Opini Jazz

Jazz dan Perubahan

Dalam sejarahnya, musik jazz memang lekat dengan kata perubahan. Ia menjadi media perlawanan, penampung kegelisahan, dan penawar luka bagi masyarakat kulit hitam di Amerika. Namun di Indonesia, jazz masih diposisikan sebagai sekadar hiburan, padahal ia dapat memiliki peran lebih besar.

Selama  lima tahun terakhir, perkembangan musik jazz di Indonesia cukup pesat. Indikatornya jelas. Makin bertambah musisi yang mengeluarkan album, konser khusus musik jazz, dan penonton yang datang ke pertunjukan berlabel musik jazz. Situasi ini sebenarnya anomali bila diperbandingkan dengan industri musik Indonesia saat ini. Di tengah industri yang nyaris kolaps melawan pembajakan, musik jazz justru berkembang. Situasi ini mudah dijelaskan bila melihat siapa sebenarnya penikmat musik jazz di Indonesia.

Berbicara soal musik, apalagi jazz, tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan konteks sosialnya. Sulit membayangkan misalnya, masyarakat di pesisir pantai utara Jawa, tiba-tiba menjadi penikmat musik jazz. Citra yang melekat di masyarakat kawasan tersebut seolah tidak sesuai bila disandingkan dengan citra musik jazz. Di Indonesia, citra mewah dan intelek memang dekat dengan musik jazz. Citra yang justru dipropagandakan lewat beragam pertunjukan jazz dengan tiket yang mungkin hanya mampu dibeli masyarakat kelas menengah Indonesia. Saya tidak mempersoalkan harga tiketnya, namun dari sini dapat diperiksa bahwa musik jazz memang memiliki kelas sosial penonton tersendiri.

Pada baris terakhir paragraf di atas, saya menyebut penikmat musik jazz dengan penonton, bukan pendengar. Penulisan itu atas ketidakyakinan saya bahwa jumlah penonton yang datang ke konser musik jazz berbanding lurus dengan angka penjualan album musisi jazz. Bagi masyarakat Indonesia, khususnya kelas menengah, datang ke pertunjukan jazz bukan sekadar ingin mendengarkan musik. Tetapi juga menjadi ajang eksistensi dan menonton penonton lain. Ada semacam prestise yang melekat jika pada setiap tahun, para kelas menengah ini, datang ke berbagai pertunjukan musik jazz. Ada citra yang ingin dibentuk dengan menunjukkan ke orang lain lewat adagium “saya mendengar musik jazz maka saya berada di kelas sosial tertentu”.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Minat kelas menengah dengan musik jazz justru menjadi pemicu perkembangan genre musik ini. Yang perlu dibebankan lebih lanjut pada genre musik ini adalah seberapa besar peluangnya berperan dalam perubahan masyarakat, khususnya kelas sosial tertentu.

Sejarah berbicara, musik dapat berperan besar dalam masyarakat. Pesan perdamaian kerap abai didengarkan saat dipidatokan para pemimpin planet bumi. Namun, pesan perdamaian dikenang dan terus diperjuangkan sepanjang masa lewat lagu Imagine yang ditulis John Lennon. Musik dangdut yang dikenal musik untuk masyarakat kelas pinggiran pun, memiliki peran besar dalam masyarakat. Terlepas dari kerusuhan yang kerap mewarnai konser dangdut, musik ini berperan sebagai pelepas beban masyarakat kelas pinggiran.  Lirik-lirik yang jujur dalam musik dangdut, menjadi penghela stres sejenak  para penontonnya di pertunjukan.

Hal-hal semacam itulah yang perlu diperbincangkan lebih lanjut dalam perkembangan musik jazz di Indonesia. Jangan sampai perkembangan genre musik ini abai dengan  kelas sosial di luar kelas pendengarnya. Bahwa penikmat musik jazz memiliki kelas sosial tersendiri adalah kenyataan yang tidak perlu dinafikan. Namun, bahwa musik jazz dan segenap elemen yang melingkupinya perlu berperan dalam perubahan, adalah sebuah keharusan. Ngayogjazz yang diadakan di Yogyakarta adalah sebuah contoh bagaimana musik jazz melebur dengan kelokalan. Bagaimana pertunjukan jazz menjadi lebih dari sekadar hiburan, melainkan gerakan kebudayaan. Dengan cara-cara semacam itulah, musik jazz bisa berusia panjang di Indonesia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker