 |
|
|
|
WAWANCARA DENGAN SUDIBYO Pr. (bagian kedua)
Sebuah Catatan Sejarah Jazz di Indonesia
Oleh : Ceto Mundiarso dan Kusumo Nugroho *)
WJ: Apakah
hal ini yang membuat kesan musik jazz di masyarakat kita terasa sulit
dipahami, sebuah musik kelas atas?
SP : Kalau musik jazz menjadi sulit memang dapat dimengerti juga. Kalau
sampai sekarang ada kesan bahwa musik jazz hanya untuk kelas atas, memang
sejak awalnya di Indonesia musik jazz dimainkan di hotel-hotel berbintang.
Karena pada waktu itu memang sulit meminta club-club atau café yang kecil
untuk menampilkan musik jazz. Dari aspek komersial mereka mereka tidak
ada yang berani. Mereka menganggap bahwa jazz masih terlalu asing dan
juga kebetulan para manager hotel-hotel tersebut juga pecinta jazz dan
juga banyak kawan kita di sana sehingga akhirnya di sana jazz mulai dimainkan.
Karena hotel-hotel tersebut adalah hotel berbintang sehingga yang datang
juga kebanyakan dari kalangan menengah ke atas. Hal ini memberikan kesan
bahwa mereka membuat kelompok yang eksklusif. Barangkali benar, namun
bahwa eksklusifme musik jazz itu lebih banyak dalam hal artistiknya bukan
dari segi gengsinya. Sebetulnya mereka karena mencintai musik jazz dan
cocok dengan kelompok-kelompok tertentu sehingga terbentuk suatu kelompok.
Memang sampai sekarang jazz kebanyakan masih banyak dimainkan di hotel-hotel
besar dan belum banyak dimainkan di tempat-tempat yang lain walaupun sekarang
ini sedikit demi sedikit sudah dimulai (dimainkan ditempat lain juga -red).
WJ: Kemudian pada masa lalu, apa saja yang sudah anda usahakan untuk mensosialisasikan
musik jazz?
SP: Kita dahulu tidak menyelenggarakan di hotel-hotel namun di kampus.
Pada awalnya masih sederhana. Pada waktu itu sumber jazz hanya dari radio
dan ada beberapa musisi lokal. Sedangkan hiburan mahasiswa pada waktu
itu ketika ada acara kumpul bersama setiap minggu. Di situ kita dapat
putar-putar musik, dansa dan selalu mengundang beberapa musisi jazz. Setelah
itu acara itu mereka bermain. Sering saya juga membawa beberapa rekaman
jazz, akhirnya kawan-kawan yang suka jazz tetap tinggal dan yang lain
mungkin pulang sedang kita sampai malam. Pada waktu itu saya memberanikan
diri untuk mengadakan konser piringan hitam di ITB yang diputar setiap
bulan purnama di lapangan basket. Saya kasih juga penjelasan seadanya
sesuai dengan pengetahuan saya dengan rekaman dari piringan hitam dan
turntable didukung dengan amplifier 50 watt yang rasanya sudah hebat waktu
itu. Akhirnya cukup menyenangkan, 2 jam dengan musik jazz dan sehabis
itu kita putar musik dansa. Awalnya demikian.
WJ: Apa sebenarnya kegiatan utama dari Pak Dibyo itu? Apakah kolumnis
jazz? Atau yang lain?
SP: Kalau kegiatan saya banyak sekali. Namun profesi saya adalah arsitek,
mantan dosen ITB, tetapi memang sejak jaman mahasiswa saya aktif dalam
promoting jazz, mengenalkan jazz pada waktu belum banyak orang yang mengenal
musik jazz, yang masih dianggap musik orang gila. Meskipun akhirnya membawa
pengaruh juga.
WJ: Dulu anda kuliah di mana?
SP: Saya kuliah di ITB yang kemudian saya lanjutkan untuk belajar di Inggris
dan Amerika.
WJ: Dalam buku tersebut, apakah ada semacam bagaimana cara menikmati musik
jazz?
SP: Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yang pertama adalah mengenal
unsur-unsur musik jazz yaitu unsur-unsur yang membuat musik itu bisa disebut
musik jazz. Bagian kedua adalah pengenal masing-masing unsur musik jazz
itu dan sedikit banyak tentang struktur musik jazz. Berikutnya adalah
sejarah musik jazz, yaitu dari lahirnya musik jazz. Kemudian adalah perkembangan
gaya-gayanya, karena yang dikenal orang itu bahwa musik jazz itu sudah
banyak sekali gayanya. Hal ini juga menandakan bahwa musik jazz sangat
cepat sekali dalam perkembangannya, yang dalam satu abad perkembangannya
sudah luar biasa. Kalau jaman musik klasik dari era ke era yang lainnya
memakan waktu ratusan tahun. Memang banyak orang kalau mendengarkan jazz
sekarang ini akan bingung. Banyak style dalam jazz. Apalagi kalau orangnya
tidak mengenalnya. Dengan ini saya mencoba agar dapat membeda-bedakan
antara satu style dengan style yang lain. Ada cerita lucu, jaman dulu
di sini tidak ada sebuah group band yang memakai alat musik drum sedangkan
yang memakainya hanya group jazz saja. Sehingga ada orang yang menyebut
alat musik tersebut adalah jazz. Kalau ada orang bilang bahwa band itu
punya jazz itu artinya band tersebut mempunyai drum. (lanjut...)
1 | 2
| 3 | 4
| 5 |
Kembali ke Halaman Wawancara
Kembali
ke Halaman Depan
|
|
 |