Jazz di BandungKomunitasNews

LAPORAN BANDUNG JAZZ STATEMENT 2004

Belakangan (dan mungkin terus ke depan), kita akan lebih sering mendapati tagline acara jazz dengan pengenal lokal (setidaknya bisa kita garis bawahi kata: Java, Nusa Dua, Batam, atau Bandung dari baris-baris judul lengkap acara jazz yang akan maupun telah digelar). Ini juga diakui, misalnya, oleh Gilang Ramadhan ketika mendapat pertanyaan klasik: “perkembangan jazz Indonesia?”. Pada 27th JGTC lalu, selain merujuk ke berubahnya peta musik global secara keseluruhan (rock, pop, dll.) semenjak ada televisi musik, ia juga sepakat: “…ada yang unik; maraknya gairah menyelenggarakan konser jazz di tiap lokal. Artis yang punya kebutuhan untuk tampil sebagai bagian dari berkarya akan lebih diuntungkan jika setiap kota besar di Indonesia rutin menggelar acara”, begitu lanjut Gilang.

***

Akhir tahun adalah salah satu waktu yang dipilih kebanyakan orang untuk memperbaiki komitmennya lewat resolusi-resolusi baru. Bandung Jazz Statement (BJS) (25/12/04) juga punya resolusi sendiri: mengumpulkan musisi-musisi Bandung rutin tiap tahun. Dimulai tahun ini, Klab Jazz memotori dikumpulkannya musisi-musisi jazz Bandung untuk berkonser di satu tempat. Line up penampil terdiri dari sejumlah pemain yang sibuk manggung rutin di café, sebagai session player untuk musisi pop, maupun debutan yang sudah mulai unjuk kebolehan. Di tengah kesibukannya mereka menyempatkan diri tampil membuat statement-nya di BJS.
Imel Rosalin (piano) yang tengah sibuk untuk persiapan rilis albumnya sempat tampil membawakan sejumlah nomer seperti “Bluesette” hingga “Santa Claus is Coming to Town”. Kesibukan album Imel yang menyusul rilis “Di Ladang Stroberi” (2001) direncanakan berjudul “#1; I’m on My Way” dan sedang menunggu mixing selesai. Direkam dengan  live rhythm section di rumahnya di Lembang, album ini akan menampilkan jazz standard juga dengan vokal Imel. Selain Rudi Aru (ac. bass) dan Ari Aru (drums), rekan mainnya sejak lama, rekaman standard ini juga melibatkan Oele Pattiselano (gitar), pianis Imam Pras, dan violis Ammy. Dua yang terakhir tampil pula dalam konser BJS malam itu.
Konser BJS bisa dilihat sebagai pagelaran guru-murid. Walaupun sama-sama terus belajar, Imam Pras dan Rudi Aru boleh dibilang turut menjadi guru sejumlah musisi Bandung generasi ini. Kegiatan mingguan Klab Jazz juga menyertakan klinik di sejumlah hari dengan bimbingan Aru dan Pras. Kali ini Imam Pras bisa tampil penuh dalam format quartet untuk yang mengenalnya lebih banyak sebagai pengajar. Terakhir ia terlibat di pementasan musik kontemporer di TIM. Krishnan Mohamad (nylon strings guitar) yang juga sempat mengisi rutin klinik gitar juga tampil malam itu dalam format trio, sebelumnya ia aktif di musik klasik dengan resital tunggal di CCF (Bandung) dan Erasmus Huis (Jakarta).
Michelle Efferin (piano) yang kini berdomisili di Bandung menyempatkan tampil di tengah-tengah libur studinya di The Australian Institute of Music. Di tengah liburannya tahun lalu ia juga sempat berkonser di Bandung bersama Dewa Budjana dan Imel & Friends (Hotel Preanger, 29/01/04). Saat ditanya tentang proyek-proyek musiknya, ia menjawab bahwa liburannya akan berakhir Februari dan ia akan membuat demo komposisi sendiri sekembalinya ke sana.
Penampilan-penampilan jazz standard dengan format akustik selain didampingi Rudi dan Ari Aru, secara bergantian juga sempat tampil; Hery Wijaya (ac. bass); Henky & Opiek (drums); Angga, Rizky, Yudi, & Ludi (gitar); Arief (alto sax), Boyke (tenor sax). Acara yang jauh dari kesan formal dan diadakan di commonroom tempat pertemuan regular Klab Jazz ini memang tidak dipublikasikan sebagai acara besar dan lebih bersifat kekeluargaan. Dalam ruang terbatas itu penonton tetap interaktif, misalnya saja: ikut menyanyikan (voice) melodi kepala “Invitation” (J. Pastorius) atau kadang melemparkan banyolan-banyolan kecil. Selain itu tampil pula musisi dalam format elektrik ataupun tema jazz lainnya seperti Andi Danial (keyboard), Tiwi (vokal/piano), Didin (gitar), Josep (drums), dll. Hening cipta sejenak juga diberikan di tengah-tengah acara untuk mendoakan kesembuhan Sudibyo P.R. (pakar dan penulis jazz Indonesia yang tinggal di Bandung) serta doa bagi alm. Harry Roesli (yang juga andil dalam perkembangan jazz di Bandung). (Pada saat berita ini ditulis Sudibyo P.R. dikabarkan telah wafat pada Minggu (26/12/04) di RS Hasan Sadikin Bandung pukul 11.30 WIB)

***

Acara kolektif yang berlangsung pukul 16.00 – 23.00 ini didukung silaturahmi penggiat aktivitas kesenian di Bandung: Tobucil, sekolah musik Melodia, Atmosphere resort café (venue jazz baru di Bandung), dan Klab Jazz sendiri. Klab Jazz kali terakhir mengorganisir “jazzsphere @artspace” dengan mengundang simakDialog (02/10/04). Gaung komunitas-komunitas seperti ini yang dibuktikan dengan (salah satunya) penyelenggaraan pertunjukan dapat dilihat dari yang sudah berjalan selama ini: ada Jakarta Jazz Society, Bali Jazz Forum, Batam Jazz Forum, Jogja Jazz Club, Jazz C Two Six, Makassar Jazz Society dll., tinggal kemudian ujian waktu yang turut di belakangnya.

Bentuk partisipasi ‘sukarela’ ternyata jamak pada festival-festival rutin/annual di luar negeri. Banyaknya masyarakat yang menjadi event volunteer dapat ditemui selama WartaJazz.com mengawal Krakatau tur di Amerika Utara. Kegiatan relawan yang informal ini melibatkan pula aktivitas keluarga (hingga anak-anak).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker