Interview

Wawancara dengan Benny Likumahuwa

Team Warta Jazz mewawancarai Benny Likumahua (Trombone) setelah aksi panggungnya dalam acara Jazz Goes to Campus 23, di Halaman Parkir FEUI, Depok beberapa waktu lalu. Berikut ini kutipannya :

WartaJazz (WJ) : Bagaimana tanggapannya Bung Benny mengenai acara Jazz Goes to Campus kali ini?

Benny Likumahua (BL) : Acara ini bagus sekali karena selalu berlangsung dari tahun ke tahun. Ini merupakan sesuatu yang istimewa. Harapan saya kalau bisa terus dilaksanakan dimasa mendatang. Saran saya sebaiknya acara mendatang, juga mengundang musisi dari dari daerah-daerah juga.

(WJ) : Jika dibandingkan tampil diacara lain seperti JakJazz, apakah ada perbedaan dengan JGTC, dari segi antusiasme penonton misalnya?

(BL) : Sebenarnya sih tidak ada perbedaan mendasar. Memang audiencenya sedikit berbeda. Dan saya melihat JGTC ini bagus sekali. Saya salut dengan hasil kerja adik-adik masahasiswa ini, artinya dengan apa adanya, mereka bisa mengadakan acara ini. Saya sendiri mengikuti dari tahun 1976 hingga sekarang. Dibandingkan dengan JakJazz yang pelaksanaanya tidak rutin. Menurut saya ini sebuah prestasi. Kalau bisa dikembangkan, dengan mengundang musisi dari daerah-daerah, siapa tahu juga bisa mengundang musisi dari luar.

(WJ) : Om Benny disebut Syaharani sebagai orang yang banyak memberikan pengaruh?

(BL) : Saya beritahu dia, mengenai rambu-rambu bernanyi jazz seperti apa, ya intinya dipoleslah.

(WJ) : Saat ini sangat sedikit sekali penyanyi yang mengkhususkan diri sebagai penyanyi jazz. Mungkin ada metoda yang sebaiknya dikembangkan?

(BL) : Saya tidak bisa memberikan metoda apa yang sebaiknya. Tapi Saya kira yang jadi permasalahan adalah anak muda sekarang mendengarkan musik yang ada disekeliling mereka. Musik itulah yang mereka geluti dan sukai.

(WJ) : Jika demikian, apakah berarti harus ada edukasi khusus tentang jazz?

(BL) : Saya kira melalui radio. Menurut saya itu cukup efektif sekali. Karena setiap musik itu datangnya dari radio. Dalam hal ini saya tidak berbicara apakah kaset atau CD yang lebih berpengaruh, tapi yang jelas radio selalu memutar musik setiap hari. Saya rasa jika porsi acara jazznya diperbanyak misalnya, tentu orang lebih banyak mendengar kan…?

(WJ) : Bagaimana menghapus pandangan sebagian besar masyarakat tentang jazz itu intelek, ‘high class’?

(BL) : Melalui media radio ini akan membantu, karena mereka bisa menjelaskan mengenai Jazz. Sejarah Jazz harus dijelaskan supaya masyarakat mengetahui. Jazz itu bukan orang intelek saya yang bisa menikmati. Dan sebenarnya di Indonesia istilah intelek itu selalu salah diinterpretasikan dengan orang yang ‘the have’. Padahal tidak selamanya orang yang nggak punya apa-apa tapi ‘brain’ mereka mampu mencerna musik itu.

(WJ) : Ada rencana untuk bikin album lagi atau mungkin ikut serta pada rekaman seperti pada album Wonderful World?

(BL) : Sudah lama saya nggak bikin album. Tapi saya banyak membantu musisi atau artis seperti Syaharani. Dan album tersebut memang saya yang menggarapanya.

(WJ) :Bagaimana jika rekaman dengan Sangaji Musik?

(BL) : ‘Kepengennya’ sih begitu, tapi sepertinya masih terbentur biaya. Mungkin nggak bisa pergroup yang berarti kita harus main perorangan. Terus kita bermain dengan musisi Singapura misalnya, saya kurang setuju. Karena sebenarnya musisi kita cukup bagus. Dan dari segi seni sebenarnya kita nggak kalah sama mereka. Apa gunanya saya rekaman dengan musisi lain, maa iya masa iya dari 200 juta nggak ada musisi yg bagus. Bagaimana dengan musisi dari bangsa sendiri

(WJ) :Sekarang kita melihat kecenderungan bahwa Jazz yang banyak dikenal sekarang adalah beraliran Fusion, bagaimana pendapat anda?

(BL) : Tidak ada kecenderungan apa. Karena lingkungan yang menyebabkan begitu. Pada masa kecil saya dulu, tidak ada fusion. Yang ada hanya jazz yang murni. Lingkungan pada saat itu banyak semua orang mendengar jazz, disamping jenis musik lain Rock n Roll dan Classic dan Pop. Tapi jazz itu porsinya lebih banyak. Saya berikan contoh begitu besarnya pengaruh jazz ini di Indonesia misalnya pada Ismail Marzuki, Mus Mualim, Bing Slamet, jika mendengar ciptaannya pada jaman itu, pengaruh jazz sangat terasa sekali.

(WJ) :Jadi teringat pada album Djanger Bali. Kapan kita bisa punya album sekualitas dan sebesar itu.

(BL) : Nah itu pertanyaan yang kita juga belum tau kapan bisa membuat yang semacam itu.

(WJ) : Apa sih kendalanya?

(BL) :Kendalanya di produser. Produser asing sulit mengetahui perkembangan musik indonesia, meski sekarang sudah mulai terbuka lagi. Karena beberapa dekade ini tertutup, tidak ada hubungan dengan luar negeri sama sekali dalam hal rekam merekam. Paling jauh ke Malaysia.

(WJ) : Kita kelihatannya jauh sekali tertinggal jika dibandingkan dengan Jepang misalnya.

(BL) : Betul. Dan ada hal lain juga, kalau dulu kita punya Deka Records, Philips, dan lain-lain, itu yang menyebabkan musisi indonesia dikenal. tapi semenjak ada kebijakan dilarang perusahaan asing mati.

(WJ) : Kalau begitu kita perlu regulasi pemerintah

(BL) : Saya rasa begitu. Saya melihat sekarang sudah ada Warner Music, Sony, meski masih di pop. Tapi saya belum tau kira-kira siapa yang berminat untuk menjadi label jazz

Tags

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker