WartaJazz.com :: Tempat Mangkal Pecinta dan Pemerhati Jazz Indonesia
PATA JAVA Beli album jazz Indonesia
       
         


Jazz Today
  Jazz News  
  Jazz Agenda 
  Jazz Indonesia
  Jazz New Releases  
  Jazz Store 
  Jazz Ticket Box
  Jazz Style
  Jazz Birthday 
  Jazz Wawancara  
  Jazz Festival  
  Jazz SMS  gratis!
  Jazz Radio  
  Sekilas Warta
  JAKART@2005
  Indonesia Open Jazz 2005
  28th Jazz Goes to Campus
  Bali Jazz Festival 2005
  Nusa Dua Jazz Festival 2004
  Java Jazz Festival 2005
  Asia Africa World Jazz 2005
  Indonesian Jazz Archives

   


WAWANCARA DENGAN IWAN HASAN
Oleh : Ajie Wartono *)


WJ : Lalu mengenai beberapa lagu yang berbentuk semacam "suita" yang terdiri dari beberapa bagian, apa ini juga tuntutan dari ide tadi ?


IH : Wah ini sangat susah dibilang, karena pada saat kita menulis lagu, kadang-kadang apapun bisa terjadi yang kita nggak rencanakan sebelumnya. Kalau komposisi panjang, sebetulnya bisa jadi sesuatu itu memang diniati untuk dibikin panjang, tapi kadang-kadang juga bisa jadi sesuatu lagu yang dalam proses penciptaannya bisa jadi panjang sendiri, entah bagaimana kalau kita bikin komposisi musik kadang-kadang kalau kita jujur pada perasaan kita , kadang-kadang terasa sendiri apakah komposisi ini harus berhenti disini, sudah saatnya berhenti ataukah harus lanjut. Jadi kalau komposisi yang seharusnya panjang dipendek-pendekan atau sebaliknya komposisi yang seharusnya pendek dipanjang-panjangkan akan jadi nggak karuan. Jadi gimana ya, susah untuk menjelaskannya..

WJ : Mungkin itu suatu proses yang mengalir dan tidak bisa dijelaskan secara definitive !


IH : Ya, tapi mungkin ada yang bisa menjelaskan, tapi terus terang saya nggak bisa.

WJ : Mengenai alat musik Harpa Gitar (Guitar Harp) yang sepertinya menjadi spesialis Bung Iwan, bagaimana ceritanya ?


IH: Kalau dibilang spesialis, nggak juga, maksudnya karena kebetulan saja jarang yang main. Kenapa saya nggak mengaku sebagai spesialis sebabnya begini, waktu saya di Amerika studi dengan orang yang namanya John Doan. Dia professor gitar klasik, tapi dia juga punya karir di musik dan dia main alat itu (guitar harp) yang dia desain sendiri, nah kalau dia itu diluar karirnya sebagai professor gitar klasik dia sudah banyak rekaman di label Narada dan Windham Hill dan dalam albumnya khusus memainkan alat itu sendirian dan kalaupun ada sound-sound lain seperti biola, flute atau bahkan paduan suara untuk beberapa lagu, tapi itu hanya menjadi semacam background saja, utamanya tetap komposisi-komposisi untuk harp guitar ini, kalau dia sudah hidup matinya disitu, di album-albumnya dia hanya memainkan alat itu, nah kalu saya kan tidak seperti itu, saya masih main alat yang lain dan itu hanyalah salah satu dari alat yang saya mainkan.

WJ : Kebetulan jarang yang memakai, jadi mungkin trade mark alat ini disini melekat pada Bung Iwan ?


IH : Ya memang itu unik sih, artinya yang mendesain guru saya itu John Doan, dan memiliki hanya tiga orang, dia, saya dan ada satu orang lagi di Amerika juga, karena memang itu dia yang mendesain, ada desain-desain gitar denga snar banyak yang dipakai juga oleh Pat Metheny, Michael Hodges, tapi kan lain dengan disainnya ini, sepanjang yang saya tahu disatu album mereka juga memakai alat lain, dan yang dalam semua albumnya hanya memakai alat itu adalah John Doan. Jadi saya katakan tadi mengapa saya tidak mengklaim sebagai spesialis , kalau saya spesialis alat itu berarti saya sudah sanggup seperti guru saya itu, bisa satu album isinya permainan alat itu semua, rasanya dalam hal ini saya belum sampai kesitu. Tapi siapa tahu besok-besok saya bisa mencoba melakukan hal itu.

WJ : Bagaimana menurut Bung Iwan kondisi dunia musik di Indonesia pada saat sekarang ini ?


IH : Mau nggak mau saya harus mengatakan sangat disesalkan, mengapa format musik di Indonesia, format yang jalan di industrinya kok seperti foto copy dari lagu-lagu pop yang ngetop di Amerika, tangga lagu-lagu asingnya saja isinya kurang lebih sama dengan yang di Amerika, kalu lagu yang dari Indonesia stylenya bisa dibilang persis mengikuti trend apa yang baru terjadi disana juga, jadi seperti foto copynya MTV begitu. Kadang-kadang memprihatinkan juga, ini maunya kemana sih sebetulnya, artinya bentuk-bentuk musik katakanlah tradisi hilang dan kurang didukung oleh industrinya yang mainstream. Tidak usah itulah, musik-musik yang lain diluar yang seperti itu (pop "MTV" -red) juga sulit untuk hidup, sekarang contohnya begini, waktu itu saya pernah hadir di diskusi yang diadakan suatu majalah musik, saya waktu itu bersama Donny Suhendra dan Gilang Ramadhan, kita bicara disitu dan saya ditanya kenapa Discus ini kok luar negeri minded sekali, janganlah lupakan negara kita sendiri (untuk rekaman dan pementasan -red), saya bilang suh kita ingin sekali bisa diterima disini tapi bagaimana, dulu kita datang ke label disini dan ditolak melulu, dibilang musiknya susah dijual dan ternyata di luar negeri disambut, terus ini yang salah siapa ? Kita kan nggak memilih begitu, tapi nasib menentukan demikian terus bagaiman, apa mesti kita tolak, ya nggak dong. Masa bisa ada satu perusahaan di Italy yang ternyata menampung kami dan kita kemarin diundang di festival di Amerika dan bisa dikatakan disambut dengan baik, sementara kita disini mau menyelenggarakan pementasan buat kita saja susahnya setengah mati, jadi kenapa begitu, bukan karena kita yang menginginkan begitu, cuma pada waktu itu kita belum diterima disini. Sebetulnya di luar juga yang dominan tetap musik pop, tapi yang diluarnya itu bisa tergarap cukup baik walaupun tidak pernah mencapai skala sebesar musik pop, musik-musik yang segmented terbukti tergarap juga, disini menyesalnya kan tidak atau kurang tergarap. Mudah-mudahan dan saya berharap ada gejala-gejala positif yang saya lihat, seperti contohnya acara ini di radio yang mencoba setidak-tidaknya untuk menyadarkan publik disini bahwa ada bentuk-bentuk alternatif terhadap musik mainstream pop tadi. Saya sama sekali bukannya mau menganggap musik pop itu jelek, ada beberapa lagu pop yang saya suka dan Discus tidak bisa dibilang anti pop , ada elemen pop juga disitu, tapi kenapa musik harus selalu "fast food", maksudnya dalam format yang hanya sekian menit dan sudah baku seperti itu, kenapa nggak bisa yang lain, kalau lagu panjang misalnya duapuluh menit, memangnya kenapa. Kalau lagu yang temanya perlu pemikiran kenapa nggak bisa dimuat disitu atau nggak bisa diterima, ini kan sangat disesalkan kalau saya pikir.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 |


Kembali ke Halaman Wawancara

Kembali ke Halaman Depan


 

        Copyright © 1996-2007 Warta Jazz.com All right reserved
Dilarang mengutip, memperbanyak atau memanipulasi isi website ini
tanpa izin tertulis dari WartaJazz.com
Comments, Suggestion and Feedback send to info@wartajazz.net