Opini Jazz

Pat Metheny on JavaJazz (sebuah penantian panjang)

 

Seperti yang pernah saya tulis di Buletin WartaJazz Edisi Spesial Java Jazz Festival 2012, bahwa tiga kali mendapatkan kabar hadirnya Pat Metheny di Indonesia, yg awalnya sempat saya tidak percaya, tapi ternyata kemudian benar adanya. Kabar Pat Metheny akan hadir di JavaJazz bermula saya ketahui dari twitter sang founder, Mr. Peter F Gontha. Beliau jugalah yang awalnya sangat antusias mengumumkan kehadiran Sir Paul McCartney di perhelatan besar 3 hari, yang baru saja berakhir itu. Namun, seperti kita ketahui bersama, Sir Paul akhirnya tidak jadi tampil di Indonesia, kecuali tampil di cover sebuah majalah franchise internasional edisi Indonesia. Memang, ia baru saja merilis album barunya yg bernuansa classic standard jazz. Sehingga kalau pun ia datang ke Jakarta, kemungkinan akan berkaitan rangkaiannya dengan promosi album barunya tsb.

Keraguan yang sama tentulah timbul dalam diri saya, mengenai jadi tidaknya seorang Pat Metheny tampil di ajang festival jazz terbesar di Asia (katanya)… sampai akhirnya beberapa kali saya harus selalu bolak balik update ke situs resmi www.patmetheny.com, situs agency nya www.tedkurland.com, untuk memastikan benar tidaknya seorang Pat Metheny datang ke JavaJazz. Selama beberapa kali juga saya dirundung kecewa karena tour update yg ditunggu2 tidak kunjung tiba. Namun ketika tertulis di layar konfirmasi Pat Metheny main di JavaJazz.. Antara percaya dan tidak, dan akhirnya saya percaya juga hehehe… Langsung pesan tiket online… harga Rp. 100rb utk special show. Pat dijadwalkan Sabtu dan Minggu, lantas saya beli aja 2 hari sekaligus.

Singkat kata saya datang ke arena JavaJazz hari Sabtu 3 Maret 2012 pukul 4 kurang, menunggu teman satu lagi yang masih dalam perjalanan. Dapat BBM dari Shuhud, pecinta Pat Metheny juga, yang bilang antrian utk konser Pat sudah dimulai. Padahal show dijadwalkan 18.30. Wah, jadi penonton sudah antri 2 jam sebelumnya? Ketika saya ikut dalam barisan antrian untungnya belum terlalu panjang. Dan karena bertemu juga dengan beberapa teman akhirnya penantian tsb tidak terasa… Sesampainya di dalam arena, tidak ada bangku, penonton duduk bersila/lesehan. Saya dan teman bareng tadi dapat tempat yang masih tidak terlalu jauh dari depan stage.

Seperti biasa yang nampak dalam DVD konser Pat Metheny, ia mengawali nya dengan solo 42 String Pikasso Guitar. Orang2 biasanya menebak judul solo yang dibawakan adalah “Into The Dream”. Nampaknya tidak ada selain komposisi tsb yg direkam dalam album Imaginary Day, yang hanya bisa dimainkan dengan gitar 42 string ini. Memang belakangan komposisi Are You Going With Me, dan The Sound of Silence jug dimainkan di Pikasso Guitar ini. Berturut2 setelah itu So May It Secretly Begin dan Bright Size Life. Dua komposisi favorit saya. Berturut-turut kemudian Broadway Blues, James, Always and Forever, dan Question and Answer.

Tidak banyak bicara Pat dalam kesempatan ini, tepatnya tidak bicara sama sekali kecuali mengucapkan terimakasih serta memperkenalkan pengiringnya Ben Williams pada bass dan Jamire Williams pada drum. Walau kedua mereka ber ‘marga’ sama Williams, tapi tidak ada hubungan keluarga.Terakhir sebagai encore ia membawakan medley solo gitar yg biasa saya lihat di YouTube. Sequence Phase Dance, Minuano, September Fifteenth dan This Is Not America. Ia sama sekali tidak membawakan materi dari album terbarunya yg baru saja menyabet Grammy Award 2012, What’s It All About.

Sempat berharap penampilannya di hari kedua akan membawakan set list yang berbeda dengan hari pertama. Bahkan di detikdotcom dilaporkan ia mengisyaratkan hal itu terjadi. Namun ternyata di hari kedua ia membawakan set list yang sama, kecuali untuk nomer encore solo guitar, agak berbeda sequencenya. September Fifteenth dan This Is Not America diganti dengan Last Train Home, sebuah tune yang selalu mengiringi saya pulang kerja tiap harinya dengan kereta api terakhir 🙂

Bagaimana komentar publik? Banyak yang saya serap selama dua hari itu. Kalau Umar Khayam pernah bilang, agar tetap hidup, seni pertunjukan seyogyanya selalu dipergunjingkan. Hehe dalam bahasa infotainment mungkin yg digunjingkan adalah orangnya bukan produk seninya. Yang menjadi bahan gunjingan justru bukan hal-hal yang berhubungan langsung dengan produk seni. Tapi jika menggunjingkan tentang Pat Metheny tentunya beda. Kita hanya tahu dari cover CD misalnya nama istri nya Latifa Azhar, beserta putra-putrinya Nicolas Djakeem, Jeff Kaiis dan Maya Jasmine Willow Metheny. Namun tidak ada gosip merebak, perselingkuhan dsb, bukan?

Nah maraknya komentar yang muncul diantaranya mengapa Pat Metheny tidak bicara banyak? Mengapa set listnya sedemikian “boring” nya (dalam tanda kutip) sehingga seorang Balawan konon meninggalkan Hall D1 di show pertama hari Sabtu. Belum lagi munculnya twitter sang penggagas JavaJazz yg mengatakan ‘kapok’ mendatangkan Pat Metheny, yang (katanya) angkuh, mahal dan penggemar terbatas. Well, sebagai penggemar atau bukan saya cuma setuju point terakhir yakni penggemar terbatas. Karena kalau mau yg murah dan penggemar banyak sih gampang mencarinya. Tapi kalau dilihat di encore solo guitar, yang kemudian marak diupload di YouTube, jelas betul bahwa penggemar dia adalah orang2 terpilih. Musiknya pun terpilih dan begitu dikenal oleh penggemarnya yg turut menyenandungkan melodi-melodi tsb. Ya memang jika dilihat tampang Pat di hari pertama seperti rada bete, atau ingin segera menyelesaikan semua… ingin buru-buru selesai. Untuk kelas festival dimana tiap artis hanya punya waktu 1 jam, memang susah juga utk mengharapkan song list yang lebih panjang. Ini diakui Pat yang akhirnya berbicara kepada penggemarnya, “Saya tahu, kurang sekali waktunya…, namun karena ini festival dan semua harus berjalan terus, biasanya saya bermain selama 2 jam,” dsb. dst.

Ada juga cerita yang saya dengar ia menolak diajak fans foto bersama. Diceritakan lagi betapa angkuhnya dia, saya tidak menyangka.. Wah kalau yg ini saya ingin melihatnya dalam sudut pandang seorang Pat, yang barangkali tidak mau diganggu, atau timing kurang tepat dsb. Berbicara dengan drummer nya, dia menceritakan perjalanan langsung dari New York menuju Jakarta. 29 jam perjalanan membuat ia sempat terkantuk2 di hari Sabtu saat menonton Herbie Hancock. Tiba di Jakarta Jumat, dengan istirahat yg kurang, dan Sabtu harus tampil, setelah sebelumnya melakukan sound-check selama 1 jam, tentunya merasa letih. Saya juga seperti melihat aura itu pada ketiga musisi tersebut. Di hari Minggu sudah agak lumayan Pat juga banyak senyum, dan sekali2 setelah mengakhiri komposisinya ia seperti berteriak kecil memberi semangat kepada kedua rekannya… Salah satu kebiasaan yg tidak hilang dari Pat, ia selalu berlari kecil menuju dan keluar panggung. Ini dilakukan di show hari keduanya. Hari pertama memang nampak malas atau apa ya…

Tour JavaJazz 2012 bagi Pat Metheny memang rada istimewa, karena yang saya dengar dari Production Manager sekaligus Sound Engineer David Oakes, ia agak terheran-heran juga dengan skema tour Pat kali ini. Biasanya tour itu ‘deal’ satu tahun in advance. Ini agak terburu-buru. Pun ini diluar skema tour mempromosikan album terbarunya. Atau dengan kata lain, tidak dijadwalkan secara umumnya tour Pat Metheny Trio atau Group. Mungkin ini keinginan murni Peter Gontha agar bisa mendatangkan sang maestro ini. Ini juga yang menyebabkan line-up pengiringnya bukan musisi yg biasa mendampinginya. Kedua Williams yang tidak ada hubungan darah sama sekali ini boleh jadi merupakan musisi muda yang baru menunjukkan kiprahnya di kancah jazz AS dan dunia. Jamire bercerita bagaimana ia bisa bergabung bersama Pat Metheny. “This is like my first time of everything. First time playing with Pat and being here in Jakarta.” Dia bercerita bahwa Ben sering bercerita tentang dirinya. Dan Pat pun bilang ” you’re on my list, would you like to go to Indonesia?” Adapun Ben Williams direkrut menjadi bass player pada proyek2 nya ketika Chris McBride berhalangan utk satu sesi di Mexico dan ia merekomendasikan bassist muda ini. Ketiganya bermain cukup solid. Bagi yang sudah terbiasa dengan gebukan Antonio Sanchez tentu akan merasa beda dengan rudiment2 Jamire.

Anyway, tidak ada yg lebih membesarkan hati ketika pada akhirnya berkesempatan bertemu langsung, berjabat tangan, mengucapkan selamat dan terimakasih atas kesempatan. Ya dia memang manusia biasa, namun tetap saja ada rasa kikuk jika harus berhadapan langsung dengan seorang Pat Metheny. Pemain saxophone kondang Dave Koz saja, bahkan dalam twitternya bilang kalau ia bertemu dengan idolnya, Pat Metheny dan dia merasa seperti anak kecil yang tidak tahu harus bersikap apa….

Lepas dari anggapan sombong angkuh dan sebagainya, – yang tentunya saya nggak bakal ambil pusing, untungnya tidak merasakan seperti apa yg diceritakan beberapa teman tsb, biar bagaimanapun music is music. John Lennon tetap akan dianggap sebagai jenius yang juga tokoh gerakan cinta damai, walau hidupnya penuh rasa cemas sinis dan sarkastik. Musik Pat Metheny sudah mengisi ruang hidup saya, dan menjadi soundtrack pengiring selama 20 tahun lebih. Dan mungkin terus selamanya… Always and Forever…

Related Articles

2 Comments

  1. Saya juga pecinta berat karya2 dan permainan Pat Metheny. Setiap hari saya memutar cd nya entah di mobil atau di rumah. Saya mempunyai koleksi lengkap cd dan dvd nya. Musiknya sangat indah, tapi tidak terkesan “cengeng”. Seperti tidak percaya bisa menonton concert Pat Metheny 2 hari di java jazz kemarin, setelah terakhir menontonnya di tahun 1995 di jakarta dalam “We Live Here” concert. Hopefully he wiil back next year !!

  2. saya sangat puas dengan penampilan Pat di Java Jazz, Terima kasih buat Panitia, seharusnya kita apresiasi jangan sampai Pat jadi kapok datang lagi,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker