News

YELLOWJACKETS MENGEKPLORASI BERBAGAI SUDUT DALAM “TIME SQUARED”

Kelompok musik Yellowjackets yang memiliki formasi terakhir Bob Mintzer (Clarinet, Flute, Saxophone), lantas Jimmy Haslip(Bass), Russell Ferrante(Piano, Keyboards) dan drummer Marcus Baylor dikabarkan telah merilis albumnya yang terbaru “Time Squared” pada tanggal 4 Agustus 2003 untuk pasar jazz Indonesia.

Album yang memiliki 11 track ini dirilis oleh Heads-Up – masih anak perusahaan Universal Music – yang memang dikenal sebagai label yang banyak memproduksi album-album jazz dengan corak Contemporary Jazz.

Album Time Squared ini ingin menyajikan kepada kita warna yang berbeda-beda. Kelompok yang awalnya dibentuk oleh Gitaris Robben Ford diakhir tahun 70-an ini mengadopsi cara pandang ‘Rhythm and Jazz” yang membedakannya dengan band lain sebutlah Spyro Gyra.

Setelah merilis “Club Nocturne” ditahun 1998, kelompok yang sempat menjadi nominator Grammy untuk albumnya yang dirilis sendiri “Mint-Jam” ini mencoba kembali menangkap seluruh engeri dan spontanitas yang telah ditelurkan dialbum-album sebelumnya lewat album terbaru yang dikerjakan sepenuhnya distudio ini.

“Kami memilih beberapa tune yang kami rasa bertautan secara keseluruhan, namun tetap kami sisakan sedikit ruang terbuka untuk bereksplorasi”, demikian ungkap Mintzer. “Disini memang banyak proses improvisasi”, lanjutnya lagi.

Rasa-rasanya hal ini memang tak berlebihan, tengok saja nomor ‘Go-go’ dimana Mintzer menggarapnya untuk menggambarkan suasana Washington DC dengan groove yang perkusif dan funky. Atau ‘Monks Habit’ yang merupakan tribute Ferrante kepada pianis eksentrik Thelonious Monk.

Drummer Marcus Baylor juga tak ketinggalan, ia menyisipkan lagu ciptaannya yang elastis tapi cukup easygoing dilagu Healing Waters’ yang diberi atmosfir vokal dari sang istri Jean Baylor.

Bassis Jimmy Haslip mempersembahkan sebuah nomor untuk putrinya lewat ‘Gabriela Rose’ yang sangat rileks, penuh harapan dan tentu saja cinta. Dan tak hanya itu anda dapat menikmati permainan solo Jimmy yang asyik dinomor ini.

Permainan piano Russel Ferrante berpadu dengan permainan saxophone yang sensual dalam ‘Claire at 18’ yang penuh tekstur ini juga menjadi gambaran atau refleksi tentang putri Ferrante yang beranjak dan mengalami proses transisi dari seorang gadis menjadi wanita. “Its beautiful, its inevitable dan its painful”, demikian kurang lebih maksudnya.

Dilanjutkan dengan nomor ‘The Village Gait’ untuk mengenang peristiwa tragedi WTC 11 September 2001 dan ditutup ‘My First Best Friend’ yang menggambarkan suasana duka dan sedih. Lagu ini didedikasikan untuk anak-anak yang meninggal dunia diusia dini.

Mengutip kritikus Chris Mann dalam komentarnya disitus Smooth-Jazz.de, “Did you always say – one day I must buy a Yellowjackets album? – Well, make it this one”.

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker