Review

Pat Metheny – What’s It All About

Pat Metheny - What's It All About
Pat Metheny - What's It All About

Mendengarkan kembali Pat Metheny dalam format solo acoustic guitar, mengingatkan saya pada One Quite Night (2003) yang juga menampilkan Pat dengan baritone acoustic guitar nya, yang secara eksklusif dibuat oleh Luthier Linda Manzer, menjadi sebuah ‘trade-mark’ bagi Pat Metheny.

Dikatakan sebagai album solo guitar pertama setelah One Quite Night, tidak juga sebab tahun 2010 Pat merilis Orchestrion, dimana ia bermain ‘solo’ diiringi berbagai alat musik yang ‘bermain sendiri’,  dikontrol melalui sebuah perangkat perangkat mekanik robotik. Eksperimen ini cukup berhasil walau menurut Pat sendiri, secara hasil akhir kurang unsur dinamiknya. Walau demikian, tidak salah jika pengamat Denny Sakrie pernah bilang bahwa yang ditawarkan Pat dalam setiap rilis album barunya selalu menawarkan sesuatu yang baru.

Inipun terdapat dalam album “What’s It All About” yang baru saja rilis 14 Juni kemarin. Terdapat sepuluh lagu (saya beli di iTunes Store ada tambahan bonus 2 tracks), dapat dikatakan bahwa ini adalah satu-satunya album dimana tidak ada karya Pat sama sekali. Komposisi yang dituangkan dalam album ini semua karya-karya lawas, yang menurut Pat dalam wawancaranya “adalah karya yang pernah saya dengar jauh sebelum saya menulis satu not pun, atau lebih jauh lagi, bahkan sebelum saya memainkan gitar”. Judulnya saja diambil dari penggalan lagu Alfie, sebuah hit tahun 60an oleh Burt Bacharach, yang masuk menjadi salah satu track andalannya. Ada juga “And I Love Her” milik The Beatles, tentunya saya nantikan dengan sangat, sebagai penggemar group legendaris dunia asal Liverpool ini. Kita ingat di sampul album Pat Metheny Group – We Live Here, terdapat musical preference masing-masing anggota band, menerangkan apa saja musik yang mereka selalu dengarkan atau mempengaruhi musical stylenya. Pat menulis : “everything by The Beatles” … Walau ternyata sedikit meleset dari harapan saya.

Kenapa demikian? Ketika mendengarkan “Don’t Know Why” yang kerap dilantunkan Norah Jones, Pat memainkan melodi dengan progressive chord yang variatif yang kembali ke tema utama dengan overtune yang cukup ‘miring’ namun tetap asyik didengar. “And I Love Her”, dalam versi aslinya oleh The Beatles, sudah menawarkan konsep itu, ditengah-tengah interlude, melodi gitar George Harrison mengambil perpindahan nada, yang biasa disebut overtune tadi, atau modulasi. Ini tidak terdapat di versi solo gitarnya Pat alias lempeng-lempeng saja. Namun Pat tetaplah Pat, menarik untuk didengar.

Simak pula nomer pembuka dimana ia menggunakan 42 string pikasso guitar utk tembang lawas nan kuat milik Art & Garfunkel, “The Sound of Silence”. Kiranya gitar ini tidak hanya bisa memainkan “Into The Dream” sebagaimana yang selalu digunakan jika berpergelaran bersama Pat Metheny Group. Namun nampaknya yang dominan dalam album ini adalah baritone guitarnya, yang memiliki karakter rendah dengan efek low string yang nampaknya akhir-akhir ini menjadi signaturenya Pat dalam bermusik.

Ada yang menarik interpretasi Pat dalam “Garota de Ipanema”, atau The Girl from Ipanema, karya komposer pujaannya Jobim. Lagu ini dimainkan secara rubato atau tempo bebas, dan lepas dari kaidah bangunan komposisi dan ‘feel’ bossas yang biasa kita kenal. Interpretasi baru? Rasa baru? Sah-sah saja bukan? Sebagaimana di One Quite Night dia merombak komposisinya sendiri “Last Train Home” yang ketara nuansa kereta api terakhir dengan iringan combo lengkap, menjadi komposisi utuh untuk solo baritone guitar. Namun tetap terasa penuh komposisi tsb dimainkan walau hanya dengan satu instrumen saja. Dalam wawancaranya yang saya simak dari video live concertnya The Way Up, Pat Metheny mengatakan ia memang menggunakan gitar untuk media ekspresinya.. apakah itu utk melodius alias bertutur, apakah untukpercussive rhythm, apakah iringan biasa dan sebagainya. Gitar akustik, elektrik, synthesizer, gitar 42 string, baritone, piccolo guitar, dan sebagainya – semua telah menjadi media ekspresinya.

Sekali lagi album ini sangat direkomendasikan bagi para penggemar maupun bukan penggemarnya. Pat adalah Pat dengan segala bentuk kreativitasnya, dalam menggarap album solo gitar yang menurut saya secara proses juga tentunya tidak gampang, dari segi teknik permainan, recording, mixing bahkan mastering. Efek suara perpindahan fret juga melengkapi suasana hati dalam mengenali sosok Pat melalui komposisi yang dimainkan, walau sekali lagi mohon dicatat : album ini bebas dari komposisi Pat apapun.

Satu yang menarik dari hasil menyimak album ini adalah ketika kita bisa juga mendengar setiap tarikan nafas yang terdengar masuk dalam microphone …

Related Articles

3 Comments

  1. Aneh, di saya kok nggak ada Don’t Know Why, ya Mas … jadi penasaran sama itu. Apakah itu bonus track nya ? Saya search kok bonus tracknya bukan Don’t Know Why …

  2. Sdr. Tomita Prakoso, thanks for commenting 🙂

    memang Don’t Know Why itu adanya di album solo sebelumnya, One Quite Night. Di tulisan ini saya membandingkan cara dia memainkan karya tsb dengan sentuhan modulasi di akhir lagu… sedangkan And I Love Her yg aslinya sudah modulasi malah oleh Pat dimainkan secara lempeng… ;D

    demikian mudah2an dapat menjelaskan…

    terimakasih

    Bowie Djati

  3. Saya mau koreksi tulisan saya sendiri. Berkali-kali saya menulis One Quite Night. Maaf, maksudnya dan semestinya adalah One QUIET Night.
    Demikian 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker