WartaJazz.com :: Tempat Mangkal Pecinta dan Pemerhati Jazz Indonesia
PATA JAVA Beli album jazz Indonesia
       
         

   


WAWANCARA DENGAN SUDIBYO Pr. (bagian kelima -habis)
Sebuah Catatan Sejarah Jazz di Indonesia

Oleh : Ceto Mundiarso dan Kusumo Nugroho *)


WJ: Selain nama-nama seperti Jack Lesmana, Bubi Chen dan yang lainnya, kiranya siapa saja tokoh-tokoh penting jazz di Indonesia selain atau sebelum genarasi mereka?

SP: Tergantung dari mana kita memulainya. Kalau kita mulai sejak awal Republik Indonesia mungkin kita kenal, meskipun mereka sudah meninggal dunia, antara lain Boetje Pesolima, Dick Van Der Capellen, Tjok Sin Soe (sebelum tahun 1950an sudah main), Sigar Lucky Brothers (tetapi sejak ada anggapan bahwa musik jazz tidak mempunyai masa depan di Indonesia mereka pergi ke California) juga Nick Mamahit (dia yang pernah mendapatkan pendidikan formalnya di Belanda), Iskandar (bapaknya Diah Iskandar) dia adalah pemain saksofon dan aransir yang sudah cukup maju, meskipun permainannya belum setaraf dengan aransemenya (hasil aransemennya baik sekali dibawakan oleh orang lain dan pernah dibawakan di sebuah festival jazz di Amerika).
Selain itu Etto Lattumeten dia membuat Dixieland band yang terkenal The Old Timer di Jakarta. Pada awal kemerdekaan ada juga seorang pianis yang baik adalah Marihut Hutabarat, yang pada waktu itu disebut 'George Shearing-nya Indonesia'. Dia adalah seorang Sarjana Hukum yang meninggal karena kecelakaan. Dan dia yang terbaik setelah Nick Mamahit. Baru setelah itu masuk generasinya Bill Saragih, Paul Hutabarat, Eddie Gatot, Bing Slamet. Bing Slamet sebetulnya seorang vokalis yang hebat dan seorang gitaris jazz, meskipun orang lebih mengenalnya sebagai pelawak dari pada seorang pemain jazz. Pada era perang kemerdekaan dulu, Bing Slamet termasuk dari salah satu 3 penyanyi ternama di Indonesia (Sam Saimun dan Mantovani). Tambahan 'Bing' dalam namanya karena dia adalah pengagum berat dari Bing Crosby.

WJ: Apakah dalam buku itu juga terdapat apresiasi anda sendiri terhadap perkembangan musik jazz di Indonesia saat ini?


SP: Ada sedikit komentar mengenai hal itu. Mungkin juga ada beberapa kritik mengenai penyelenggaraan festival jazz. Mengenai perkembangan musik jazz di sini yang sebenarnya dari penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 200 juta ini, masih terlalu sedikit untuk pemain jazz-nya. Jadi kalau kita perhatikan dari berbagai acara jazz yang diselenggarakan akan kembali ke nama itu-itu saja, belum banyak nama-nama baru. Prosesnya masih lamban. Barangkali hal itu terjadi dilihat dari sejarah musik populer dimana pada tahun 1930an itu musiknya adalah jazz. Karena jazz pada waktu itu mudah untuk irama pengiring dansa dan untuk anak muda akan mudah sekali aksesnya. Tetapi setelah tahun 1960an jazz semakin lama semakin komplek dan rumit sehingga banyak remaja semakin menjauhi. Sedangkan di luar musik jazz sedang terjadi tren remaja yang mulai menggelinding dan membesar yaitu rock n roll. Akhirnya banyak remaja yang lari ke sana. Kalau dulu kita dapat 1 piringan hitam dari Amerika saja sudah rebutan dan ramai-ramai mendengarkan radio. Ada juga kekaguman itu muncul karena banyak musisi jazz di Indonesia pada masa lalu hanya belajar dari siaran radio yang menjadikan mereka musisi yang kreatif dan besar, contohnya; Jack Lesmana dan sebagainya. Sekarang kita begitu banyak sumber bahkan luar biasa. Ada MTV, subkultur pop yang banyak menyedot remaja ke sana. Sehingga kalau ada remaja senang musik jazz malah dikatakan remaja "aneh". Meskipun di setiap jamannya, remaja selalu terpanggil oleh pulsa-pulsa tertentu. Dengan adanya fusion itu ada segi positifnya juga. Ada beat fusion masuk jazz sehingga ada perhatian dan remaja mulai tertarik dengan jazz rock dengan harapan mereka akan tertarik juga ke dalam musik jazz itu sendiri, tetapi ada juga yang tidak. Ini juga bisa berfungsi sebagai jembatan awal. Sama saja sekarang orang senang dengan Kenny G, awalnya orang mengira kalau Kenny G juga seorang pemain jazz. Tetapi itu juga sebuah awal yang baik, karena remaja mulai senang dengan musik instrumental. Biasanya "pahlawannya" kan solo vokalis, dengan mendengar Kenny G yang seorang pemain saksofon, mungkin mereka akan mencari pemain saksofon yang lain. Apresiasi selalu melewati jalur-jalur tertentu. Tahun 1960an mungkin waktu bossa nova masuk banyak orang menjadi suka musik jazz.

WJ: Kapan kira-kira buku ini dapat diterbitkan?


SP: Nanti, tergantung publishernya dan masih perlu sponsor sebetulnya. Dalam buku tersebut juga saya analisis juga sejarah setiap instrumennya. Sekaligus saya berikan juga album-album pilihan dari banyak musisi jazz. (lanjut...)



1 | 2 | 3 | 4 | 5 |



Kembali ke Halaman Wawancara

Kembali ke Halaman Depan

 

        Copyright © 1996-2007 Warta Jazz.com All right reserved
Dilarang mengutip, memperbanyak atau memanipulasi isi website ini
tanpa izin tertulis dari WartaJazz.com
Comments, Suggestion and Feedback send to info@wartajazz.net