 |

Jazz News
Jazz Agenda
Jazz Indonesia
Jazz New Releases
Jazz Store
Jazz Ticket Box
Jazz Style
Jazz Birthday
Jazz Wawancara
Jazz Festival
Jazz SMS gratis!
Jazz Radio
Sekilas Warta
JAKART@2005
Indonesia Open Jazz 2005
28th Jazz Goes to Campus
Bali Jazz Festival 2005
Nusa Dua Jazz Festival 2004
Java Jazz Festival 2005
Asia Africa World Jazz 2005
Indonesian Jazz Archives
|
|
|
WAWANCARA DENGAN IWAN HASAN
Oleh : Ajie Wartono *)
WJ : Menurut anda bagaimana publik Indonesia sendiri dengan Discus ini
?
IH : Tahun 1999, dua bulan setelah dirilis di Italy kemudian baru dirilis
di Indonesia dalam bentuk kaset, tadinya mau kaset dan CD ternyata hanya
kaset saja, nggak tahu atas pertimbangan apa CD nya nggak dikeluarkan,
dicetak sekitar seribu kaset, tapi karena low budget, kita promonya agak
kurang, walaupun ada promo di radio-radio tapi tanggapan kecil sekali.
Mendadak setelah kita ke ProgDay 2000 kemarin timbul berita di News music,
kompas dan sebagainya, nah baru disitu tiba-tiba entah bagaimana orang
banyak yang cari, toko-toko kaset bilang wah sekarang banyak yang mencari
album Discus. Tapi ya karena sudah terlanjur di cetak hanya seribu dan
sudah di lempar ke toko semua, ya sudah habis.
WJ : Masih aktif di musik kontemporer nggak ?
IH : Sudah agak lama nggak, tapi akan ke situ lagi. Ya kebetulan saja
Discus kemarin sepertinya menjadi intensif, karena sambutan kita di luar
negeri bagus, jadi konsentrasi saya sementara ke situ dan kitya jadi semangat-semangatnya
bikin album kedua. Berkautan dengan tanggapan di Indonesia, Discus ini
kan didirikan pada tahun 1996 kita pergi ke Amerika untuk konser pada
6 Oktober 2000, itu kan sudah empat tahun, percaya atau nggak pertunjukan
di San Francisco itu adalah pertunjukkan Discus yang keenam , jadi selama
empat tahun, di Indonesia total cuma lima kali manggung , sampai orang
Amerika juga Tanya, "di negaramu sambutan bagus nggak?" ya kita bilang
saja "di Mellow Park, California ini adalah penampilan kita yang keenam
dari tahun 1996 dan di Prog day adalah yang ketujuh", dia langsung kaget,
dan dia bilang "wah kok kamu mau-maunya". Tapi untungnya di grup kita
orang-orangnya, professional musician atau semi professional, jadi memang
musisi, walaupun Discus jarang main kita pasti semingu sekali latihan,
ada atau nggak ada acara, jadi selama empat tahun itu nggak pernah berhenti,
dan karena sebagian dari mereka musisi yang mencari uang lewat musik,
jadi nggak pernah meninggalkan instrument, jadi walaupun jarang naik panggung,
tapi permainan kita nggak kacau, ya syukurlahlah selama ini yang terjadi
begitu.
WJ : Jadi ada dari masing-masing anggota untuk terus di Discus dan mengembangkan
musiknya ?
IH : Setidak-tidaknya sampai saat ini begitu .
WJ : Tentang nuansa Indonesia yang anda masukkan ke dalam musik anda,
samapi dimana kekuatannya, maksudnya apakah ini sekedar semacam tempelan
saja atau katakanlah menjadi "ruh" dari musik itu bahwa Discus dari Indonesia
?
IH : Itu jelas dari "ruh" ya, tapi , saya rasa begini, disatu pihak kita
melakukan itu tapi di lain pihak kita nggak mengharuskan semua lagu kita
ada nuansa itu, karena kita juga tidak merasa sebagai grup world music
atau kita tidak mengklaim harus ada elemen seperti itu (etnik Indonesia
-red), cuma kenyataan menunjukkan bahwa ternyata justru elemen itu yang
membuat nilai lebih dan dianggap punya ciri yang berbeda dengan mereka,
ini ada suasana Asia atau Indonesia, Progressive kan asalnya dari Inggris
dan berkembang ke Eropa dan Amerika, tapi secara maistreamnya bukan elemen
Asia, nah ternyata tiba-tiba ada elemaen Asia yang masuk, Bali, Sunda,
Jawa dan sedikit Timur Tengah, ya ini jadi menarik buat mereka.
WJ : Jadi itu memang tuntutan dari komposisinya itu sendiri ?
IH : Ya dan memang kita hidup di Indonesia, kita tidak bisa terlepas untuk
mendengar musik tradisional dari waktu kita kecil, jadi rasanya sah-sah
saja kalau begitu, namanya musik sih ya, jadi kalau menulis komposisi
itu, apa yang tiba-tiba saya rasakan dan ada dalam pikiran saya masukkan,
kalau itu tradisional dan saya merasa komposisi ini bagus dilarikan kesitu
ya saya masukkan saja, kalau pas nggak merasa kesitu ya nggak akan kita
buat begitu, kita akan memasukkan itu (unsur tradisional -red) kalau kita
merasa terinspirasikan kesitu, kalau nggak ya kita nggak masukkan.
1 | 2
| 3 | 4
| 5 |
Kembali ke Halaman Wawancara
Kembali
ke Halaman Depan
|
|
 |