WartaJazz.com :: Tempat Mangkal Pecinta dan Pemerhati Jazz Indonesia
PATA JAVA Beli album jazz Indonesia
       
         


Jazz Today
  Jazz News  
  Jazz Agenda 
  Jazz Indonesia
  Jazz New Releases  
  Jazz Store 
  Jazz Ticket Box
  Jazz Style
  Jazz Birthday 
  Jazz Wawancara  
  Jazz Festival  
  Jazz SMS  gratis!
  Jazz Radio  
  Sekilas Warta
  JAKART@2005
  Indonesia Open Jazz 2005
  28th Jazz Goes to Campus
  Bali Jazz Festival 2005
  Nusa Dua Jazz Festival 2004
  Java Jazz Festival 2005
  Asia Africa World Jazz 2005
  Indonesian Jazz Archives

   


WAWANCARA DENGAN GUNTER HAMPEL


Gunter Hampel seorang multi instrumentalis dari Jerman yang pernah konser di Jakarta pada tahun 1978 dan pendiri perusahaan rekaman Birth yang mengaku hanya sebagai seorang pembangun dan pengatur suara. Gunter Hampel telah banyak berkolaborasi dengan musisi-musisi jazz dunia terutama yang beraliran free jazz seperti Anthony Braxton, Marion Brown dan Cecil Taylor, dia juga konsen terhadap perkembangan musik jazz dan menyikapinya dengan kreatif dengan membentuk grup-grup yang bervariasi dan baru-baru ini namanya masuk sebagai salah seorang pemain vibraphone avangarde yang inovatif di All Music Guide dan masuk dalam jajaran the best vibraphone players di Down Beat Critics Choice pada tahun 2000. Berikut ini sekilas wawancara kami dengan musisi serba bisa ini.

WartaJazz (WJ) : Pertama-tama, apa awalnya anda tertarik dan memainkan musik jazz?

Gunter Hampel (GH): Saya lahir 13 Agustus 1937 di Jerman. Ketika usia saya 8 tahun, kira-kira setelah berakhirnya perang dunia II, banyak pasukan dari Amerika Serikat masuk ke kota saya (Goettingen) dan membebaskan kami dari kediktatoran Nazi. Waktu itu saya bermain piano dan akordion tampil di sebuah camp tentara AS dan mulai jam session dengan seorang GI pemain gitar. Kemudian di American-Force Radio Network AFN saya mendengar Louis Armstrong untuk pertama kalinya. Saya tidak tahu kata-kata yang sedang dia nyanyikan, namun seolah-olah dia sedang berbicara kepada saya. Dia memalingkan saya ke musik jazz. Mulai saat itu, saya bermain jazz. Apapun yang saya lakukan mengarah ke dalam bahasa musik jazz. Saya kira Louis Armstrong merubah kita semua, sampai sekarang. Ayah saya adalah seorang pemain piano dan biola yang hebat dan dia adalah guru pertama saya. Setelah itu saya bertemu dengan guru yang berikutnya, yang juga seorang komposer dan cukup mampu untuk mengembangkan bakat saya. Kakek saya adalah seorang komposer dan multi instrumentalis, meskipun sebagian besar berupa musik tarian dan folk Jerman (musik ini sering ditampilkan di kalangan masyarakat Jerman ketika ada sebuah pesta pernikahan atau musik tari tradisional dan pada hari perayaan tertentu). Pada awalnya ayah saya tidak suka saya memainkan musik jazz karena dia tidak mengerti. Namun ketika dia datang pada saat saya menampilkan musik itu, dia ikut menarikan dari irama musik Swing itu. Ketika itu saya lihat wajahnya ceria dan dia bangga akan penampilan saya. Kemudian dia berkata: "musikmu membuat saya menari". Ini benar-benar melambungkan saya. Dia tidak mengetahui apa yang kita mainkan itu adalah Swing, meskipun dia mengerti caranya. Setelah itu dia sering hadir di dalam pertunjukan saya, barangkali di situ akan banyak gadis yang ditemuinya dan menari dengan mereka. Hal itu membuatnya merasa menjadi penting. Pada saat itu banyak orang menari dengan musik kami ini dan kamipun senang melakukannya.

(WJ) : Siapakah musisi yang paling mempengaruhi anda?

(GH): Ketika masih muda dan mulai memainkan sebuah alat musik, biasanya banyak musisi yang mempengaruhinya. Setiap orang yang bermain klarinet, saxophone, vibraphone dalam musik jazz maupun di musik lain mulai mempengaruhi saya pada awalnya. Kami pemain musik jazz belajar dari satu sama lain, yang tidak pernah berhenti. Selalu dapat memainkan lebih, menemukan cara permainan dan penampilan yang baru. Ini dapat menambah apa yang telah diketahui. Barangkali hal ini juga yang menjadikan akrab pendengar kami dengan musisi jazz besar yang mempengaruhi saya seperti; (pada klarinet) Jimmy Noone, Johnny Dodds, Benny Goodman, Edmond Hall, Sidney Bechet, Pee Wee Russell, George Lewis. Pada vibraphone; Lionel Hampton, Terry Gibbs, Red Norvo, Milt Jackson, Lem Whinchester, Walt Dickerson, Teddy Charles dan Bobby Hutcherson. Musisi saxophone; Benny Carter, Lester Young, Coleman Hawkins, Ben Webster, Stan Getz, Gerry Mulligans, John Coltrane, Eric Dolphy (dia menarik perhatian saya terutama dengan bassklarinet-nya). Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, sebagai seorang musisi dapat dipengaruhi oleh banyak tokoh musik yang memainkan musik dengan penuh arti. Barangkali semua daftar nama musisi besar akan masuk dalam buku saya. Namun ada yang lebih. Saya adalah seorang komposer, yang saya mulai menganalisa dan memahami perbedaan gaya dan pencapaian komposer-komposer seperti Benny Carter ataupun Duke Ellington. Serta pencapaian konsep yang lebih jauh lagi dari Benny Goodman Quartet bersama Lionel Hampton, Gene Krupa dan Teddy Wilson (mereka adalah kelompok pertama yang memainkan apa saja yang mereka inginkan, jika masyarakat menyebutnya free jazz, itulah mereka!). konsep Bebop dari Charlie Parker dan Dizzy Gillespie atau quartet tanpa pemain piano-nya Gerry Mulligans, Art Blakey, Lennie Tristano, Thelonious Monk, Eric Dolphy dan Charles Mingus. Selain itu, saya juga mengikuti pencapaian musik klasik Eropa kami dan bersama tokoh-tokohnya seperti Richard Wagner, Bela Bartok, Arnold Schoenberg, Alban Berg, Webern. Orang-orang itu bagi saya telah mengembangkan sebuah dimensi yang baru sepenuhnya untuk menggunakan dan berimprovisasi dengan musik. Bayangkan ruang free tonal. 12 nada (dedakofon) yang sama dan semuanya di antaranya.

| 1 | 2 | 3 |
4 | 5 | 6 |



Kembali ke Halaman Wawancara

Kembali ke Halaman Depan


 

        Copyright © 1996-2007 Warta Jazz.com All right reserved
Dilarang mengutip, memperbanyak atau memanipulasi isi website ini
tanpa izin tertulis dari WartaJazz.com
Comments, Suggestion and Feedback send to info@wartajazz.net