 |

Jazz News
Jazz Agenda
Jazz Indonesia
Jazz New Releases
Jazz Store
Jazz Ticket Box
Jazz Style
Jazz Birthday
Jazz Wawancara
Jazz Festival
Jazz SMS gratis!
Jazz Radio
Sekilas Warta
JAKART@2005
Indonesia Open Jazz 2005
28th Jazz Goes to Campus
Bali Jazz Festival 2005
Nusa Dua Jazz Festival 2004
Java Jazz Festival 2005
Asia Africa World Jazz 2005
Indonesian Jazz Archives
|
|
|
WAWANCARA DENGAN TNj DEVIANA DAUDSJAH (bagian pertama)
Oleh : Ajie Wartono *)
Warta
Jazz (WJ) : Mungkin bisa diceritakan dari awal bagaimanan dulu Mbak
Deviana dari Jerman kemudian datang kembali ke Indonesia.
Deviana (D) : Itu ceritanya panjang, tapi saya singkat saja. Saya
berangkat ke Jerman pada akhir tahun 1974, kuliah di Jerman di Frieburg
im Breisgau, ini ibukotanya adalah Black Forest , saya kuliah musik klasik,
majoring di piano, minornya gitar, vokal dan komposisi, setelah empat
tahun kuliah disitu (Musikhochschule Freiburg-Jerman -red) saya
pindah ke Swiss, jadi saya tinggal di Swiss di kota Basel, setelah banyak
perform mulai tahun 1987 itu saya mulai mengajar disamping perform
dimana-mana, di Belgia, Jerman, pokoknya di festival jazz dan jazz
club negara-negara Eropa. Mulai 1987 itu saya mulai mengajar secara private
dan memberi les dan mulai 1989 mengajar di sekolah musik (Jazz&Rockschule
Freiburg -red) di Jerman dan awal tahun 1990 saya diangkat jadi rektor
atau kepala sekolah sebuah akademi jazz di Jerman (Jazz&Rockschule Freiburg
-red), disitu saya lima tahun sekalian mengembangkan kurikulum untuk mata
kuliahnya, pada saat yang sama di Basel , Swiss (Musikakademie Basel
Abteilung Jazz -red) saya mengajar ensemble, improvisasi, ear training,
koor, aransemen dan saya ikut mengembangkan kurikulum, karena pada waktu
itu departemen jazz belum lama seperti klasik, dan akhirnya departemen
jazz menjadi satu dengan departemen klasik di dalam satu Akademi .
WJ : Apakah selama mengajar di Jerman ini pernah mengadakan kontak
dengan musisi Indonesia yang ingin menambah pengetahuan disana ?
D : Pernah, tapi nggak tahu bagaimana, tidak berhasil terus, kebetulan
tiap tahun saya suka pulang ke Indonesia , disamping menjenguk keluarga,
juga melihat perkembangan kebudayaan kita di Indonesia.
WJ : Lalu bagaimana ceritanya sampai ada keinginan kembali menetap
di Indonesia, apakah ada ketertarikan tertentu atau mungkin ada rasa keprihatinan
terhadap kondisi permusikan di tanah air ?
D : Mungkin rasa keprihatinannya lebih besar, karena saya di Jerman
sudah 26 tahun dan selama saya mengajar di akademi dan merangkap sebagai
rektornya, berapa banyak sarjana-sarjana musik yang kami luluskan dengan
tanda tangan saya di diploma mereka, saya juga sering memimpikan kenapa
nggak anak-anak Indonesia yang saya tanda tangani diplomanya. Setap saya
pulang , saya lihat disini perkembangannya kok semakin menyedihkan kalau
boleh saya bilang begitu. Perkembangan seni dan budaya sepertinya tidak
begitu diperhatikan oleh pemerintah, smentara saya lihat banyak sekali
anak-anak yang berbakat seni disini, khususnya musik. Kemudian saya pikir,
ya sudahlah, sudah cukup waktunya dengan tawaran-tawaran yang menggiurkan
saya tolak disana dan memilih pulang ke Indonesia.
WJ : Artinya kembali "berjuang" dari awal.
D : Ya
WJ : Lalu bagaimana kesan atau pendapat Mbak Deviana pada waktu ke Indonesia
kemudian melihat kondisi seperti ini khususnya untuk musik jazz ?
D : Ya., sedih dan makin gemes, karena saya pikir kenapa kok saya lihat
nggak ada yang bikin gagasan yang benar untuk mengembangkan bibit-bibit,
bakat-bakat yang sangat bagus disini, dan saya waktu memberi workshop
pertama kali di Hotel Regent Jakarta pada bulan April (2000 -red) dan
banyak yang mengikuti workshop dan semakin sedih saja karena saya lihat
kok pengetahuannya cuma sampai segini, apa yang dipelajari selama ini
nah itu semakin greget.wah gimana ya mengungkapannya.
WJ : Bagaimana tanggapan atau reaksi dari para peserta workshop dengan
materi yang disampaikan yang mungkin belum familiar atau biasa mereka
dapatkan ?
D : Ya , kebanyakan cerita sama saya, mereka shock , karena saya tayangkan
video sejarah jazz mulai dari New Orleans sampai ke modern jazz , saya
kan bawa pulang banyak sekali video-video dokumentasi, ada Louis Armstrong
atau Thelonious Monk , nah pelajaran-pelajaran dasar yang biasa saya susun
untuk workshop itu ternyata masih banyak yang belum paham, akhirnya ya
tanggapannya mereka ya seperti itu, ternyata selama ini informasi yang
mereka dapat itu sangat minim dan kurang sekali.
*) Wawancara ini dilangsungkan pada acara Jazz Times, kerjasama antara
Warta Jazz dan Radio Bikima 99.85 FM Yogyakarta.
Kembali ke Halaman Wawancara
Kembali
ke Halaman Depan
|
|
 |