 |
|
|
|
WAWANCARA DENGAN SUDIBYO Pr. (bagian ketiga)
Sebuah Catatan Sejarah Jazz di Indonesia
Oleh : Ceto Mundiarso dan Kusumo Nugroho *)
WJ: Apakah sejarah jazz di Indonesia secara spesifik juga disinggung dalam
buku tersebut?
SP: Ya, pada bagian akhir. Menurut data yang saya dapatkan bahwa jazz
pertama kali dimainkan di Indonesia adalah sekitar tahun 1922. Jadi sebenarnya
rekaman musik jazz pertama kalinya diproduksi di Amerika adalah pada tahun
1917. Sejak itu piringan hitam mulai menyebar ke seluruh dunia. Sebetulnya
ada seorang musisi dari Belanda yang setelah lama di Amerika, dia juga
pemain saksofon, datang ke Indonesia dengan kawan-kawannya dan membuat
band. Pada waktu itu dianggap sebagai jazz band yang pertama di Indonesia.
Dan saya perhatikan sejarahnya selama itu yang main adalah orang Indo-Belanda
yang hampir 80% barangkali sedangkan yang pribumi sedikit sekali yang
bermain musik jazz. Memang kalau dibaca nama-namanya memang nama Belanda
namun kalau dilihat orangnya sebenarnya orang dari Jember, Banyuwangi
dan sebagainya. Mengapa begitu? Saya belum menemukan alasan yang tepat
namun hal ini patut diselidiki juga.
Ada juga sumber yang menyebutkan sekitar tahun 1925 - 1927 banyak orang
Philipina masuk Jakarta dan sebagian besar mereka adalah musisi. Hal ini
juga membawa pengaruh. Sampai sekarang masih ada sisanya, kalau di Bandung
masih ada musisi yang namanya Benny Pablo, Benny Corda, termasuk
kepala orkes radio di Bandung, Sambayong itu adalah orang Philipina
yang merupakan musisi jazz yang datang ke Indonesia pada tahun 1925.
WJ: Sebenarnya pusat perkembangannya di mana?
SP: Jakarta, Bandung, Bogor, Surabaya dan Makasar. Dulu awalnya jazz dimainkan
oleh kelompok militer yang biasanya mereka bermain untuk masyarakat papan
atas-nya Belanda dan orang-orang Indonesia yang termasuk haknya disamakan
oleh orang Belanda. Jaman dulu mereka bermain di Societet, sedangkan
orang Indonesia yang dapat masuk gedung itu bisa dihitung dan bahkan jazz
sudah masuk istana. Kita lihat saja, pada waktu jaman Belanda orang Indonesia
yang sudah mempunyai grammaphon itu siapa? Barangkali Sri Sultan
saja. Lagian orang Indonesia pada kedudukan sosial seperti itu tentunya
mereka ingin disejajarkan dengan bangsa Belanda, yang lebih senang bergabung
dalam acara-acara pesta, dansa dengan orang Belanda. Di Amerika pun pada
waktu itu musik jazz masih pada tahap awal, yaitu lebih banyak sebagai
musik hiburan, belum sampai seperti keadaanya sekarang yang sebagian orang
menilai musik jazz sebagai salah satu bentuk seni.
WJ: Pada masa-masa itu, apakah ada seorang pribumi yang bermain musik
jazz?
SP: Ada. Dalam laporan yang saya dapatkan itu menebutkan bahwa pemain
musik jazz pribumi dari Indonesia pertama kalinya adalah orang Aceh.
WJ: Apa benar beberapa dari para pejuang kemerdekaan kita atau dari Tentara
Pelajar-nya ikut serta bermain jazz untuk menghibur orang-orang Belanda?
SP: Itu bukan Tentara Pelajarnya, namun perorangan saja. Kebetulan saya
juga dari TP dan ada beberapa kawan dari Yogyakarta yang juga salah satu
tokoh TP yang kita kenal dengan nama panggilan mas Pung. Dia memang
seorang musisi juga, kemudian banyak teman-teman saya sekolah di Yogyakarta
yang pindah ke Jakarta sekitar tahun 1948. Ada dulu bersama kawan saya
dari Ambon yang bernama Rudi Wayrata (tinggal Lempuyangan, Yogya)
dan Teis Matulesi, Edi Laluyan dari Menado kemudian di Jakarta
membentuk band. Band tersebut pada waktu itu memainkan lagu-lagu Hawain
dan lagu-lagu pop, meskipun gaya Hawain itu dalam beberapa solo gitarnya
sudah mulai agak ke arah musik jazz. Jadi mereka meninggalkan Yogyakarta
ke Jakarta. Pada suatu waktu mas Pung dan saya mempunyai ide, mengapa
vokal group kita membuat aransemen-aransemen jazz. Sehingga pada waktu
itu, karena mas Pung juga seorang aransir yang cukup handal, sudah mulai
membuat aransemen yang sekarang mungkin seperti Manhattan Transfer walaupun
iringannya masih sederhana. Sampai akhirnya bermain di studio RRI (waktu
itu masih di bawah Belanda) dan diketemukan oleh Jos Cleber (seorang
pemimpin orkes Belanda). Waktu dia melihat kita bermain dia berkomentar,
"kalian ini sebetulnya mempunyai vokal group yang baik sekali, cuman ada
baiknya saya carikan seorang pengiring jazz yang benar". Akhirnya ditemukan
oleh sebuah trio (piano: Doddy Hughes; Drum: Boetje Pesolima;
Bass: Dick Van Der Capellen) dan ditawari untuk menghibur tentara
Belanda. Jadi kalau apa yang kami lakukan waktu itu diketahui oleh teman-teman
di Yogya malah nanti dianggap pengkhianat. Kemudian juga pernah tampil
dengan Nick Mamahit. (lanjut...)
1 | 2
| 3 | 4
| 5 |
Kembali ke Halaman Wawancara
Kembali
ke Halaman Depan
|
|
 |