rasjidi di Pekalongan.

Dan arena pertunjukan tak hanya terbatas di cafe-cafe yang kerap mengelar pertunjukan musik, namun masuk pula ke Mal-mal di seantero Jakarta. Hal ini menunjukan bahwa gairah menyemarakkan Jazz tumbuh dan berkembang di masyarakat. Tentu saja peluang ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh musisi Jazz dan para penikmat Jazz sebagai alternatif pilihan menikmati Jazz.

Bubi Chen, David Manuhutu, Tohpati, Sandhy Sondoro ada di Axis Java Jazz Festival 2010

Tags: , , , , , , , , ,


Axis Java Jazz Festival 2010

Axis Java Jazz Festival 2010

Bertambah lagi artis yang akan tampil di Axis Jakarta International Java Jazz Festival 2010. Kali ini dari negeri sendiri. Panitia telah mengumumkan sejumlah nama yang dipastikan tampil di ajang yang digelar selama tiga hari berturut-turut mulai 5 hingga 7 Maret 2010 di Jakarta International Expo Kemayoran.

Mereka yang telah terdaftar yaitu pianis Bubi Chen dan David Manuhutu, 21st Night, Gugun Blues Shelter, Indra Aryadi, Indro Hardjodikoro Trio, Jakarta Broadway Team, Sandhy Sondoro, Soulvibe dan Tohpati & Friends.

Tentu saja daftar diatas masih akan bertambah. Didaftar wish-list yang lumayan panjang terdapat sejumlah nama seperti Akordeon, Aksan Sjuman Quartet, Andien, Andre Hehanusa, Anggun, Balawan & Batuan Ethnic, Bambang Nugroho, Barry Likumahua Project, Benny Likumahuwa, Benny Mustafa Van Diest, Cindy Bernadette, Dira J. Sugandi, Ecoutez, Elfa’s Bossa’s, Esqi : Ef Feat Syaharani, Glenn Fredly Tribute to Broery Marantika, Humania, Java Jazz Band, Jazmint Big Band, Joy Marantika Trio, Kadek Rihardika & Glen Dauna Project, Maliq & D’Essentials, Nita Aartsen, Notturno, Oele Pattiselano, Opustre Soul Big Band, Pitoelas Bigband, RAN, Simak Dialog, Souleh & Soulehah, Tjut Nyak Deviana Daudsjah dan Yuri Mahatma (Bali).

Gelaran Axis Java Jazz Festival dengan tema Jazzin’Up Remarkable Indonesia ini sudah memastikan pula tiga konser special shows yaitu John Legend, Kenny ‘Babyface’ Edmonds dan The Manhattan Transfer yang memiliki tema khusus The Chick Corea Songbook.

Tiket pertunjukan kini tersedia pula lewat WartaJazz.com Ticket Box. Silakan kunjungi halaman berikut ini atau dapat pula menghubungi 021-8310769.


We in the Western world suffer from too many categories and classes; we’ve forgotten that we all still have diapers on. We’ve separated music from life. — Ornette Coleman


Berlangganan Newsletter WartaJazz
 
<