Jazz di BaliKomunitasNews

BRIDGEJAZZ – SEBUAH JEMBATAN MELALUI JAZZ

Bali Jazz Forum, yang menggagas pertunjukan Jazz BRIDGEJAZZ di Bali Sabtu 1 Mei 2004 adalah ajang apresiasi, edukasi sekaligus hiburan. Acara BRIDGEJAZZ yang pertamakali diselenggarakan ini merupakan ide membangun jaringan komunitas jazz antara Bali dan daerah lain dan sebagai awalan, Jakarta dipilih sebagai mitra dengan beberapa persiapan yang telah didiskusikan melalui beberapa teman di Jakarta utamanya dengan Riza Arshad yang banyak memberikan support bagi kelangsungan gagasan ini. Sesuai dengan namanya, acara ini diharapkan akan menjadi jembatan bagi musisi dan penikmat musik jazz di kedua kota tersebut untuk lebih meningkatkan segala sesuatu yang diperlukan dalam mengapresiasi dan mempergelarkan musik jazz. Melalui acara ini pula diharapkan menjadi sebuah forum diskusi untuk membangun network, bertukar pengalaman dan skill bermusik, melahirkan gagasan penyelenggaraan acara, atau eksplorasi yang berdimensi self reflection untuk membangun sesuatu yang lebih baik dalam musik jazz di tanah air.

Namun kendala pembiayaan masih menjadi hal utama bagi penyelenggaraan acara ini sehingga Riza Arshad yang seharusnya tampil bersama Trioscape (Aksan dan Yance Manusama) urung tampil secara lengkap. Walau demikian semangat untuk tidak bergantung kepada kondisi bukan menjadi penghalang acara ini bergulir dan tentu saja ini merupakan tekad dari Bali Jazz Forum dan teman-teman di Jakarta untuk membangun komitmen secara konsisten rencana ini.

Penyelenggaraan Bridgejazz dengan tema May Jazz My Speak 1 Mei 2004 di Amphi Theatre Mal Bali Galeria dimulai jam 20.15 wita dengan penampilan Four Free yang terdiri dari Oni Pa (keyboard), Dana (vokal), Dody (bass), Boogie (drums) dibantu Yuri (gitar). Sadar akan penampilan sebagai pembuka, Four Free membawakan nomor-nomor yang akrab di telinga para peonton. Masing nomor dari Bob James, Deep Water-Incognito, nomor Parker Bros, Everyday-Incognito ditutup dengan So danco Samba dari Jobim. Allan seorang pemain Bongo asal Irlandia diundang pada lagu ke tiga bergabung bersama mereka. Four Free yang tampil dengan komposisi itu membuat awalan yang baik setidaknya merupakan suatu pendekatan untuk membangun suasana para penonton yang sangat beragam pemahamannya mengenai musik jazz yang memadati kawasan amphi theatre malam itu.

Saharadja tampil sebagai band kedua dengan formasi Rio (trumpet, gitar), Sally Jo (biola), Ajat (digeridoo, Djembe), Barock (Tabla), Badut (Bass) dan Gede (gitar). Saharadja yang baru saja kembali dari South Africa Tour selama 3 bulan tampil membawakan 3 lagu masing-masing dari Chick Korea “Song to John” yang didedikasikan untuk John Coltrane, serta lagu original mereka “Whiskey and Sangria” yang banyak mengambil warna musik tradisional Irlandia serta nuansa trumpet Afro jazz dan yang terakhir nomor original yang belum mereka beri judul dengan nuansa jazz dan musik tradisional Cina. Semua nomor original mereka didominasi oleh komposisi gitar dan biola yang merupakan crri khas mereka. Selayaknya Krakatau, Saharadja kini lebih berkonsentrasi pada World Music dan mereka tengah mempersiapkan tour berikutnya di Afrika dan Eropa pada Juni mendatang. Penampilan singkat mereka yang mendapat banyak applaus penonton ini tentu saja sangat membuat penasaran sekaligus agak mengecewakan penonton. Rio, sang leader mohon maaf karena sebagai bagian profesionalisme bermusik, ia harus mematuhi kontrak yang telah dibuatnya dengan sebuah klub untuk penampilan regularnya malam itu. Komentar penonton terhadap Saharadja malam itu banyak hal baru dan segar yang mereka sajikan sepulangnya dari Afrika.

Berikutnya tampil Riza Arshad (keyboard-Jakarta) ditemani Yuri Mahatma (gitar, Kayane-Bali), Eko Sumarsono (bass, Kayane-Bali), Boogie (drum). Ija tampil santai menyapa penonton dan mengucapkan terima kasih atas apresiasi yang diberikan kepada para musisi malam itu. Diulasnya sedikit mengenai keberadaannya pada konser malam itu serta harapan-harapan yang dapat dikembangkan dengan format semacam ini dikemudian hari. Dibuka dengan Solar, lalu Blue in Green nomor-nomor Miles Davis ini dibawakan sangat santai namun penuh penjiwaan, berikutnya mereka membawakan Stella by Starlight dan pada lagu keempat diundang ke atas panggung Dian Pratiwi, seorang vokalis jazz yang baru tiba dari Jerman setelah selama 2 tahun secara suntuk terlibat dengan banyak grup jazz di Jerman serta melatih vokal. Dian malam itu dengan anggun dan penuh pesona membawakan Georgia on my mind disambut tepuk tangan meriah penonton. Vokalnya yang jernih dan improvisasi beraninya yang tepat memukau penonton. Lagu berikutnya Sunny dibawakan Dian, dan malam itu Nikita Dompas , gitaris Jakarta yang kebetulan berada di Bali didaulat untuk bergabung di panggung, maka jadilah malam itu sesi jam session yang menarik dan penuh semangat membuat penonton enggan beranjak sampai bergiliran munculnya Widi Noor (keyboard), Nikko (drums), Bobby (vokal) sampai hampir jam 12 malam.

Sound system yang prima serta bangunan suasana yang baik semenjak awal membuat para musisi sangat puas dengan penampilannya malam itu. Penonton juga sangat terkesan terbukti dengan keberadaan mereka hingga akhir acara, beberapa diantara mereka berharap acara semacam ini mendapat porsi lebih banyak dan sering lagi. Para penonton asing serta ekspatriat yang hadir malam itu terlihat sumringah dan bertanya dimana dan kapan ada penampilan mereka lagi. Tetapi sesungguhnya acara utama BRIDGEJAZZ bukan hari itu, keesokan harinya ada agenda workshop serta jam session di Jazz Bar and Grille. Malam itu Jazz Bar & Grille tumpah ruah oleh musisi setidaknya 20 orang musisi jazz Bali serta Riza Arshad (Jakarta), Nikita (gitar-Jakarta), Agung (bass-Yogyakarta), Yvont (drum-Canada), Allan (Bongo-Irlandia) memenuhi tempat itu bersama para pemerhati dan penggemar musik jazz di Bali. Workshop resmi memang urung diadakan tetapi suasana lebih santai dengan diskusi-diskusi informal seputar musik jazz dengan bersahaja diselingi suasana reuni. Malam itu menjadi malam yang sangat menarik bagi para musisi karena selain jarang bertemu secara lengkap juga ada nuansa berbagi yang secara tidak langsung memberikan spirit untuk berkreasi, bermusik dan tentu saja eksistensi yang lebih dalam sebagai musisi jazz.

Sesi jam session yang diawali dengan formasi Widi Noor (keyboard), Oni Pa (drum), Dody (bass) dan Gede (gitar) terus bergulir sampai giliran Riza Arshad-Erik-Dodot-Bonny (keyboard), Yuri-Koko Harsoe-Nikita (gitar), Agung-Eko (bass), Rio (trumpet), Aswin (sax), Dian-Dana (vokal), Boogie-Yvont-Eddy (drum) serta beberapa musisi lain. Acara terus berlangsung melampaui jam tutup Jazz Bar & Grille hingga 01.30 dini hari. Kelelahan mereka para musisi tertutup senyum puas karena dapat bermain bersama. Selesai? Ternyata belum cukup sampai disana, secara informal obrolan dilanjutkan di Bubur Ayam kaki lima dengan lebih santai sampai jam 3. Hasilnya? Banyak rencana-rencana yang akan dilakukan dengan format yang casual serta mengeleminir perbedaan-perbedaan yang ada menjadi sebuah diskusi positif yang mendewasakan kita bersama. Terutama BRIDGEJAZZ yang non profit ini akan terus dikembangkan dan dipertemukan dengan konsep-konsep “Pasar Jazz” serta apa yang telah dirintis oleh Indra Lesmana bersama teman-teman di studio Pondok Pinang. Lalu goalnya apa? Tentu saja agar musik jazz tanah air lebih marak dan memberikan sebuah peran yang lebih besar bagi semua pihak agar terlibat dengan intens dalam perhelatan-perhelatan musik jazz. Bukankah tugas ini aka menjadi lebih ringan ketika kita melakukanya bersama, bersahaja serta suasana gembira?

Setelah penyelenggaraan di Denpasar rencananya disusul dengan di Jakarta dengan mekanisme satu grup musik dari Bali akan mengunjungi dan bermain dengan grup musik di Jakarta dan teman-teman di Jakarta menjadi host-nya. Cara semacam ini juga merupakan bentuk lain untuk meminimalkan pengertian pusat dan daerah yang keliru terjemahannya.

Bali Jazz Forum akan mengembangkan konsep Bridgejazz ini tidak hanya dengan musisi lokal seperti Jakarta, Bandung, Jogja atau Surabaya tetapi juga dengan Australia, Jepang, Singapura dll dengan membangun network melalui institusi informal dari setiap komunitas jazz. Dengan cara seperti ini diharapkan jazz dapat dibawakan lebih berlandaskan kebersamaan dan persaudaraan sehingga betul-betul menjembatani perbedaan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker