NewsProfile

Kapsul Waktu Casiopea

Casiopea adalah sensasi fusion Jepang 80-an yang awet berkibar hingga 30 tahun. Bilangan panjang usia itu diambil dari awal pembentukan band ini di 1976 oleh gitaris Issei Noro dan pembetot bas Tetsuo Sakurai, bergonta-ganti formasi, hingga akhirnya diputuskan untuk vakum sama sekali oleh Noro pada 1 Agustus 2006. Casiopea yang paling melekat di ingatan orang pada puncak popularitasnya adalah formasi album ke tiga, “Thunder Live” (Alfa Records, 1980). Sejak saat itu pemain drum ambidekster Akira Jimbo turut bergabung. Kibordis Minoru Mukaiya pun dianggap sebagai anggota asli band ini kendati sebelum punya rekaman dan masih bermain di panggung kecil Hidehiko Koike-lah yang menempati posisi ini sampai bermain pada kompetisi “Yamaha East/West ’77” (alias Yamaha Music Contest). Nama Koike seperti tak pernah terdengar lagi sejak debut dengan tajuk nama mereka sendiri “Casiopea” (Alfa Records, 1979) dirilis dengan partisipasi wajah stellar Amerika seperti David Sanborn, Randy Brecker, dan Michael Brecker.

Bintang payung GRP Records seperti Lee Ritenour, Harvey Mason, Nathan East, dan Don Grusin pun muncul pada rekaman “4×4” (Alfa Records, 1982). Nama-nama West Coast dalam kolaborasi tersebut mengingatkan kita pada album “Jezz” (Aquarius Musikindo, 1991) grup fusion tanah air, Karimata. Berbicara Indonesia, ada nomer debut Casiopea yang sering terdengar pada bagian kredit penutup Seputar Indonesia yang mungkin satu-satunya alternatif tontonan berita saat itu, yaitu “Midnight Rendezvous” dengan drummer formasi awal Takashi Sasaki memainkan ritme rapat versi perdananya. Mereka pun sempat singgah di Indonesia beberapa kali (konser tunggal 1986 di Balai Sidang Jakarta, festival musik JakJazz 1991 di Ancol, dan pada tahun 1994 di Parkir Timur Senayan) dan punya tempat tersendiri sebagai legenda atau bahkan panutan dari sisi konsep dan teknologi gres pendukung musik elektronik seperti MIDI.

Formasi langgeng ke dua Casiopea adalah bersama bassist Yoshihiro Naruse yang mulai masuk pada “The Party” (Pioneer, 1990). Jimbo dan Sakurai meninggalkan kelompok itu untuk membentuk duo drum-bas Jimsaku. Kecuali Issei Noro, posisi lainnya memang sempat berpindah-pindah orang, bahkan sempat ada pos vokalis yang diisi Yukoh Kusonoki pada “Sun Sun” (Alfa Records, 1986).

Panggung live Casiopea bak virus J-culture lainnya, penuh aksi provokatif, laju hiper, dan mengedepankan aspek teknis yang matang. Hiburan Noro memainkan teknik slap pada gitarnya dalam “Galactic Funk“, manipulasi pedal volume “Mother Earth” atau perspektif lain seperti anggota band yang menari dalam kostum sporty, hingga anasir J-fusion Yamaha Light Music Contest (LMC) adalah pemandangan utuh generasi itu. Rilis “Asian Dreamer” (Pony Canyon, 1994) adalah katalog daur-ulang repertoar yang direkomendasikan untuk mewakili paruh waktu perjalanan mereka mencetak sukses 80-an itu.

Di 2012, Casiopea beroleh nyawa baru pada seksi kibor yang kini didominasi idiom permainan organ Kiyomi Otaka yang cukup lama merintis karir solo sebelum memperkuat CASIOPEA 3rd. Titel baru dengan embel-embel third tersebut masih diisi figur Noro dan Naruse dengan Akira Jimbo diperkenalkan sebagai support drummer. Yang pasti lagu kebangsaan seperti “Asayake“, “Domino Line“, “Black Joke” atau “Space Road” akan tetap dipilih bagi penggemar nostalgia masa itu.

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker