FestivalNews

Ada Jazz Hujan di Bandung (Bagian II)

Memasuki hari kedua dari Bandung World Jazz Festival 2009 (Jum’at, 4/12), ada 12 penampil yang masih cukup menarik untuk disimak. Katakanlah masih menyisakan beberapa group yang sayang kalau ditinggalkan. Masih ada G/E/T, RMHR (Rumah Musik Harry Roesli), Geliga, Koko Harsoe, simakDialog dan Lica Cecato dan Valtinho.

Persiapan panitia di hari kedua ini dirasa lebih baik ketimbang hari sebelumnya. Dua kelompok pembuka yang telah dijadwalkan mulai pukul 13.30 bisa tepat waktu. Meski yang sedikit mengherankan, suasananya cenderung menjadi lebih lengang dibanding dengan hari sebelumnya. Puluhan booth yang berjajar di koridor dalam juga sudah siap menjajakan jasa-jasa mereka, dari makanan dan minuman, kaos, merchandise, buku, kursus musik, CD sampai radio kuno.

Salah satu group yang didaulat tampil pertama kali adalah G/E/T. Group dari Bandung dengan formasi trio ini terdiri dari  Gam (bass), Edo (drum) dan Tesla (gitar). Kemampuan skill mereka bisa dikatakan cukup menarik perhatian. Terutama dengan Tesla, meski seperti masih meraba-raba karakter gaya individunya. Terlihat dia tidak terasa canggung dalam mengalirkan kalimat-kalimat yang menantang. Mengaku memangku gaya post-bop, kelompok yang baru berumur 6 bulan ini sudah menggarap komposisi orisinil mereka seperti ‘Play Dead’, ‘Migren’, ‘Raqabil’ dan ‘One Year Dinner’. Tahun 2010 mendatang, mereka sudah merencanakan untuk mengeluarkan album. Masih dari Bandung, Sony Akbar Project tampil menyuguhkan nuansa chill-out, funky dan trance-rock. Group yang saat ini sedang menyelesaikan albumnya tersebut terdiri dari Sony Akbar & Ferry Nurhayat (keyboard), Dika (bass) dan Edo (drum).  Mereka menggarap beberapa karya orisinilnya seperti ‘Perang’ atau pun ‘Epic’ dan salah satu karya Medeski, Martin & Wood ‘Bubblehouse’.

Kemudian di petang tersebut, nuansa Melayu menyeruak dengan begitu kental dengan kehadiran salah satu kelompok fusion Geliga. Kita bisa menyimak beberapa ghazal, zapin, senandung dengan imbuhan nada-nada miring khas improvisasi musik jazz. Dibanding dengan group yang tampil sebelumnya pimpinan Royke B Koapaha, Sada yang bereksplorasi antara gamelan, rock dan jazz, Geliga cenderung lebih mulus dan halus dalam mengkolaberasikan musik dari kebudayaan yang berbeda tersebut. Dari segi instrumentasinya pun tidak banyak mengalami hambatan. Hampir sama dengan instrumentasi band fusion konvensional. Hanya saja mereka memasukkan beberapa instrumen musik khas Melayu seperti rebana. Meski ada yang dirasa kurang, yaitu gitar gambus dan akordion.  Geliga kali ini didukung oleh 7 musisi, agak berbeda formasinya dibanding dengan yang ada di album yang pernah dirilis.

Sesaat sebelum matahari terbenam, penonton digiring untuk memasukki ruang dalam Sabuga. Di dalamnya sudah siap menyapa kelompok Modjembe yang terdiri dari puluhan pemain djembe, sebuah instrumen perkusi dari Afrika yang begitu populer di Indonesia. Setelah itu ada break sebentar sampai pukul 7 malam. Acara baru dibuka kembali dengan penampilan Imelda Rosalin bersama trionya. Dengan menampilkan beberapa koleksi standard, Imel yang bermain piano sekaligus menyanyi mungkin mengingatkan kita kepada penampilan Diana Krall.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker