News

Kalau tukang parkir nonton Joe Zawinul!.

Saya teringat ucapan suhu Harry Roesli, ketika dia membuka konser Indra Lesmana Band 13 tahun yang lalu di Bandung. Kala itu dia bilang, mendengarkan musik, otak dan hati kita mesti bersih kosong, jangan diisi dengan ekspektasi atau harapan musik seperti apa yang akan ditampilkan oleh artist atau kelompok dipanggung. Begitulah. Indra Lesmana, Gilang, Donny Suhendra, dan Mates, kemudian memainkan musik yang akhirnya kita kenal dalam album Java Jazz. Bulan diatas Asia, Crystal Sky dll…

Ada kesempatan nonton Joe Zawinul, ya tentulah nggak boleh saya sia2 kan. Meski merogoh kocek yang sebenarnya nggak lumayan besar, $40, tapi kalo dirupiahkan bisa tergaga-gaga (inget iklan sardencis!). Yah ini tontonan layak dan wajib, daripada nonton Krisdayanti yang akhirnya pun nggak jadi karena yang bersangkutan dideportasi secara langsung umum, bebas, dan…, tidak rahasia (juga, dilakukan secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya).

Oke. Balik lagi ke Joe Zawinul. Terus terang saya nggak begitu kenal karya2 Joe Zawinul. Yang saya tahu dia adalah anggota dari grup Weather Report. Maka tulisan ini jangan dianggap sebagai resensi atau ulasan… yah sekadar curhat aja.

Joe Zawinul tampil di The Basement Sydney selama 5 hari mulai Senin 23 27 Oktober, dan saya cuma kebagian nonton sekali malam terakhir doang.Digawangi Victor Bailey pada bass, Manolo Badrena pada perkusi, Amit Chatterjee pada gitar, dan Nataniel Townsley pada drums, Joe Zawinul bersama bandnya yg diberi nama The Zawinul Syndicate ini melakukan lawatan tour Australia pada bulan Oktober lalu, dimulai dari Melbourne, Sydney, Adelaide, Perth, Brisbane, sampai ke Wangaratta Jazz Festival. Musisi yang dibawa Joe tidak tanggung-tanggung; dalam fliers promosi pergelaran ini, disebut-sebut gitaris Chatterjee adalah eks gitaris Sting dan Santana.

Saya berharap banget waktu itu dia akan memainkan Birdland atau komposisi jazz ala Weather Report dulu. Namun ternyata musik yang saya dengar dari kelompok ini lebih pada bernuansa pedalaman Afrika, jika dilihat dari instrumentasi yg dihasilkan keyboard Joe Zawinul. Misalnya, sampling suara koor “Aaa” dan “Ooo”, atau nyanyian dalam bahasa asing (yang pasti bukan English), ditingkahi oleh vocal (yang bukan English pula) Manolo pada perkusi. Sementara rhythm section drum dan bass, tetap memainkan beat yang konstan dan stabil terpelihara. Sehingga nggak salah kalau saya menyebut musik Zawinul lebih berbicara soal suasana hati, yg bebas riang, kadang menyengat meraung dsb, serasa di pedalaman hutan Afrika.

Bila dicermati lebih jauh, Joe nampak senang bermain-main dengan apa yang dimainkannya. Dia seperti bereksperimen bunyi melalui seperangkat keyboardnya yang seluruhnya buatan Korg itu, sementara anggota band lainnya mengawal lewat hentakan funky maupun shuffle, dengan sabar. Atau boleh dibilang Joe ini laksana seorang conductor orkestra yang sekaligus menjadi pianist yg bermain secara ad libertum, sementara anggota orkestranya tetap mengalumkan melodi sesuai standar partitur. Lihat saja bagaimana Joe tiba-tiba memainkan penggalan-penggalan melodi atau kord yang seringkali ‘outside’ ketika bandnya ‘cuma’ memainkan kord-kord simple. Pertama kesannya aneh dan lucu, tapi itulah Joe Zawinul. Belum lagi suara2 aneh yang dihasilkan dari perangkat keyboardnya, seperti penggalan siaran berita radio, televisi, lengkap dengan suara tuning frekuensi radio dsb. Kelihatan dari raut wajahnya, gerakan naik turun alisnya, kernyitan dahinya, serta seluruh gesture bahasa tubuh lainnya, ia sedang memberi komando kepada awak bandnya, untuk bermain lebih pelan, lebih kencang, lambat atau tempo dipercepat. Atau cuma sekadar memberi aba2 kepada gitaris atau drummer untuk ber’solo’ ria, dst.

Show ini terdiri dua babak, 45 menit pertama yang kemudian disusul intermission hampir 1 jam. Babak kedua Victor Bailey tampil solo bas sambil menyanyikan  lagu yang didedikasikan buat Jaco Pastorius. Sebelum Victor tampil, Amit Chatterjee tampil lebih dulu dengan lengkingan gitarnya sambil bernyanyi dalam bahasa India (tum harreeee-harreee…).

Sampai selesai, ternyata benar Joe tidak memainkan Birdland. Tapi nggak apa-apa, sebagai orang yg awam sama jenis musik Joe Zawinul, apalagi Weather Report, saya sangat terkesan, very impressed. Buaguss, uuapik tenan!!! Juga seluruh penonton di The Basement. Nggak perduli bahasa dalam lagunya yg susah dimengerti, tetap saja mereka dibikin panas, badan nggak bisa diam sepanjang musik berkumandang, goyang terussss. Pemandangan yg persis saya lihat seminggu sebelumnya ketika Krakatau tampil ditempat yang sama, para penonton bule cuek saja walau Trie Utami bernyanyi dalam bahasa Indonesia atau bahkan rap dalam bahasa Sunda sekalipun, tetap joget, goyang, dan panas!

Kembali ke teori Harry Roesli, saya mungkin belum bisa menerapkannya 100% karena nomor Birdland yang saya tunggu-tunggu tidak kunjung tiba. Tapi, bagi penonton Australia yang kebanyakan bule, mereka sangat apresiatif, padahal bahasa atau lingua franca sebagai media penyampaian musik, maupun jenis musiknya itu sendiri jauh berbeda dengan jenis musik pada umumnya. Maka kalau ada pendapat bahwa agar musik Indonesia bisa go internasional mutlak harus berbahasa Inggris, nampaknya jargon ini perlu ditinjau kembali.

Secara keseluruhan saya melihat konser ini banyak didedikasikan buat Jaco Pastorius, karena berkali2 Joe menyebut namanya. Not to mention, sound system yang prima, sehingga terasa seluruh instrumen keluar dengan apik, dan bersih. Mulai dari drum, bass, gitar, dan tentu saja keyboardnya Joe yang seabreg-abreg itu. Semua awak band yang bisa nyanyi, kecuali drummer, juga jadi nilai plus pertunjukan ini. Okelah, Joe juga nyanyi, tapi dibantu teknologi vocoder dari keyboardnya, yang hasilnya bisa kita ketahui, yakni eksperimen khas Joe Zawinul. Kesan lain melihat Joe Zawinul ketika sedang tidak dibelakang keyboards, persis seperti tukang jualan dipinggir jalan, lengkap dengan topi ‘kupluk’nya itu, kemeja putih kerah lebar, celana pantofel biasa, sepatu hitam ala pegawai negeri hehehe…. Nggak ada potongan pemain keyboard banget!

Sayang rombongan Krakatau mesti pulang pas hari pertama Joe Zawinul manggung. Untung, Dwiki Dharmawan sempat berfoto dengan latar belakang tembok yang ditempeli poster pergelaran Krakatau, disampingnya poster konser Joe Zawinul…, serasa konser bareng. Sebuah bukti fisik bahwa Krakatau pernah tampil bareng Joe Zawinul ditempat yang sama, walau waktunya beda…. hahaha..

Ditulis oleh Bowie (musisi yang kesasar jadi tukang parkir), tanpa diedit sama sekali.

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker