News

Franky Raden inisiasi Indonesian National Orchestra

Franky Raden
Franky Raden

Etnomusikolog Franky Raden menghubungi Redaksi WartaJazz.com Senin (05/5). Ia nampak sumringah. “Saya baru punya proyek asyik nih”, ujarnya. Rupanya ia mendirikan Indonesian National Orchestra(INO). “Saya dirikan diatas tiga dasar segi yang sama pentingnya, yaitu estetika, bisnis dan politik” tambahnya.

Berikut ini paparan Franky Raden, yang pernah menjadi Associate Professor di York University, Toronto Canada.

Dari segi estetika, Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan budaya musik hampir tidak terbatas. Ragam bahasa musik Nusantara ini telah berkembang selama sedikitnya 3,000 tahun sehingga mampu menghasilkan bentuk-bentuk estetika musik yang sangat kokoh di wilayah budaya kita masing-masing. Kekayaan bahasa estetika ini yang menjadi sumber dari lahirnya INO, sehingga saya yakin bahasa dan karya-karya musik yang akan lahir dari INO tidak akan pernah kering dan selalu akan membawa pembaharuan. Dalam konteks inilah INO akan siap untuk bersaing di panggung internasional dengan orkes-orkes ternama manapun.

Dari segi bisnis, INO akan menjadi produk budaya khas Indonesia yang memiliki nilai jual dan ekspor sangat tinggi karena keunikannya. Dengan nilai jualnya ini INO diharapkan akan menjadi sebuah orkestra profesional yang dapat menghidupi para pemainnya secara finansiil. Di samping itu, INO juga akan bekerja keras untuk menjadi produk unggulan industri kreatif Indonesia yang dapat bersaing di pasar musik internasional. Dalam konteks ini, INO saya harapkan akan dapat menjadi wadah bagi para pemusik Indonesia yang kreatif dan jenius untuk tampil berlaga dalam gedung-gedung konser yang bertebaran di benua Eropa, Amerika, dan Asia-Pasifik.

Dari segi politik, INO akan menjadi ujung tombak pergulatan ideologi antara pelbagai negara di dunia yang saat ini berlomba-lomba menyebarkan pengaruh kekuasaan dan hegemoni mereka melalui produk-produk budaya yang merupakan soft power. Seperti apa yang dikatakan oleh Immanuel Wallerstein jauh-jauh hari, kegiatan budaya dewasa ini sudah menjadi arena dari pertarungan ideologi di panggung internasional. Melalui kegiatan budaya inilah negara-negara yang kuat menjaring lawan-lawan mereka untuk masuk ke dalam kerangka pemikiran ekonomis maupun politik yang dapat mereka kendalikan. Dalam konteks kehidupan masyarakat paska-kolonial, negara yang tidak memiliki kekuatan resistensi terhadap pertarungan budaya global ini akan mudah menjadi mangsa yang tanpa daya. Disinilah INO memposisikan diri sebagai bentuk pertahanan dan perlawanan terhadap kekuatan dominasi dari luar yang setiap saat siap membuat kita menjadi tergantung kepada mereka. Dalam hal ini, khususnya adalah ketergantungan musikal dan budaya!

Untuk kepentingan dalam negeri, INO secara politis juga memposisikan diri sebagai wujud dari Garis Besar Haluan Negara RI, yaitu BHINEKA TUNGGAL IKA. Dengan kata lain, INO adalah ujud dari Bhineka Tunggal Ika dalam bentuk musikal. Dengan bersatunya aneka ragam alat musik dari berbagai wilayah di kepulauan Nusantara di dalam sebuah orkestra yang bernama INDONESIAN NATIONAL ORCHESTRA, kami ingin menunjukkan bahwa hakekat dari adanya Garis Besar Haluan Negara bagi kita semua adalah mewujudkan masyarakat Indonesia yang harmonis, progresif dan inovatif seperti halnya musik-musik yang akan lahir dari INO. Hanya dengan kekuatan politis inilah Indonesia akan dapat bertahan sebagai Negara Kesatuan di abad ke 21.

FIELDNOTES

Suatu hari saya menelfon Osenk di Bandung menanyakan proses latihan INO disana. Jawabnya demikian: “Waduh saya sedang di Banjarnegara nih, mencari bambu (besar). Susah sekali!” Osenk adalah pemusik dari Bandung yang menciptakan alat musik bambu raksana yang ia beri nama Lodong. Bentuknya seperti Jegog di Bali. Alatnya yang lama sudah di makan rayap karena jarang di gunakan.

Di dalam INO ada 3 orang local genius lagi yang membuat alat musiknya sendiri, yaitu Bona Alit (Bali) yang membuat Rebab raksasa, Anusirwan (Sumatra Barat) yang juga membuat Rebab besar dan perangkat perkusi metalofon baru, dan I Nyoman Windha (Bali) yang membuat Jegog raksasa!

Di lain kesempatan saya berkunjung ke Karawaci dimana Pak Niko dari NTT latihan Sasando dengan kelompoknya. Begitu bertemu, Pak Niko langsung berkata dengan logat Timor nya yang kental: “Wah kemarin saya stress sekali, karena sudah sebulan saya memesan daun lontar, baru datang hari ini. Kemarin ketika Bapak menelfon saya sedang di Tanjung Priok menjemput yang membawa daun lontar!” Daun lontar ini di butuhkan oleh Pak Niko untuk membuat alat Sasando yang telah menjadi langka. Proses pemetikan daun lontar menurut Pak Niko tidak boleh sembarangan, karena disana daun ini di anggap sakral.

Ketika latihan koor di gereja Stella Maris, Pluit, Stanley yang memimpin koor menghampiri saya dan berkata: “Mas, boleh gak saya tambah anggota koor lebih dari yang Mas Franki minta?” Mendengar perkataan ini saya tentu saja gembira sekali, karena alasan saya meminta anggota hanya berjumlah 12 orang adalah karena keterbatasan dana. Koor ini telah berdiri selama 10 tahun.

Beberapa minggu yang lalu saya mengejar-ngejar Tedy yang menjanjikan untuk mencari pemain Keledi di Pontianak. Suatu hari tiba-tiba saya mendapat sms dari Tedy yang mengatakan: “ Malam pak. Maaf baru balas. Kabar Kalbar: pemain Keledi yang saya kenal sudah meninggal. Saya dapat info bahwa masih ada orang tua yang bisa memainkan Keledi tapi untuk waktu sekarang belum bisa dihubungi karena beliau tinggal cukup jauh dan ada keterbatasan sarana informasi. Mungkin untuk konser ke depan beliau bisa dihubungi.” Mendengar ini tentu saja saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya langsung menelfon dan menanyakan dimana persisnya beliau tinggal. Saya kebetulan pernah tinggal di pedalaman Kalimantan bersama masyarakat Dayak selama 1 tahun, jadi saya tahu persis medannya. Tedy lalu menjawab: “Beliau tinggal di Putusibau, perbatasan Kalimantan yang jaraknya kira2 harus di tempuh 2 hari melalui jalan darat.” Mendengar begitu baru saya menyerah, karena saya tahu untuk masuk ke pedalaman tidak mudah, apalagi melalui jalan darat. Sang pemain Keledi itu juga tidak akan mudah untuk pergi meninggalkan desanya, jika bukan saya sendiri yang meyakinkan beliau. Biasanya untuk meyakinkan beliau ini saya butuh waktu 2 minggu sendiri, sampai saya benar-benar telah di terima oleh masyarakat Dayak disana sebagai anggota kehormatan suku mereka. Tanpa proses ini jangan harap mereka akan berangkat ke Jakarta.

Tags

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

4 Comments

  1. Banyak anak muda sekarang mengganggap musik etnis sebagai sebagai musik yang kuno. Saya pikir ini tantanggan bagi para musisi2 atau bisa dibilang master2 dalam musik etnis untuk mengeksplorasi musik etnis sehingga dapat dikemas dengan tampilan berbeda,lebih moderen atau lebih bisa diterima oleh anak muda sekarang. hahaha… gw ga ngerti mau ngomong apa lagi yang pasti kalau mau dibilang sebagai penikmat musik sejati harus dimulai dr musik2 etnis karna dasar dari segala jenis musik
    Salut buat mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk musik etnis.

  2. mas, nih hotben, apa kabar… aku doakan sukses projek nih. Mas masih ingat aku ya waktu belajar rekaman di studio mas di cempaka putih taon 1985, terus kita buat ilustrasi film memburu makelar mayat di pasar minggu interstudio..ha ha ha..

    aku juga seneng mix musik dengan anak anak TKI dan migran di Malaysia. Kami buat lagu/musik india, thailand, myanmar, indonesia, malaysia….aku jadi ketularan mas..tks Gbu, mas !

    mas jangan lupa tetap bagi ilmu untuk muridmu ini ya,…pak guru…eh mas !

  3. kalo ndak salah ingat, Om Franki ini punya masterpiece di era 70-an, karya tsb sampai dipake oleh tim NASA sbg media mengontak dalam proyek SETI mereka. apa ada yang bisa kasih info? terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker