InterviewNews

Wawancara dengan gitaris muda Gerald Situmorang

Gitaris muda Gerald Situmorang yang pernah tampil bersama Oran Etkin telah merilis album trionya. WartaJazz mewawancari Gerald seputar album Time is the Answer yang baru saja dirilis. Berikut petikannya:

WartaJazz (WJ): 1. Apa yang ingin dilakukan oleh seorang Gerald Situmorang dengan album GST ini?

Gerald Situmorang (GS): Pastinya untuk mendokumentasikan lagu-lagu saya yang sering saya bawakan selama menghost jam session di Red White Lounge bersama Gerald Situmorang Trio, & juga dengan album trio ini untuk memperkenalkan siapa itu Gerald Situmorang. “Time Is The Answer” saya anggap sebagai album trio (grup) bukan solo, jadi seperti perkenalan sebelum album solo saya yang rencananya rilis di tahun depan.

WJ: Apa yang membedakan dengan Sketsa, Hemiola dan project lain spt bersama Monita Tahalea?

GS: Dari formatnya di tiap project yang saya ikut saja sudah beda. Sketsa itu duo, Hemiola itu Quartet, dan Monita Tahalea & The Nightingales itu Quintet. Dan jg dari instrumentasinya juga beda, untuk Hemiola saya lebih sering menggunakan gitar elektrik (hollow body), Sketsa dan Monita fokus di gitar akustik nylon (sampai saat ini). Sedangkan di Trio saya menggunakan semua gitar saya (akustik gitar steel, nylon dan elektrik gitar).

Kalau dari segi musiknya mungkin GeSit Trio dan Hemiola Quartet memiliki warna yang mirip (modern jazz) namun dengan format yang berbeda serta pemain yang berbeda juga, otomatis bunyi yang dikeluarkan juga berbeda, walau di Hemiola atau Sketsa saya yang banyak nulis lagunya juga, tapi tetep bunyi yang dihasilkan di tiap grup berbeda.

WJ: Berapa lama prosesnya sampai Time is the Answer selesai dikerjakan

GS: Proses rekaman di bulan September 2013 di studio Dimas Pradipta. Jessilardus Mates dan Ankadiov Subran sudah beberapa kali memainkan lagu saya, jadi sebelum rekaman kita latihan hanya sekali di minggu yang sama dengan rekaman.

Mixing dan mastering dilakukan Dimas Pradipta selama bulan Maret dan April 2014.

Photo dan Artwork album selesai di bulan Mei 2014, dan akhirnya setelah bekerjsama dengan demajors, “Time Is The Answer” rilis pada tanggal 7 Juni 2014, di Red White Lounge, Kemang.

WJ: Seperti sebuah koinsiden judul album mu, mengingatkan pada Pat Metheny atau yg baru2 ini juga Joey Marantika – temanya soal waktu. Menurutmu ?

GS: Kebetulan di album Joy Marantika “The Beginning Of An End” saya juga ikut ikut bermain 2 lagu. Tapi tak ada kesengajaan untuk tema waktu ha ha..

“Time Is The Answer” menjadi judul album ini karena kita sebagai manusia memiliki keterbatasan yang sama yaitu waktu, tak ada yang bisa dipercepat, diperlambat ataupun dihentikan, begitu pula dengan lahirnya trio dan album ini yang terbentuk dengan alami, tak perlu dipaksakan.

Di dalam kehidupan ini pasti akan banyak pertanyaan yang muncul, tapi seiring dengan waktu, semua jawaban akan datang dengan sendirinya.

WJ: Ada angka kembar berupa 3 angka 5, pada track ke 3. itu ada arti khusus ?

GS: Tak ada arti khusus.

Pada saat merekam Lagu “Time Is The Answer” di album ini kebetulan saja ternyata durasinya 5 menit 55 detik. Karena kita juga tak merencanakan durasi lagunya untuk harus 5:55 haha..

Tapi keren juga ternyata bisa pas 5:55 hahaha, seperti yang tadi saya blg, waktu yang akan menjawab dengan sendirinya! Haha.

WJ: Bisa diceritakan Isi dari masing-masing lagu?

GS: “P & L” (Juli 2012) Lagu yang saya tulis sebenarnya untuk trio bersama Sandy Winarta dan Kevin Yosua namun akhirnya belum sempat dimainkan bersama haha. Saya dedikasikan untuk Pat Metheny & Lyle Mays maka dari itu “P & L”, yang terinspirasi dari lagu Pat Metheny “James” & “Leaving Town”, namun tak ditulis Pat & Lyle agar pendengar dapat menginterpretasikan “P & L” itu sendiri apa haha.

“It Keeps Coming Back” (Agustus 2012) Ada banyak pengulangan motif dan ritmik yang sama di lagu ini yang muncul dengan sendirinya dan natural, maka dari itu judulnya adalah “It Keeps Coming Back”. Terinspirasi dari mantan kekasih yang terus muncul kembali haha.

“Time Is The Answer” (Februari 2013) Saya tulis disaat banyak pertanyaan yang muncul di pikiran saya, dan menurut saya pada waktu itu hanya “waktu” yang bisa menjawabnya.

Lagu yang menurut saya sangat spesial di album ini. Saya tulis berdekatan dengan lahirnya trio ini dan langsung dimainkan live tidak lama setelah ditulis. Banyak terjadi perubahan birama secara tiba-tiba yang tak menentu, yang muncul secara natural saja saat menulisnya.

“Debu” (Mei 2013) Kita hanyalah butiran debu yang diberikan nafas kehidupan oleh Tuhan, bersyukurlah serta gunakan sebaik mungkin dan sepositif mungkin pemberian ini.

“Waving” (Oktober 2009) Saya tulis lagu ini terinspirasi dari “Wave” (Antonio Carlos Jobim). Di lagu ini banyak pengulangan motif melodi yang sama di key yang sudah berganti (modulasi). Lagu ini yang membuat saya senang menulis lagu dengan banyak modulasi namun dengan motif melodi yang sama. Pertama kali dimainkan live di konser Serambi Jazz Workshop tahun 2009.

“Getting The News (Juni 2012) Setelah mendapat kabar dari Agus Basuni bahwa akan bermain bersama Oran Etkin di @atamerica, saya langsung menulis lagu ini.

WJ: Apa rencana GeSIT berikutnya?

GS: Kalau untuk GeSit Trio, lagi ada rencana untuk bikin showcase bersama Tesla Manaf Quartet di bulan September 2014 di beberapa tempat. Tahun ini juga ingin menyelesaikan beberapa album grup saya lainnya yaitu BAG+BEAT, DWM, dan BARASUARA. Diluar itu juga lagi mem-produce album solo penyanyi wanita bernama Asteriska. Dan juga punya rencana untuk merekam album solo pertama saya jg, mungkin di akhir tahun 2014.

WJ: Ada mimpi yg ingin kamu kejar tahun 2014 ini ?

GS: Tahun 2014 ini pingin banget bisa main di banyak tempat (terutama luar Jakarta) bersama GeSit Trio sambil promo album “Time Is The Answer”. Selain itu pengen start rekaman album solo!

9. Apa komentarmu tentang Jazz (di) Indonesia

Jazz di Indonesia menurut saya perlahan mulai berkembang dan meluas. Terbukti dengan adanya banyak jazz festival tersebar di seluruh Indonesia. Saya berharap festival-festival ini bisa terus diadakan tiap tahunnya dan juga dengan tampilnya musisi-musisi yang benar-benar bisa memberikan informasi yang tepat terhadap jazz itu sendiri.
Dan juga saya pribadi sangat senang dengan banyaknya musisi-musisi jazz Indonesia yang mengeluarkan album ataupun sedang proses mengerjakan album masing-masing. Hal ini menurut saya sangat krusial untuk pendengar jazz di Indonesia agar dapat menikmati karya musisi favoritnya dimanapun mereka berada tanpa harus melihat langsung di sebuah show (walau ini juga sangat penting).

Karena menurut saya, keadaan mulai menjamurnya album jazz Indonesia kembali, baru di dua tahun terakhir ini, dan ini yang harus dipertahankan dan dilanjutkan.

Diluar itu saya juga sangat bangga dengan adanya musisi-musisi jazz Indonesia yang bisa rilis album di luar negeri seperti simakDialog, Tohpati, Dewa Budjana, Ligro Trio, I Know You Well Miss Clara dan nantinya Tesla Manaf.
Ditambah dengan Dewa Budjana dan Tohpati yang album-album terakhir bermain dengan musisi-musisi dunia (Vinnie Colaiuta, Antonio Sanchez, Peter Erskine, Jimmy Haslip, dll), dan tentunya dengan kehadiran pianis cilik Joey Alexander dari Indonesia yang sudah mencengangkan penonton di Gala Dinner of Jazz at Lincoln Center di Amerika Serikat, saya harap bisa membuka mata pendengar ataupun musisi jazz dunia terhadap jazz Indonesia. 

10. Cerita hal menarik anggota trio-mu?

GS: Ankadiov Subran ialah teman dekat dan salah satu bassist favorit saya saat ini. Pertama kali main bareng di tahun 2008. Waktu itu lagi mampir kerumah Barry Maheswara (Suddenly September) dan ternyata ada Anka, kenalan disitu dan langsung diajak main bareng untuk sebuah gig besoknya haha. Langsung latihan sehabis kenalan dan diminta untuk bikin melodi di lagunya dia sendiri (dia lupa melodi aslinya bagaimana) haha..

Jessilardus Mates ialah drummer yang terus menginspirasi saya selama bermain dengannya dan juga teman dekat saya. Kenalan pertama kali di rehearsal-nya Tohpati untuk show di Red White Lounge tahun 2012. Terlihat sangat tegang di latihan itu haha. Pertama kali main bersama di Monita Tahalea & The Nightingales untuk show di Bunaken Jazz Fest 2012.

Yang menarik dari trio ini adalah sebenarnya kita belum pernah bermain bersama dengan format trio sebelum rekaman album “Time Is The Answer” haha.

11. Gimana rasanya bermain bersama Oran Etkin. Kalau dikasih kesempatan, pengen main dg siapa lagi ?

GS: Rasanya sangat spesial karena dapat berbagi pengalaman musikal dengan musisi level dunia. Ditambah saya juga tahu bahwa dia biasa main dengan salah satu gitaris yang sering saya dengar yaitu Lionel Loueke, Ben Monder, dll. Jadinya sangat deg-deg-an awal mulanya haha. Namun ternyata cukup santai dan menyenangkan.
Apabila ada kesempatan untuk main dengan musisi jazz dunia lagi, sangat ingin main sama Brad Mehldau, Pat Metheny, Lyle Mays, Antonio Sanchez, Julian Lage, Aaron Parks, Brian Blade, Kurt Rosenwinkel, Gilad Hekselman, Eric Harland, Pedro Aznar, Taylor Eigsti, Tigran Hamasyan, Ralph Towner, Earl Klugh, dan banyak lagi pastinya, tak bisa disebut semua hahaha.

Beberapa video Gerald Hiras Situmorang
Sketsa at World Youth Jazz Fest 2014 http://vimeo.com/m/94133351
Sketsa – “Up & Down” www.youtube.com/watch?v=EpVuSXO6C88&sns=tw
Sketsa – “Try Anything” www.youtube.com/watch?v=_hyWn5ZOZVw&sns=tw

Agus Setiawan Basuni

Pernah meliput Montreux Jazz Festival, North Sea Jazz Festival, Vancouver Jazz Festival, Chicago Blues Festival, Mosaic Music Festival Singapura, Hua Hin Jazz Festival Thailand, dan banyak festival lain diberbagai belahan dunia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker