 |

Jazz News
Jazz Agenda
Jazz Indonesia
Jazz New Releases
Jazz Store
Jazz Ticket Box
Jazz Style
Jazz Birthday
Jazz Wawancara
Jazz Festival
Jazz SMS gratis!
Jazz Radio
Sekilas Warta
JAKART@2005
Indonesia Open Jazz 2005
28th Jazz Goes to Campus
Bali Jazz Festival 2005
Nusa Dua Jazz Festival 2004
Java Jazz Festival 2005
Asia Africa World Jazz 2005
Indonesian Jazz Archives
|
|
|
WAWANCARA DENGAN IWAN HASAN
Oleh : Ajie Wartono *)
Iwan Hasan adalah salah satu dari musisi Indonesia yang mempunyai
idealisme tersendiri, dengan kelompoknya Discus yang juga beranggotakan
Anto Parboe, Eko Partitur, Fadhil Indra, Hayunaji, Kiki Caloh, Krisna
Prameswara dan Nonnie mengusung musik yang bisa dikategorikan ke dalam
musik Progressive Rock dan banyak melakukan eksplorasi musikal pada musiknya.
Musisi yang juga menguasai permainan Harpa Gitar ini dengan kelompoknya
Discus justru bersinar di mancanegara daripada di negerinya sendiri Indonesia,
bahkan pada awalnya Discus sempat tidak diterima disini baik oleh sebagaian
masyarakat maupun industri musik.
WartaJazz (WJ) : Bagaimana ide awal atau latar belakang
terbentuknya Discus ?
Iwan Hasan (IH) : Saya ingin membentuk sebuah grup musik beraliran
Progressive rock, tadinya sih nggak berpikir ke Progressive rock, tapi
akhirnya kami dimasukkan ke situ oleh "market",. Saya dari kecil punya
basic musik klasik kemudian pada waktu masih remaja suka main band yang
main musik rock. Kemudia saya studi musik waktu itu di Willamette University
(Oregon, Amerika -red) , nah disitu saya belajar musik klasik dan jazz
juga komposisi kontemporer, setelah itu saya punya keinginan untuk membentuk
grup. Latar belakang saya kan menjadi macam-macam dan campur-campur, ya
di klasik, rock, jazz juga musik kontemporer, lama-lama saya berpikir
ini kok asiknya sama, dengan mencoba bikin suatu yang sifatnya penggabungan
terus saya kumpulkan teman-teman, pertama saya dengan Fadhil (Fadhil Indra,
keyboard -red) kami bikin band dan ketemu teman-teman yang latar belakangnya
beda-beda bahkan ada yang bertolak belakang lalu jadilah Discus, kemudian
kita waktu itu bikin lagu dan belum ada label (perusahaan rekaman -red)
dari Indonesia yang tertarik dan susah sekali, kita coba tawarkan ke luar
negeri, ternyata oleh perusahaan Italia yang bernama Mellow Records dirilis,
kemudian setelah dirilis oleh Mellow Records baru di rilis di Indonesia
dalam bentuk kaset (Chico&Ira Production -red), jadi dirilisnya di Italia
duluan dan label itu adalah label untuk musik-musik Progressive rock ,
jadi saya pikir kita oleh pasar dikelaskan ke dalam Progressive rock,
kenyataannya juga begitu dirilis di Italia dan dipasarkan sampai Amerika
, di Amerika terus kita diundang untuk ikut festival pada festival musik
Progressive rock , jadi rasanya kita bisa disebut band Progressive rock.
WJ : Padahal mungkin maksudnya tidak ke arah situ, tapi karena mengabungkan
beberapa jenis musik, rock, jazz, ethnic ..
IH : Sebetulnya Progressive rock ya seperti itu, jadi Progressive rock
definisinya sangat luas, yang penting ada elemen rock dan elemen yang
lain-lain, jadi kita pertama tidak bermaksud menjadi band Progressive
rock tapi juga tidak bermaksud untuk tidak menjadi band Progressive rock,
kita tahu Progressive rock tapi pokoknya pikiran kita waktu itu, kita
campur-campurin saja dan akhirnya terserah orang dan pendengar saja menilainya,
tapi kenyataannya yang menerima kita pangsa Progressive rock dan memang
Progressive rock itu definisinya begitu, pokoknya ada musik rock digabung
(biasanya) dengan musik klasik atau jazz kebetulan kita juga ada elemen
etnik tradisional dan kontemporer, jadi ya rasanya benar juga kita dimasukkan
ke dalam Progressive rock.
WJ : Lalu ada komposisi di "Gitar Klinik" yang berjudul "Transcultural
Echoes on 33 Strings", nah itu ada yang menyebut sebagai "Ethnoprogressive
Contemporary Jazz Metal", bagaimana mengenai ini ?
IH : Sama saja saya kira, sebetulnya kan kata kuncinya Progressive , jadi
Progressive itu sudah bisa mencampur semuanya , kita juga Progressive
rock yang mengandung jazz, karena Progressive rock bisa dibilang semacam
dialektika dari berbagai macam style yang kemudian bertemu, makanya band
Progressive satu dengan yang lain bisa sangat berbeda sekali , jadi pokoknya
basicnya Progressive rock pasti merupakan sebuah campuran dia tidak hanya
merupakan rock dan jazz, dia bisa campuran rock dan avant garde, kita
juga ada elemen itu. Seperti Gentle Giant (grup musik Progressive rock
-red) itu elemen-eleman avant garde nya memakai suara-suara kaca pecah
(lagu In A Glass House -red) segala macam, dia juga jazznya sangat kuat
juga da pengaruh musik jaman Renaissance , mungkin rocknya sendiri bisa-bisa
tinggal dua puluh persen.
1 | 2
| 3 | 4
| 5 |
Kembali ke Halaman Wawancara
Kembali
ke Halaman Depan
|
|
 |