 |
|
|
|
WAWANCARA DENGAN SUDIBYO Pr. (bagian kedua)
Sebuah Catatan Sejarah Jazz di Indonesia
Oleh : Ceto Mundiarso dan Kusumo Nugroho *)
WJ: Bagaimana
awalnya bertemu dengan tokoh-tokoh pecinta jazz atau di HPMJI (Himpunan
Penggemar Musik Jazz Indonesia)?
SP: Pada waktu itu jazz sudah mulai ramai. Bertambahnya pemain lokal di
Bandung sedangkan kalau di Jakarta di USIS setiap 2 minggu sekali mengadakan
pertunjukan jazz. Kemudian mereka pernah meminta saya untuk mengorganisir
sebuah pertunjukan jazz di Bandung dan acara tersebut sukses. Setelah
itu mereka sering meminta bantuan saya untuk mencarikan musisi kalau ada
acara di USIS. Tugas saya dulu ke sana ke mari mencari musisi dan mengatur
beberapa programnya. Akhirnya saya terlibat juga dengan HPMJI dan para
pemain musik jazz yang hubungannya cukup dekat. Bubi Chen waktu
itu belum dikenal. Hanya saya mempunyai kawan di Surabaya yang kenal dengan
Bubi. Jadi pada waktu Tony Scott datang, Jack Lesmana bilang
bahwa di Surabaya ada seorang keturunan Cina yang bisa main blues dan
bebop. Pada awalnya tidak percaya. Setelah diajak ke rumah Bubi Chen yang
pada waktu itu masih muda, kurang lebih umur 24 tahun, bangun tidur dan
sedang memakai sarung. Begitu Bubi main, Tony Scott langsung bicara,"Orang
ini harus main dengan saya".
WJ: Menurut beberapa sumber, anda juga terlibat di dalam proyek Indonesian
All Stars sempat menghasilkan album dan ketika tampil di Berlin Jazz Festival
pada tahun 1967?
SP: Ini memang yang pertama kali kalau dikatakan ada group jazz dari Indonesia
"Go Internasional". Kalau menurut ceritanya kurang lebih pada awalnya
adalah kunjungan Tony Scott di Indonesia. Di sini dia sempat bermain dengan
Bubi Chen, Maryono dan Jack Lesmana sampai akhirnya mereka menjadi
sahabat yang kental maupun sebagai guru. Karena Tony Scott memang
salah seorang pemain klarinet, yang pada waktu itu permainannya progresif
katakanlah. Dia pernah bermain dengan Charlie Parker, Billie Holiday
dan sebagainya. Tetapi karena sesuatu hal dia harus segera meninggalkan
Indonesia, sehingga dia tidak terlalu lama di sini. Kebetulan juga
Tony Scott juga berkawan baik dengan seorang kritikus musik jazz dari
Jerman, Joachim Berendt. Dia pesan ke Berendt kalau ke Indonesia
jangan lupa hubungi Jack Lesmana. Kemudian Berendt ke Jakarta dan
dikenalkan dengan mas Yos (red- Suyoso Karsono). Sebetulnya dia
adalah ipar Jack Lesmana dimana pada wakti itu dia mempunyai perusahaan
rekaman (Irama Records). Setelah mereka berdialog tentang kemungkinan
mengirim group dari Indonesia. Itu atas usul Tony Scott. Akhirnya
mereka membuat beberapa rekaman di Jakarta dan kemudian dikirimkan ke
Jerman untuk di mainkan di beberapa stasiun radio di sana sebagai warming
up. Setelah itu dibentuklah Indonesian All Stars. Karena mereka
terus menerus berlatih selama 2 bulan, akhirnya mereka semua di boyong
ke Jakarta tinggal di rumahnya Mas Yos. Hal ini disebabkan pada waktu
itu Jack Lesmana dan Bubi Chen masih di Surabaya. Dan berangkat
juga ke Eropa.
Memang sesuai rencananya mereka melakukan tour di Eropa dengan puncaknya
ikut serta di Berlin Jazz Festival. Tetapi mereka mengalami musibah.
Setelah tournya sukses, sesampainya di Berlin, Maryono jatuh sakit
keras. Jadi dalam festival itu Indonesian All Stars tidak jadi
tampil, tetapi Bubi sendiri main. Jadi pada waktu itu panitia di sana
memilih International All Stars Band dimana para personilnya dipilih dari
berbagai negara dan Bubi terpilih sebagai pemain pianonya. Sejak itu,
nama Bubi mulai dikenal oleh para kritikus jazz. Dan majalah Downbeat
pada edisi akhir tahun 1967 namanya sudah mulai disebut "the best
in Asia" dan "one of the best in the world".
WJ: Mengingat kondisi perekonomian dan politik di negara kita pada tahun
1967 kurang lebih sama dengan yang sedang kita alami sekarang ini, mengapa
mereka seolah-olah mempunyai 'daya juang' yang tinggi?
SP: Justru kalau saya perhatikan Jack dan Bubi justru memperlihatkan permainannya
yang terbaik adalah pada tahun-tahun mereka menderita dan susah. Permainan
mereka sangat inspiratif. (WJ)
*) Wawancara langsung ini dilakukan pada saat acara "Jazz Times" di Radio
Bikima 99.85 FM Yogyakarta .
1 | 2
| 3 | 4
| 5 |
Kembali ke Halaman Wawancara
Kembali
ke Halaman Depan
|
|
 |