FestivalInterviewJava Jazz Festival

Wawancara Eksklusif George Benson

George Benson tampil di Jakarta pada AXIS Java Jazz Festival 2011 setelah terakhir pentasnya di Jakarta di Desember 2006. Wartajazz berkesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif seputar penampilan, perjalanan karir, dan visi bermusiknya yang kini terdengar lebih romantik.

george-benson-exclusive-interview-wartajazz-2011.jpg
Wawancara eksklusif Wartajazz dengan George Benson di Hotel Borobudur Jakarta

Wartajazz (WJ): Bagaimana Anda sampai ke Nat King Cole sebagai proyek yang melibatkan orkestra bahkan sejak panggung sebelum AXIS Java Jazz Festival 2011 (misalnya Istanbul International Jazz Festival 2009, red)?

George Benson (GB): Musik Nat King Cole bukan hanya tentang suara ataupun lagunya yang luar biasa, akan tetapi ia memiliki arranger hebat, termasuk yang Sinatra dengar bertahun silam, Nelson Riddle. Ia dapat menulis aransemen terbaik seolah tiada ahli lain yang mampu untuk urusan itu. Nat dan Riddle bak ditakdirkan untuk bersama, suara terbaik lawan kepiawaian aransemen terbaik. Saat saya sajikan kesemua itu di atas meja, maka mereka akan mendengar kenapa Nat sangat besar dan betapa maju musiknya.

WJ: James Moody baru saja meninggal dunia, bisa ceritakan tentang “Moody’s Mood”?

GB: Pada masanya di awal 50-an James Moody adalah saksofonis yang tidak biasanya, tak dapat membaca musik (partitur, red), murni bermain dari dalam hati. Saat ia memilih lagu “I’m in The Mood for Love” (Jerome Kern – 1935, red) dan bersolo, itu terdengar seperti benar-benar lagu yang baru. Teman dari kota saya, Eddie Jefferson, menuliskan lirik ke atasnya, kali pertama seseorang melakukan itu terhadap sebuah solo jazz. Berkat dipopulerkannya “Moody’s Mood” oleh vokalis King Pleasure, lagu ini menjadi nomer klasik sepanjang masa. Quincy Jones meminta saya merekam lagu itu dalam album “Give Me The Night”.

WJ: Bisakah Anda ceritakan tentang album “Breezin’” yang sukses sekaligus memperoleh Grammy?

GB: “Breezin’” adalah album yang riskan bagi Quincy Jones. Sebelumnya ia mengajukan pertanyaan opsi pada saya: membuat rekaman jazz terhebat atau “go for the true”. “True” yang dimaksud adalah masuk pasar besar-besaran dengan segala resikonya. Sembari tertawa, jawaban tegas saya waktu itu adalah “go for the true”. Jones saat itu baru saja sukses melejit dalam produksi Michael Jackson. Dengan sukses semacam itu dan potensi saya (sudah pernah menjual rilis 3 – 4 juta kopi sebelumnya yang orang nyaris tak percaya itu bisa terjadi). Kami pun akhirnya merajai tangga lagu pop, jazz, dan R&B.

WJ: Adakah perbedaan saat menyanyikan “Nothing’s Gonna Change My Love for You” atau “The Greatest Love of All” dengan bawakan jazz songbook karya sendiri ataupun standard?

GB: Saya sangat nyaman melakukannya karena itulah saya, yang juga ingin bawakan lagu-lagu romatik seperti halnya Nat King Cole. Era itu memang sudah berakhir dalam arti arranger semaestro Nelson Riddle sudah tidak ada, walaupun sekarang saya masih bisa dapatkan seseorang yang bagus. Dunia telah berubah, saya tak tahu apakah “In Your Eyes” atau “Nothing’s Gonna Change My Love for You” menimbulkan dampak sediakalanya dari lagu romantik tahun-tahun lewat. Namun, saya punya seseorang yang percaya akan hal itu, seorang Michael Masser yang menulis romantik dari isi hatinya (“Touch Me in the Morning”, “If Ever You’re in My Arms Again”, “Saving All My Love for You”, dll.). Masalahnya adalah dalam hal mendapatkan persetujuan orang-orang dari perusahaan rekaman karena mereka tak menyukai Masser, bahkan coba melarang saya bekerja sama dengannya. Saya tegaskan memang sulit bagi mereka (perusahaan rekaman, red), tetapi saya bisa bekerja dengan Masser sebagai sahabat dan akhirnya tiap kali kami mengerjakan sesuatu, rekaman itu selalu melejit.

WJ: Pada album “Songs and Stories” Anda meng-cover Bill Withers, Hathaway untuk nomer-nomer yang belum dikenal orang dan ternyata adalah karya yang indah?

GB: Kembali saya bilang ini riskan di era sekarang. Orang-orang lebih cocok musik dance dan radio sudah hilang ke arah lain, kalau kita tak memainkan sesuai format mereka, tidak akan diudarakan di radio. Saya tidak ingin membuat rekaman sekedar untuk dimasukkan ke radio-radio smooth jazz untuk jatuh ke dalam slot tipikal itu. Memang mereka akan memutarnya karena saya adalah George Benson, akan tetapi memanfaatkan sekedar ketokohan tak akan capai dampak yang sama, cerita yang dicintai pendengarnya seperti halnya era “Nothing’s Gonna Change My Love for You”.

Saya sangat senang bisa mengerjakan rekaman ini karena karir saya naik karena lakukan nomer-nomer yang belum ditemukan orang. Begitu dirilis, orang terperangah dan bertanya di mana karya ini ditemukan. Bahkan selanjutnya rekaman-rekaman tersebut penjualannya tak pernah behenti, misalnya “The Other Side of Abbey Road” dan “White Rabbit” yang lebih luas dikenal berkat penjualannya setelah dikenal orang.

WJ: Bagaimana cara menemukan “yang belum pernah ditemukan orang”?

GB: Ide saya adalah segala sesuatu bermula dari lagu yang hebat baru kita bisa satukan sebagai album.

Tags

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker