News

KONSER GELIGA, MENGAWINKAN JAZZ DENGAN MUSIK MELAYU RIAU

JAZZ yang meng-“Indonesia”, seperti apa bentuk akhirnya? Walau diyakini dari sejarah bahwa jazz yang dikenal banyak orang, datang dari Amerika, namun barangkali bukan sebuah hal yang keliru juga jika ada yang mencoba mengawinkan jenis musik yang dianggap sebagai musik klasiknya Amerika, dengan jenis musik lain, seperti Melayu Riau misalnya.

Menilik sejumlah kelompok lain seperti Krakatau dengan Karawitannya atau Balawan dengan Batuan Ethnic Fusionnya yang meramu gamelan bali, sepertinya hal ini akan menjadi kecenderungan ‘pencarian’ jati diri jazz Indonesia, jika memang boleh dikatakan demikian.

Seperti halnya musisi-musisi non-Amerika, telah menghasilkan hasil “mengulik” jazz menjadi jazz yang “baru”. Ambil contoh Eberhard Weber, Jan Garbarek, Flora Purim, Sergio Mendes, Michel Camilo hingga Ryuichi Sakamoto, Jean-Luc Ponty dan sebagainya.

***

GELIGA yang dipimpin sang pianis Eri Bob, menawarkan, ritme, melodi, harmoni, timbre, ekspresi dinamika serta tempo yang membuat jazz “menyatu” dalam cita rasa Melayu. Geliga juga menyodorkan struktur kompositoris yang variatif diantara format lagu-lagu tradisional khas Melayu yang dapat mudah ditemukan dalam langgam, senandung, joget, ghazal, zapin, lagu-dua, mak inang, donang saying ataupun chalti. Atau mengaplikasikan tehnik penciptaan dengan pola binary, ternary dan combinations pattern yang lazim.

Lengkapnya personil Geliga : Arman (Accordeon)/Karim, Yusman (Saxophone)/Noviar (Accoustic&Electric Guitar), Riyan (Bass), Matrock, Andy (Perkusi)/Franky (Drum)/Yusri (Gambus)/Anten, Micky, Ida (Backing Vocal) dan Eri Bob (Pianio,Keyboard/Synthesizer, Violin).

Menurut Ben Pasaribu – seorang tokoh musik kontemporer – dalam eksekusi musiknya, Geliga banyak bertebaran riff atau basic melodies melalui eksposisi dan retisi dan kemudian improvisasi dengan cara modal, tonal maupun free improvisation. Lantas, pada setiap langkah melodic yang mereka keluarkan, terasa betul penguasaan modus musik Melayu yang secara naluriah keluar dari instrumen dan vokal, ketika lirik hadir mewarnai lagu. Begitulah yang ditangkap Ben Pasaribu dari pola kerja Geliga dalam ekspresi musik “khas”nya.

Sekadar catatan perjalanan musik kelompok yang berdomisili di Pekan Baru ini adallah mereka telah tampil di Festival Zapin Melayu, Ratu Hitam-Putih Internasional, Satang-Sayang Selat, Festival Budaya Melayu se-Dunia, Sagang Award, event-event tersebut digelar di Indonesia dan Malaysia. Mereka juga tampil di Akademi Kesenian Melayu Riau, Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Padang Panjang, tampil pula di The World Malay Arts Celebration di Batam, dimana saat itu mereka berkolaborasi dengan ensemble tradisional bersama-sama dengan pianis jazz, Idang Rasjidi dan gitaris, Agam Hamzah.

Bentuk kolaborasi dengan beberapa elemen ensemble tradisional, nampaknya disepakati akan “dilanjutkan” Geliga dalam konser perdananya di Jakarta nanti. Menyoal pada konser perdana tersebut, adalah pihak Taman Ismail Marzuki yang bersedia mewadahi keinginan kuat Geliga untuk dapat menyajikan ekspresi musik mereka, ke hadapan publik pencinta musik ibukota.
Taman Ismail Marzuki sebagai sentra kegiatan kebudayaan dan kesenian, melihat bahwa Geliga memiliki potensi tersembunyi, untuk dapat menjadi alternatif hiburan musik yang sehat dan “baru”. Keunikan musik jazz berjubahkan tradisi Melayu, dianggap sebagai eksplorasi kreatif baru, yang perlu disimak dan dinikmati publik pencinta musik umumnya, atau pencinta jazz khususnya.

Taman Ismail Marzuki juga yang mendukung kelanjutan eksplorasi lain dari ramuan musik Geliga, dengan antara lain menghadirkan beberapa bintang tamu musisi ternama. Maka Geliga akan dipertemukanlah dengan bassist muda yang belakangan kerap menjadi produser rekaman jazz yang terbilang cukup berhasil, Bintang Indrianto. Juga akan bertemu dengan saxophonist handal, Arief Setiadi. Muncul pula gitaris Donny Suhendra. Dan ada keyboardist wanita handal, yang akan juga bernyanyi, Erlanda Yunita.

Pilihan pada musisi yang akan terlibat dalam kerjasama ini, juga dipilih secara hati-hati oleh pihak Taman Ismail Marzuki, demi dapat menghasilkan bentuk kolaborasi yang lebih menarik dan meluas. Keempat musisi selama ini dikenal ekstra kreatif dalam kegiatan intens melakukan eksplorasi musik, tetap didominasi oleh musik jazz sebagai musik dasar berpijaknya. Para musisi ternama ibukota tersebut telah menjawab antusias untuk siap bermain bareng Geliga.

Geliga sendiri berharap bahwa “pertemuan” perdana mereka dengan publik ibukota nantinya, akan mampu memberikan kesan baik. Mereka berupaya menyodorkan musik kreasi mereka untuk menghibur publik ibukota. Semoga kesempatan yang diperoleh Geliga dari pihak Taman Ismail Marzuki, dapat mereka pergunakan optimal sebagai perkenalan akan ramuan musik jazz Melayu yang telah mereka racik selama ini.

Sebagai catatan tambahan, Geliga sejatinya telah merilis debut album rekaman di tahun 2005 silam bertajuk, GELIGA-Instrumental Jazz Melayu Riau, yang rekamannya dilangsungkan di Pekan Baru. Kemudian proses mixing dan mastering dilakukan di Synchrosound, di kawasan Petaling Jaya, Kuala Lumpur. Album perdana tersebut memuat 12 lagu, karya Eri Bob, sang leader dan keyboardist kelompok ini. Kabarnya album tersebut cukup direspon positif publik pencinta musik Malaisya, dan ironisnya sejauh ini terasa lebih positif dari respon penggemar musik tanah air.

Pentas Konser GELIGA, Jazz Melayu Kontemporer ini akan digelar pada Jumat dan Sabtu, 27 & 28 Januari 2006 di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki dengan harga tanda masuk sebesar Rp. 40.000,- Informasi lebih lanjut dan pembelian tiket silakan menghubungi Telpon 391 37325 dan 319 34740

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker